[Oneshot] Seokjin with The Land Fortune

behind the wall copy

Pairing : (BTS) Seokjin, Taehyung ; (INFINITE) Sunggyu with (OC) Rin | Genre : Friendship, Fantasy, Adventure, Supranatural | Rating : PG – 15 | Lenght : Oneshoot

Scriptwriter : Hyun’s21

Disclaimer : don’t steal other people’s work! don’t be a plagiarism!

Note: Ini hasil kerja keras saya, karya saya yg di susun mati2an #plak 😀 jadi, tolong hargai.. meskipun rada absurd emang 😀 So, ga perlu banyak cincong.. monggo silahkan di resapi movie-nya. 😀


Seokjin masih memutar cangkir lattenya, masih menatap lekat cairan kental berwarna mocca itu. ada yang mengganjal di benaknya perihal gadis kemarin yang ia temui di gang himpitan toko-toko butik. Sejujurnya dia belum bisa terima apa yang ia lihat kemarin itu benar-benar nyata atau memang hanya delusi semata. Ya, Seokjin sangat ragu untuk menyatakan kalau dia itu makhluk halus yang kebetulan menampakan diri di sekitar sana. sialnya, Seokjin harus melihat postur tubuh gadis itu dari balik punggungnya.

Kalau di bilang takut, Seokjin juga bakal mengatakan hal yang sama. Namun, di sisi lain juga dia terheran-heran kenapa hantu bisa makan atau punya sinar laser di kedua matanya.

Astaga—hey, memang kau pikir dia makhluk apa?

“Tidak baik menganggurkan minuman seperti itu” suara lantang dari baliknya menyadarkan Seokjin. Lelaki itu lantas menaruh cangkir yang sama dan lekas duduk dengan kaki menyilang.

“Sepertinya kau sedang tidak baik hari ini?”

“Aku baik-baik saja, tapi—”

“Sepertinya aku harus memastikan sesuatu, hyung!” Seokjin lantas meninggalkan meja bundar yang sekarang di isi Sunggyu, kakaknya. Beberapa detik lalu ia sudah mendebam pintu kafe, teringat sesuatu yang harus di selesaikan. Maka sebatas persetujuan, Sunggyu hanya mengangguk. Seolah ia paham kondisi adiknya hari ini.

Pria pemilik bibir tebal ini rupanya masih penasaran perihal gadis misterius kemarin. Sampai di lokasi yang sama, ternyata ia tidaklah menemukan sesuatu yang mengesankan. Hanya saja ada sebuah kacamata ber-frame tipis namun mempunyai bulatan lensa yang besar. Ya, bisa jadi benda itu milik—

“Mencari apa, tuan?”

Biarkan dia bernapas sejenak. Oh ya, Seokjin butuh napas yang banyak— barang setelah mendengar suara lenting itu. di balik punggungnya pasti ada seseorang. ya, seseorang walau di benaknya terbesit mungkin itu gadis misterius kemarin—

“Tuan?”

Perlahan Seokjin menoleh dan..

“Kau mencari sesuatu? omong-omong, itu kacamata ku!”

Ia lantas menatap benda yang tengah di pegang erat Seokjin. Ya, sepertinya pria ini masih limbung perihal dugaanya.

Benar, rupanya gadis ini tidaklah seperti sosok yang ia khayalkan sejak kemarin. Toh, dia punya postur yang sama seperti manusia. Tidak melayang ataupun tidak memakai pakaian yang menakutkan. Tetapi, mungkin hanya sedikit rambut panjangnya yang mirip hantu jepang, Sodako. Lurus menjuntai dan berkilau.

Bagaimana-pun juga dia bukan hantu, dan sudah seharusnya Seokjin meloloskan napas lega. Sejenak ia menyodorkan benda berlensa tersebut sambil lalu, menggaruk tengkuknya tak gatal. “Maaf aku tidak tahu itu milikmu, maksudku—”

“Ya, aku tahu” bisa dilihat, senyumnya menarik suasana menjadi damai. Seokjin harap gadis ini mau memberikan kesempatan saling mengenal satu sama lain. Sudah terlanjur ‘kan, ia bertandang ke tempat itu nyatanya malah di pertemukan gadis macam dia. jadi, tidak mungkin pula Seokjin menyia-nyiakan momen ini.

“Sepertinya kamu bukan berasal dari daerah sini?”

“Oh? iya, aku tinggal disini!” ia membidik dinding bata merah yang hampir runtuh itu sebagai tempat tinggalnya. Sangat tidak masuk akal, memang. “Maksudmu di tempat ini? disini?” seokjin menunjuk bagian yang lebih ekstrim lagi, yaitu setumpuk boks kardus tak terpakai di sudut dinding tersebut.

“Bukan, aku tinggal di balik dinding ini..”

“Oh.. kau tinggal di apartemen ini? kenapa tidak bilang dari ta—”

“Bukan, Aku tinggal di suatu tempat yang tidak akan bisa di jangkau oleh siapa pun” Meski sempat di sambut tawa renyah dari Seokjin barusan, gadis itu berdecak tak peduli. lalu kemudian, membuka dinding itu dengan sebuah tarikan magnet dari telapak tanganya.

Apa? tarikan magnet—bisa membuka dinding itu? apa maksudnya?

“Tunggu, kau—“

“Sudah ku bilang ‘kan, aku tinggal disini!” ia lantas melangkah pada secercah cahaya yang menutupi dinding tersebut. sementara Seokjin, dia masih mematung tak percaya.

Di jaman modern seperti ini, bagaimana bisa ada manusia yang masih menggunakan kekuatan magis macam itu. bukankah di dunia ini memang tidak benar-benar nyata orang yang dapat mengendalikan kekuatan tersebut? setahu Seokjin, kalaupun nyata itu hanya di alam mimpinya sendiri. agaknya Seokjin terlalu banyak membaca novel fantasy tingkat tinggi, sehingga imajinasinya bermain terlalu jauh. Atau jangan–jangan ini memang mimpi belaka?

“Apa kau mau masuk? Aku tidak bisa membiarkan pintu ini terus terbuka.”

Seokjin masih belum sadar dari ketidak percayaanya, namun sedetik sebelum pintu itu mulai mengabur. Dia berteriak—

“Tunggu!!”

Dan, dalam tempat yang berbeda. Seokjin sudah berada di suatu alam yang sangat asing baginya. Semak belukar menjalar di mana-mana, juga jangan lupakan jejeran pohon pinus menembus langit hitam pekat. Tunggu, apa ini sudah malam? Bukankah tadi itu masih jam makan siang? Maksudku, di tempat tadi matahari masih setia menetap di langit untuk berbagi sinar kehidupan, bukan? Jadi, rupanya disini memiliki perbedaan waktu, benar begitu ‘kah?

“Apa disini sudah malam?”

“Ya, seperti yang kau lihat”

“Kenapa bisa?”

“Tentu saja bisa, ku ucapkan selamat datang di land fortune”

“Apa maksudmu land fortune?”

Sambil berjalan di atas tulang-belulang dedaunan kering, perlahan gadis yang membawa keranjang anyaman rotan itu mulai membuka layar cerita dan Seokjin tentu akan mendengarkan dengan seksama sambil langkahnya mengekori di belakang.

“Disini aku lah satu-satunya manusia yang tersisa di jaman penyihir” terkejut, tentu saja. Seokjin lantas menjungkit alisnya tak percaya. “Kau tahu, selama ini aku mengikuti polah hidup seperti kalian. Bahkan bekerja seperti manusia umumnya, namun—“

“Tetap saja, meski aku pergi keluar hanya untuk melakukan hal seperti itu. aku, tidak bisa meninggalkan tempat ini sendirian”.

“Kenapa?” seiring pertanyaan simpel itu terlontar, gadis tersebut berhenti merajut langkah. Dia menunduk, dibalik jubah kremnya.

“Makhluk sejenis diriku ini sudah hampir punah, dan hanya aku yang tersisa!”

Sebenarnya, Seokjin tidak mengerti kenapa dia berkata kalau dirinya bukan manusia. Jelas-jelas semua wujudnya itu nampak seperti manusia biasa, hanya saja dia memiliki kelebihan supernatural seperti tadi. “Lalu, kalau kau bukan manusia kau ini makhluk apa? dan.. kenapa kau hidup di jaman penyihir?”

“Dulu—“

“negeri ini adalah negeri yang damai. Semua orang mengharapkan kedamaian selamanya. Penyihir dan Manusia seperti kami hidup berdampingan satu sama lain. Akan tetapi, pada suatu masa.. hidup kami sebagai manusia terancam di punahkan oleh penyihir-penyihir sekutu. Karena, ratu pemilik negeri ini akan meninggalkan sejumlah fasilitas yang lumayan banyak untuk di nikmati kaum seperti kami, semisal danau besar yang terletak di kaki bukit sana. itu adalah telaga keberuntungan yang di incar para penyihir, seandainya penyihir tersebut sampai mengambil alih semua telaga tersebut. maka kaum seperti kami hancurlah, oleh kekuatanya. Ya, kami memiliki kemampuan terbatas. hanya bisa menyembuhkan orang-orang dari kesakitan. Sedang, mereka—Penyihir dengan bebasnya sering menyalah-gunakan keahlian mereka. Maka dari itu ratu Azure memutuskan untuk memulai peperangan dengan Penyihir, semua kaum sejenis kami mati perlahan. Sedang penyihir-penyihir itu mulai mengepung sang Ratu, namun.. dengan lantangnya ratu menghadapi ajalnya sebelum ia mengutuk tempat ini, mengucapkan mantera untuk membasmi kalangan penyihir demi melindungi negeri tersebut. dan akhirnya.. semua yang tersisa saat itu hanyalah puing-puing kayu bobrok angus terbakar serta hutan yang kacau”.

“Lalu, ada apa dengan dirimu? kenapa bisa hanya kau yang tersisa?”

Gadis itu menunduk lagi, sambil kepalanya menengadah ke atas langit hitam. “Seseorang menyelamatkanku, seseorang dari duniamu. Dia.. datang membawaku pergi dari tempat itu. entah kenapa dia bisa sampai mengetahui negeri kami, tapi yang jelas aku tertolong. Meski selama ini aku harus hidup sendirian di hutan ini setelah ia meninggal”

“Kenapa dia meninggal?”

“Saat itu dia terluka parah karena bisa ular yang bersarang di sendi kakinya, aku mencoba menyelamatkanya dengan kemampuanku. Namun, yang terjadi.. dia hanya memintaku untuk pergi dan tinggal di dunia nya. Lamat-lamat detak jantungnya mulai tak stabil, dan perlahan dia mati di hadapanku. Saat itu juga aku makin terpuruk, orang—yang menyelamatkan ku pun mati tanpa ku usahakan agar dia hidup”

Sejenak ia menarik napas beratnya, agar tak menandai kalau dirinya mulai pilu kala memutar masa itu lagi. lantas, Seokjin berucap kembali. “Itu ‘kan bukan salahmu. Lagipula, Dia menyuruhmu datang ke dunianya agar kau bisa hidup damai disana, mungkin itu bentuk kepedulianya terhadapmu”

“Tapi, omong-omong. dia itu laki-laki atau perempuan?” gadis itu cepat-cepat menatap Seokjin kaget, lalu menundukan kembali tengkuknya. Yang terlihat hanya wajah pucatnya yang bersemu kemerahan. “Kalau itu, dia— seorang pria” Seokjin mengangguk paham. “Apa kau menyukainya?” godanya sambil menggores senyum lebar.

“A-aku? Ti-tidak!” jelas-jelas dia menjawab dengan nada gelagapan seperti itu. toh, Seokjin sudah bisa menebak kalau gadis ini memang ‘pernah’ menyukai kesatria dari dunia Seokjin berada tersebut. ya, bagaimana lagi kalau-pun suka ‘kan orang tersebut sudah tiada di dunia ini.

“Oh,ya kita belum berkenalan, bukan?” sambil mengikis perjalanan, kedua manusia yang memiliki perbedaan tersebut kembali melanjutkan perkenalan yang sempat tertunda karena dongeng sesaat dari sang gadis.

Sampai, di tengah hutan berlanjut. Sinar bulan menembus celah pohon pinus, dan di berbagai dahan nya burung hantu bernyanyi tanpa henti sebagai iringan perjalanan yang panjang ini. meski berbeda waktu, Seokjin bisa menebak kalau dirinya dan Rin sudah berjalan hampir 2 jam lebih ke tengah hutan. Tak ada pemukiman juga tak ada sinar lampu-lampu seperti di kota umumnya. Gelap dan hanya di bantu pencahayaan dari lampu petromak yang di jinjing Rin sejak tadi. Sejujurnya Seokjin tidak tahu arah tujuan Rin ini kemana, ia hanya berinisiatif mengikuti saja barang kali memang arah ini tembusan ke kota tempat Seokjin tinggal.

Pasalnya mau bertanya di kondisi macam ini juga, Seokjin malah makin ketakutan karena suara lolongan serigala juga burung hantu itu saling bersahutan seakan mereka tengah mengintai dan berniat memangsa.

“Kau ketakutan?” akhirnya, setelah lama senyap. Rin kembali menyerukan suara merdunya sambil mengarahkan lampu tersebut pada Seokjin yang kini menjatuhkan lututnya, gusar.

“Apakah masih jauh, maksudku.. kota! Kota masih jauh?” napas tersengal karena ketakutan itu berembus bersama udara yang mengalun dingin. pun membuat senyum tipis dari bibir Rin kembali terukir.

“Aku tidak akan ke kota”

“Apa?”

“Sebentar lagi ‘kok, kau bisa menahanya ‘kan?” dengan sikap tenangnya, Rin mulai melanjutkan perjalanan yang katanya tinggal menghitung jengkal lagi itu. ya, apa boleh buat Seokjin harus percaya pada perkataan Rin, walau bukan kota yang jadi tujuanya. Setidaknya ia bermalam di sebuah gubuk tengah hutan sambil duduk di perapian dan meneguk secangkir cokelat hangat mungkin itu sudah cukup. Tetapi, apakah benar ada gubuk macam itu di tengah hutan seperti ini? toh, sedari tadi yang Seokjin tahu-kan tak ada pemukiman.

“Rin, apa disini kamu tidur di bawah daun-daun kering?”

“Tidak, tentu saja.. aku juga punya tempat tinggal yang layak ku tempati”

“Lalu, kalau kau benar mempunyai tempat tinggal macam itu dimana tem—” belum sempat Seokjin berlanjut ke kata berikutnya, kedua sorotnya sudah di suguhi pemandangan yang ia pikirkan sejak tadi.

Di sudut pohon besar itu, bukan.. lebih tepatnya memang itu rumah yang berada di perut batang pohon yang besar. Seokjin tidak mungkin salah dalam persepsinya tentang rumah tersebut, ini seperti yang di dongeng-dongeng dahulu. Yah… jadi, Rin tinggal di tempat seperti ini?

Tanpa pikir panjang lengan Rin membuai sebagai ajakan, tanda bahwa Seokjin sudah di persilahkan masuk ke dalam bangunan berkayu tersebut.

Jika di persentasikan, rumah itu seperti rumah yang ada di kartun winnie the pooh. Bedanya, sebelum masuk ke dalam batang pohon itu. Rin dan Seokjin harus mau menyeberangi sungai kecil yang mengalir di bebatuan sebagai pelintas. Maka, setelah menghitung batu – batu yang mereka seberangi. Seokjin bisa langsung masuk ke dalam sana. yah, ia di sambut cahaya lampu remang yang berada di teras luar.

“Apa hanya bangunan ini yang berdiri sendirian disini?”

“Ya, seperti yang kau lihat” Rin mengedik bahu sambil lalu membuka pintu perlahan. Sedang, Seokjin masih berdecak kagum atas semua yang telah ia lihat sejak tadi. Seakan ia benar-benar terjerembab masuk ke dunia dongeng tanpa habis.

“Ada perapian-nya juga?” seru Seokjin girang, segera duduk bersila dan mengibarkan telapak tanganya pada api kecil yang di bentuk oleh gesekan kayu. “Hangat nya—” lolosnya. setidaknya ia sekarang merasa hangat setelah melakukan perjalan yang ia kira tidak ada ujungnya itu.

Bahkan.. imajinasi yang ia lukis di pikiranya sejak di perjalanan tadi seakan kini benar-benar nyata. Mengesankan!

“Aku hanya memiliki ini” Rin menyodorkan segelas cokelat hangat tersebut lalu di sambut tangan Seokjin yang sudah gatal ingin mengguyurkan isi gelas itu pada kerongkonganya. “Ah—Ini hangat sekali!” pungkasnya.

Perlahan kedua kakinya terjulur ia bentangkan masih dekat perapian. Omong-omong, di sampingnya sudah ada selimut tebal yang terlipat rapi juga beraroma lavender. Ah-ternyata sudah disediakan Rin tanpa sepengetahuan Seokjin tadi.

“Apa aku harus bermalam disini?” ya, Seokjin keheranan kendati melihat selimut tersebut. “Ya, karena kurang lebih empat jam lagi matahari akan segera menyambutmu”

“Lalu setelah itu?”

“Terserah..”

Seokjin hanya mengangguk, lalu merogoh ponselnya dari dalam saku. “Apa disini tidak ada sinyal?” Rin menggeleng sebagai jawaban. Tentu saja, disini takkan ada sinyal atau barang elektronik canggih apapun. Karena.. memang, tempat ini berbeda dari masa dimana seokjin tinggal.

“Ah, ya— aku ingat” yah, setidaknya meski terlambat Seokjin tahu sekarang dia berada dimana.

“Tidurlah, aku akan keluar sebentar.”

Seokjin mengangguk, lalu menarik lipatan selimut itu agar bisa membentang menyelimutinya. Karena kantuk yang ia rasakan mulai berat, kedua matanya mulai terasa mengabur dan gelap. ditambah lagi disini hangat sehingga mau tidur dalam posisi bagaimana-pun tetaplah nyaman.

“Rin, kita mau kemana lagi?”

Setelah malam berlalu, rupanya di negeri seperti ini pagi sudah berani menunjukan wujudnya. Terik matahari yang sedari tadi menyilaukan pandangan Seokjin-pun mengantarkanya pada perjalanan kembali bersama rin. Mereka baru saja meninggalkan hutan, dan beralih mendaki perbukitan di arah barat.

Entah kenapa walaupun sedari tadi berjalan, kedua kaki Seokjin tak sedikitpun merasa pegal ataupun linu seperti kebanyakan orang setelah melakukan perjalanan jauh. Tidak, sedikitpun tidak! bahkan yang lebih anehnya lagi, meski haus. Lelaki itu merasa dirinya terus seperti di hujani air dingin yang menembus kerongkongan nya, padahal ‘kan sejak melakukan perjalanan tadi ia tidak lah menenggak setetes air apapun. Tetapi—kenapa terasa menyegarkan?

“Ini aneh..”

“Ada apa?”

“Terasa segar dan—” Rin lantas menyahut “Karena kita sudah dekat dengan telaga itu, makanya kau bisa merasa segar” Ya, Seokjin ber-oh ria sambil menilik ke penjuru perbukitan itu.

Alih-alih, ada suara yang mengejutkan kedua manusia itu. di balik bukit ini tepatnya, setelah turunan mungkin saja mereka bisa tahu asal suara itu berada.

“Kurasa hanya aku yang tersisa disini, tapi kenapa..” Rin mematuk bibirnya, lalu menghadap Seokjin skeptis. “Apa kamu yang menirukan suara-suara itu?” lantas, Seokjin cepat-cepat menggeleng. Ya, bagaimana bisa dia menirukan suara bass macam itu. persepsi yang dikira Rin, mungkin itu suara gemaan dari Jin. Tapi kalau di pikir-pikir juga, Seokjin benar.. dia sejak tadi hanya mengekori Rin dan kalaupun dia berteriak, gadis itu pasti orang yang pertama kali mendengarnya dengan peka. Jelas-jelas ‘kan itu suara orang lain selain mereka berdua.

Berarti…

“Hey kalian!!” suara itu makin mendekat dari bawah sana, maka Rin dan Seokjin-pun segera mempercepat langkah guna untuk mengetahui siapa pemilik suara bass itu.

Dan, dugaan Rin benar. Ada penghuni land fortune selain dia yang berwujud sama seperti dirinya. Jadi, selama ini ia tidaklah benar-benar tinggal sendirian..

Perlahan keduanya menapaki padang rumput berbunga yang melintang di antero rumput hijau itu. bila di lihat lebih cermat lagi, ada genangan seluas danau di sudut sana. berwarna hijau toska, mereka berkilau bak bintang di samudera langit malam. Tentu, Seokjin makin terpukau di tambah padang rumput bunga-bunga ini terlalu mubazir kalau di biarkan saja tanpa dinikmati oleh bidikan ponsel nya.

“Woah.. benar-benar, ini adalah surga tersembunyi!” maka ia segera merogoh ponselnya dan menekan tombol kamera. Bidikan cantik yang di abadikan—takkan ia lupakan, dan sepulangnya dari sini Seokjin berjanji akan menceritakan semua ini pada kakaknya-Sunggyu. ya, pasti dia tidak akan percaya dengan hal macam ini.

“Apa kau penghuni land fortune juga?” anak lelaki bersuara bass itu, ternyata sudah berhadapan dengan Rin dan Seokjin.

Lengan kananya melambai begitu saja sebagai pengucapan selamat datang.

“Aku taehyung”

“Rin dan ini..”

“Seokjin” sela Seokjin cepat.

“Sepertinya kau bukan penghuni dunia ini?”

“Benar, aku memang bukan berasal dari sini. Aku tinggal dibalik tempat ini, maksudku.. di sebuah perkotaan yang sangat jauh” Taehyung mengjungkit alis heran. Agaknya dia berpikir kenapa manusia macam Seokjin bisa terperangkap ke dunia ini.

“Apa kau yang membawanya?” Rin mengangguk. Lalu menjauh dari Taehyung untuk menjangkau telaga tersebut.

“Ku kira yang tersisa hanya aku seorang. tapi—” Taehyung terkekeh lalu berkata “Oh, itu hee.. ku kira juga hanya aku yang berada disini dengan binatang-binatang itu, tapi ternyata masih ada kau juga, ya?”

“Ya, aku memang kebanyakan menghabiskan aktivitasku  di kota. Paling-paling aku pulang kesini kalau aku sudah menyelesaikan pekerjaanku saja”

“Kau bekerja di dunia seperti itu, huh?” Taehyung mencondongkan tubuhnya di dekat Rin setelah berhasil menyusul derapnya. “Ya, dan aku menikmati itu semua” lalu lelaki itu hanya mengangguk kagum.

“Aku sangat ingin ke tempat seperti itu, menemui banyak orang seperti kita”

“Jika kau mau, setelah aku mengambil setetes telaga itu. aku akan kembali ke kota dengan anak itu” bidik Rin pada Seokjin yang tengah bermain bersama sejumlah kelinci dan rusa.

“Memang, apa yang akan kau lakukan dengan telaga itu?”

“Aku hanya mengambilnya untuk berjaga-jaga, kalau aku tidak sempat kesini lagi”

“Begitu rupanya..” Taehyung mengatup dagunya paham. “Terimakasih sudah menjaga tempat ini dengan baik” lelaki itu lagi-lagi mengembangkan senyum lebarnya lalu menggaruk bagian tengkuk yang tak gatal sebagai bukan permasalahan yang berat baginya untuk menjaga tempat ini agar tetap damai. “Ah.. bukan apa-apa, Rin”

“Kau juga sangat baik sekali sudah mau setia menjaga hutan itu”

“Ya, kita saling bekerja sama saja untuk melindungi tempat ini”

“Hey kalian.. rusa-rusa itu terus mengejarku, bagaimana ini!!!!

Suara bising kendaraan yang sempat di tinggal beberapa jam tadi kini terdengar kembali di telinga Seokjin. Tanpa sadar, ia berada di tempat yang sama setelah pertemuanya dengan Rin. Sebelumnya, ia tak sadarkan diri dan tengkurap di atas lesehan kardus bekas dekat tong sampah. Punggung lenganya juga meninggalkan goresan bekas luka masih segar, dan rasa-rasanya tadi yang ia alami itu memang bukan mimpi semata. Semuanya! Seokjin tahu.. dan jika melihat luka ini, ia teringat kala ia di kejar kawanan rusa itu. dia tak sengaja menendang sebuah batu, hingga menyebabkan-nya jatuh tergelincir. Dan disaat itu pula.. ternyata ia sudah ada disini.

Alih-alih maniknya mengedar ke red brick itu. runtuhannya makin bertambah. Entah karena sudah rimpuh atau apa, yang jelas bata-bata itu tidaklah kokoh lagi sejak ia meninggalkan tempat ini, sebenarnya tatanan bata-bata tersebut masih sedikit rapi walaupun memang agak rapuh, sih.

Ia pun lekas meninggalkan tempat itu, dan segera menghubungi sang kakak yang barang kali tengah mengkhawatirkan nya.

Masih berjalan di lintasan trotoar, Seokjin melupakan coat silvernya di tempat Rin berada. Jadi, agaknya ia kedinginan sampai harus menggosok kedua telapak tanganya pada pipi, walaupun tidak begitu menghangatkan, memang.

Usikan getar dari balik saku celana Jin akhirnya dapat di rogoh dengan baik dan entah sejak kapan juga benda persegi itu sekarang sudah menempel di telinga Seokjin.

Jelasnya, lelaki itu terus mengangguk selama melakukan obrolan kecil dengan orang di seberang sana. lalu sesampainya di halte, ia lekas naik pada bus hijau yang berhenti tepat di hadapan nya.

Masih suasana mengobrol dengan seseorang disana, Seokjin menyusuri tempat duduk ke pojok bus. ia duduk bersampingan dengan jendela, seraya maniknya berkilau menatap cahaya lampu-lampu gedung pencakar langit. Ya, saking antengnya ia sampai lupa harus menghentikan bus itu dimana.

Seokjin lantas berjalan ke depan dan menghentikan bus cepat.

Lantas setelah turun lalu—ia mengempaskan napas beratnya. Menyadari sejenak, rupanya sekarang baru jam sepuluh malam. ia tahu kalau di negeri itu sekarang baru sekitar pukul sepuluh siang.

“Rin—” Seokjin menggumam nama itu.

Lagi-lagi Seokjin tidak tahu kalau dirinya sudah berada di hamparan ranjang miliknya. Selimut putih yang menggumpalnya semalaman ternyata sudah menarik alam sadarnya agar tetap tertidur. Dan tanpa ia ketahui, suara gesekan alat dapur rupanya sudah mengusik gendang telinga Jin.

Ia-pun beranjak dan lekas menyeret gordain ke bilah sisi, sehingga akhirnya bisa menikmati cercah cahaya dari sang surya. Burung-burung juga hari ini terlihat ceria kendati melantunkan iramanya dengan baik dan tidak terlalu mengusik Seokjin.

Ya, pria itupun segera menghampiri meja saji. Ada aroma khas kopi buatan sang kakak. Seokjin tahu dirinya sekarang berada di dunia nyata. Dan iapun teringat sesuatu, ia lekas berlarian ke arah kamar sampai-sampai membuat Sunggyu sedikit menggelengkan kepalanya heran.

Sunggyu duduk berhadapan dengan hasil karya sarapan buatanya pagi ini, ia berdecak puas lalu lekas meraih roti panggang di atas piring rotan tersebut dan memakannya pelan, sebelum akhirnya Seokjin mengacaukan aksi Sunggyu menelan roti itu beberapa detik lalu.

“Hyung!!”

lantas.. bisakah kau menelan sejenak roti itu, Sunggyu? Sebelum kau benar-benar mati tersedak.

“Ada—apa, huh?” usai menenggak kopi, guna menenggelamkan sisa gigitan roti. Sunggyu menelengkan sorotnya pada Seokjin yang hanya menderetkan gigi-gigi putihnya, polos.

“Ada yang harus ku tunjukan padamu!!”

“Apa?”

Seokjin mendekatkan screen ponselnya.

“Lihat ini!!” sambil memegangi cangkir, Sunggyu memerhatikan gambar yang tertera di layar ponsel Jin.

Ya, ia tahu itu gambar padang bunga yang indah, dan danau yang sangat cantik. Tentu saja ia akan berkata itu bagus dan ingin kesana. Tetapi, tidak menutup kemungkinan kalau Sunggyu mengira bahwa gambar tersebut hanya lah karya editan dari pothoshop atau semacamnya.

Dan, saat ia mengatakan itu, pun Seokjin lekas cepat menyela “Aku sudah mengunjugi tempat ini, hyung!” sunggyu mengangguk paham, benar. Kalau adiknya tengah berhalusinasi akibat kebanyakan menghabiskan waktunya dikamar membaca novel macam itu.

“Ayo, lekas sarapan. kau harus segera ke kampus, Jin-a!”

“Tapi hyung, aku benar-benar sudah mengunjungi tempat ini! dan kau tahu, untuk sampai ke tempat ini aku harus menyusuri hutan yang menyeramkan. Satu lagi, rumah yang seperti ada di winnie the pooh itu ternyata memang benar-benar nyata, hyung! Itu sangat keren sampai aku har—” Ya, karena kau terlalu banyak mengoceh. Terpaksa Sunggyu menyumbat mulut cerewetmu itu dengan tumpukan roti panggang. Yah.. setidaknya walau Sunggyu menyukai novel, ia tidak akan benar-benar sampai seperti adiknya sekarang.

Seokjin kembali merenung, sudah beberapa hari ini ia tak menemukan tanda-tanda keberadaan Rin. Bahkan beberapa kali ia mencari kafe yang menjadi tempat kerjanya, atau seringnya lagi dia bertandang ke pojok himpitan gedung-gedung itu. Tetap saja, Jin.. tidaklah berhasil menemukanya.

Lalu suatu ketika, setelah usai menyelesaikan jam kuliahnya. Dengan iseng, ia ingin mencoba kembali ke tempat itu. barang kali kalau dia menunggunya terus, ia akan menemukan Rin lagi. tunggu, apa ini sebuah rindu? Ya, rindu pada Rin. “Ah tidak, aku.. hanya merindukan tempat itu, bukan—” gumam Seokjin terhenti manakala ia baru saja mendapati sosok yang ia tunggu sejak kemarin tak bertemu.

“Apa kabar, Jin?” sosok itu muncul tiba-tiba, membuat jantung Seokjin makin berpacu cepat. Selain kaget, dia juga merasa dirinya benar-benar aneh kala melihat parasnya yang terlihat mengembangkan sederet senyum tipis yang berbeda.

“Rin..” panggilnya.

“JIN!!!!” dan, suara bass itu?

“TAEHYUNG?” Jin mundur beberapa langkah dan berhasil terpojok di sudut dinding.

“Wah.. ini kotamu?” Taehyung lantas berlari menjurus ke ujung tempat berada lintasan kendaraan berjalan.

Agaknya dia terlalu girang lantaran keinginanya kini terkabulkan.

Setelah sekian lama..

Jin, bertemu dengan orang-orang itu lagi, bukan?

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik..”

“Bagaimana bisa kau ke tempat ini lagi?”

“Ada yang harus ku selesaikan disana bersama Taehyung, soal kau tiba-tiba sudah disini. Maaf.. waktu itu aku memang berniat akan segera membawamu pulang ke kota. Karena kalau berlama-lama aku khawatir kau tidak akan bisa kembali”

“Apa?”

“Ya.. karena aku dan Taehyung sudah memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, dan tinggal di kota seperti ini. menurutmu bukan hal yang buruk – ‘kan?”

“Apa?” beberapa kali Jin tersentak karena ucapan Rin. Kendati ia terlalu pokus memikirkan sesuatu selama obrolan itu berlangsung.

“Kau tidak senang kami tinggal disini, ya?”

“Apa? tentu saja aku senang, Rin. Tapi—“

“apa tidak apa kalau kalian meninggalkan tempat itu?”

“Kami sudah menyegelnya, dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Disini ‘kan tidak ada penyihir, Jin!” gurau Rin sambil punggung lenganya menutupi bagian bibirnya.

Baru kali ini, Jin melihat Rin tertawa renyah seperti itu. bahkan ia sendiri yang memulai gurauan tersebut. Jin benar-benar terpukau melihatnya..

Benar, sesuatu yang berbeda dari Rin, tidak.. bukan sebab kekuatan supernaturalnya. Tetapi—

“Astaga, makhluk itu menyembulkan asap yang tebal!! uhuk.. tolong aku, sepertinya mereka akan memangsaku!!!”

“TAEHYUNG?” mereka saling menatap satu sama lain, sebelum akhirnya bergegas lari menyelamatkan Taehyung.


Fin~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s