[Ficlet] LISTEN

listen copy

(VIXX) Kim Wonshik, Lee Hongbin with OC’s shin miyoon | Hurt/Comfort, Angst, Sad |PG-15 | Ficlet

Scriptwriter :: junlois

Cobalah bertanya, sesalmu akan segera melayang


            Dari atas gedung, kaki-kaki tanpa alas ini menginjak pembatas yang hangat di padu dingin musim semi. kim Wonshik, mengepal erat jemarinya, mengingat pahit rekaman sialan yang sudah berlalu beberapa hari kemarin. Akal sehatnya enggan meraba dunia luas ini lagi, lebih memilih berakhir terjun dari atap gedung belasan lantai tersebut.

Percakapan di buka kala Wonshik tengah merapikan kertas partitur dan laptop berharganya. Semua terjadi begitu saja, miyoon melangkah ragu mendekati wonshik. Tiba-tiba memeluknya erat serta menumpas air mata di balik punggung wonshik.

Ingin bertanya, tetapi biarkan saja sang gadis seperti itu. barang kali melegakan hati miyoon. Beberapa detik berlalu, wonshik memutar balik lalu memeluk miyoon saling pandang.

            “Kau bisa katakan sebab dirimu seperti ini..”

Lantas miyoon mendongak, basah akan linangan air mata.

            “Lepaskan aku, wonshik-a!” tutur Miyoon pelan namun terdengar jelas ke telinga wonshik. Membuat lelaki itu sedikit tak paham, mengernyit dahinya sesekali.

            “Maksudmu lepaskan pelukan ini, hm?”

            “Bukan..”

Berpaling dari tatapan sendu sang pria, sungguh. Miyoon tak begitu tahan demi menuntaskan kata menyesakkan ini.

            “Tinggalkan aku..”

            “Tinggalkan—maksudmu?”

            “Kita akhiri semua ini..”

Wonshik mencoba mengonfirmasi apa maksud kata Miyoon barusan, menghapus sedikit jengkal demi meraup bahu lembut sang gadis. Setidaknya, Wonshik masih berpikir kalau miyoon tengah butuh  candaan sesaat.

            “Leluconmu tidak lucu, miyoon-a!”

            “Itu bukan lelucon, Wonshik-a!”

            “Bohong..”

            “Maaf, Hongbin sudah menungguku..”

            “Apa?”

Wonshik baru saja tersambar petir, seluruh tubuhnya menegang dan terasa kaku juga linu. Terutama pada bagian dada—sesak sekali rasanya. Melihat kepergian miyoon tiba-tiba saja menghilang dari jarak pandangnya. Wonshik mencoba mengejar, tetapi apa daya..

Meski berhasil mengejar, meraih lengan sang gadis. Tetap saja. Miyoon sudah tak ingin lagi bersama Wonshik karena suatu alasan.

            “Jelaskan! Apa yang terjadi denganmu, huh?’

            “Aku lebih memilih Hongbin untuk ku nikahi, jadi..”

            “Tinggalkan aku sekarang juga!”

            “Tidak bisa, Miyoon-a!”

Wonshik tak begitu paham kenapa sang gadis memutuskan kata itu tiba-tiba, lalu mengatakan bahwa Hongbinlah yang pantas ia nikahi. Padahal, dalam kurun waktu satu bulan wonshik berencana mencetak undangan untuk pernikahan mereka. apa daya, miyoon faktanya tak begitu tertarik dengan apa yang akan wonshik lakukan.

Tidak sabaran ataukah, memang miyoon tak lagi menyukai Wonshik dan lebih tertarik pada hongbin. Pertanyaan itu terus bergulat di benak Wonshik setiap saat.

Sampai akhirnya, cup ramyun, kaleng bir, sampah snack sudah memuncak berserakan di sekitar kamar serta ruang tamu. Rumah minimalis Wonshik bukanlah tempat yang nyaman lagi untuk di tinggali, melainkan sudah bagaikan tempat sampah tak terawat.

Dalam ruang gelap, hanya di bantu sedikit cahaya dari pesawat televisi. Wonshik di bawah sofa beberapa kali membuka kaleng bir, meminumnya habis sampai mengguyur ke bawah dagu juga batas jakun-nya. Entahlah, Wonshik merasa dirinya seperti ini lebih baik.

Sampai suatu masa, panggilan dari hongbin menyadarkan aksi tak pentingnya. Wonshik bangkit, mengambil coat hitam pekatnya menuju garasi. Lalu menuntas pedal gas yang ia tarik dalam-dalam menuju lokasi yang sudah Hongbin beritahu.

Tiba disana, punggung seseorang yang kemarin ia coba lupakan tengah menunduk sesenggukan. Sedang, di sudut ruangan, Hongbin tak berusaha sedang menguatkan sang gadis. Lelaki itu hanya berdiri tegap dekat nakas layaknya pengawal di antara mereka berdua. Lalu apa saja yang ia lakukan sampai Miyoon yang di cintainya pun tak begitu ia pedulikan. Pikir Monshik.

            “Miyoon-a, dia datang..” tetapi, netra Wonshik kembali membulat kala hongbin beranjak dari posisinya dan membisikan sesuatu pada sang gadis secara intim.

Jujur, ada pertanyaan kenapa miyoon bisa sampai terduduk di kursi roda. sebenarnya apa yang terjadi? Pikir Wonshik.

            “Miyoon-a” sejak tiga hari menahan untuk tidak memanggil nama itu, hari ini detik ini Wonshik kembali memanggil nama Miyoon meski lidahnya terasa kaku juga tenggorokannya terasa berat, memang.

Gadis itu terlihat tak bergeming..

            “Coba hampiri dia dan berjongkoklah sebentar saja..” titah Hongbin lirih.

Wonshik perlahan berjalan menggapai Miyoon, lalu membiarkan sebelah dengkulnya menempel di ubin datar yang dingin. rasanya ada sensasi getaran tak terduga, kala Wonshik menatap lekat manik miyoon.

Pandangan Miyoon terus lurus meski kedua matanya tak berhenti mengaliri sebuah sungai kecil dari pelupuk. Wonshik benar-benar menyadari sesuatu..

            “Miyoon-a, aku disini..”

Masih tak bergeming..

            “Bisikan sesuatu padanya, Wonshik-a..” titah Hongbin sekian kali.

Wonshik menurut. bibirnya bergetar, napasnya begitu hangat kala ia memanggil nama Miyoon di dekat telinga sang gadis beberapa kali.

Tak tahan ketika gadis itu menoleh menyamping ke arah Wonshik berada, lalu menatapnya dengan tatapan kosong serta berusaha menuntaskan nama “Won..shik-a?” jujur saja, dada Wonshik rasanya begitu mati rasa. urat-urat di balik maniknya mencuat merah sampai tak bisa memikirkan apa-apa.

Sang gadis telah berubah sejak tiga hari lalu.. dan Wonshik begitu bodoh sampai tidak tahu berita macam ini.

            “Satu tahun lebih tepatnya Miyoon sudah menderita penyakit ini, hanya saja..” putus Hongbin di tengah kalimat lalu di tebas langsung wonshik “Hanya saja, aku tidak tahu kenapa dia bisa begini. Begitukah maksudmu?”

            “Sebelum bertambah parah, miyoon selalu mendengarkan lagu-lagu yang kau ciptakan. setiap ia hendak tidur.. ia hanya mau di temani oearphone berupa list lagu-lagu indahmu”

Mengepal erat, Wonshik tak bergeming menatap Miyoon. Selain air matanya cukup deras mengalir di perbatasan pipi. Kalimat rutuk pantas di sandangnya selama ini kala ia tak cukup peka tentang apa yang di alami sang gadis.

Penderitaanya tiga hari kemarin tak ada apa-apanya di banding Miyoon yang sudah berusaha melawan berbagai kanker apa saja yang sudah mengusik organ guna-nya setiap saat.

            “Jadi, itu alasan kau memilih meninggalkanku. Huh?”

            “Alasan kenapa ia begitu rapi menyimpan rahasianya adalah, ia tidak ingin kau merasakan luka cukup dalam. Apalagi, sampai merusak tiap bait lirik yang kau coba ciptakan setiap harinya. Miyoon tidak bisa memberitahumu secara gamblang..”

            “Ketahuilah, dia sangat mencintaimu lebih dari apapun. Wonshik-a!”

Selang beberapa minggu kemudian, Wonshik hanya memandangi foto manis miyoon di himpitan bunga-bunga tulip. Netra-nya tak bisa beranjak dari obyek disana, begitu juga tubuhnya yang mulai terasa kaku juga berat untuk meninggalkan miyoon sendirian disini.

Arah Wonshik memandang tak lagi sempurna, kosong dan begitu mengerikan. Penyesalan itu terus terngiang memenuhi isi kepala Wonshik, terus mengatakan kalau dirinya bodoh dan bodoh.

Sampai pada akhir dimana ia harus berpikir untuk menuntaskan dosanya selama ini kepada miyoon. Wonshik menanjaki anak tangga ke atas gedung bertingkat apartemennya. Seragam hitam masih melekat di tubuh atletisnya, enggan ia lepas sebelum ia berhasil menemui Miyoon.

Dan disinilah..

Kakinya berpijak, merasakan angin tak lagi hangat. malah semakin dingin menguliti wajah Wonshik perlahan. Kedua tangannya membentang, memejam mata lalu sejenak memanggil nama Miyoon beberapa kali dalam hitungan mundurnya dalam hati.

            “Hidup di dunia mulai membosankan, bukan begitu. Miyoon-a? Ah, bagaimana kalau kita jelajahi dunia lain. Itu pasti lebih menyenangkan”  melayang di udara. kata-kata Wonshik barusan adalah kalimat terakhir dimana Wonshik baru saja meninggalkan dunia ini.

Seiring suara benda jatuh di kaki gedung apartemen mengalihkan atensi penghuni. bersimbah darah pula dari seluruh permukaan kepala Wonshik yang di serap tanah aspal, bau anyir menyeruak serta jeritan para wanita yang melihatnya langsung, akhir tragis dari seorang kim Wonshik barusan.

Begitulah, sekiranya Wonshik telah menyusul kepergian Miyoon. adalah cara terbaiknya untuk menebus segala kesalahan terdahulu.

~Fin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s