[Ficlet] SAVIOUR

saviour copy

a ficlet by junlois

[B.A.P] Junhong/Zelo x [RV] Sooyoung/Joy

Fluff, AU, School life | General

“Aku. Bagaimana kalau aku yang benar-benar melakukannya?”

.

.

.

 

“Ah, Aku benci mereka!”

Begitu umpat Joy. Di tepi halte mematung sendiri sambil memeluk dua buku pinjaman dari perpustakaan sekolah. sedang rekannya yang lain telah lebih dulu menembus hujan menggunakan tas atau payung, sengaja di bawa dari rumah.

Sesal pun sontak melambung, teringat bahwa payungnya lupa di bawa. Kiranya memukul kepala dengan buku adalah kekerasan kecil guna membayar kelengahan Joy.

“Lupa lagi?” sekilas ia menoleh ke gigir, mendapati siapa si penyahut barusan.

“Apa? aku juga lupa bawa payung.” Sela Junhong, kembali menikmati cipratan hujan ke deretan tubuh tegaknya.

“Lalu?”

Kekeh kecil pun keluar seketika, dimana Junhong balik mengamati Joy yang gusar lantaran tak bisa pulang.

“Kaupikir hujan membuatmu mati?” Merasa tersinggung, Joy Cuma berdeham.

“Oh, kau ingat mantanmu ya?”

Joy bisa saja menendang bokong lelaki itu atau melakukan hal keras lainnya demi membalas sindiran tak lucu barusan. Kendati satu komplek, satu jalur bahkan samping-sampingan rumah. Joy tak peduli, mau dikata Junhong ini kadang mengaku cinta monyetnya semasa kecil atau entahlah apapun itu. tandas Joy takkan setuju bilamana Junhong sekali lagi berlaku demikian.

Kalau dipikir-pikir, Junhong itu nyaris setiap hari memetik bentak serta omelan dari mulut sinis Joy. Sebab ulah usilnya seperti menggoda atau bahkan menyinggung urusan percintaan Joy itu—sudah menjadi kebiasaan.

Hanya saja, Junhong tak juga kapok. lebih suka di beri kekerasan sentuh kulit dari pada harus melihat Joy—jauh dari jangkauannya.

 

“Hujannya pake formalin ya?” menyeru, Junhong berdalih mencari topik lain. upaya menghidupkan suasana kembali. Pun menengadah tangan ke bibir halte sekadar menampung beberapa tetes air hujan yang berlimpah dari atap.

Agaknya Joy sedikit tertarik, sejenak melenturkan dekap dua tangannya bermula di posisi dada. lantas menyeru,

“Siapa juga yang mau menyebar luas formalin ke gumpalan awan-awan itu? aneh sekali.”

“Aku. Bagaimana kalau aku yang benar-benar melakukannya?”

Mendadak Joy tertegun, memergoki iris Junhong begitu kuyu penuh ketulusan. Juga bibir. bibir Junhong bak dilapisi selai stroberi serta rasa manis, mengguggah. Lumrah lah suasana ini, begitu canggung dan—

“Joy?”

Gagal menyelami lebih dalam lagi manik Junhong,

Dimana Joy berkedip sadar, lamunannya terkelupas dikala Junhong menyingkap cepat hal-hal aneh yang sejemang memenuhi benaknya. Entah apa maksud pikiran Joy tadi, jelasnya ia kesulitan untuk menerjemahkannya ke bentuk perasaan.

 

“Jam lima? Hey—kau mau disini terus?”

Buru-buru Joy menggeleng, kemudian menatap opera hujan masih betah mengguyuri muka aspal. Kendaaraan memang berlalu lalang sejak tadi, juga ditambah tiap saat bus hilir mudik melewati mereka. namun, sepertinya Joy tak begitu menyadari. Pikirannya sibuk berpolemik dengan ambisi takut hujan. setelah itu muncul pula hal aneh yang merangsang sarafnya agar memperlembut sikap kepada Junhong. Joy—tak mengerti.

“Kau harus coba menembus hujan. lagi pula jarak ke pintu bus tidaklah jauh, Joy.”

Entah mengapa Joy seperti tak mendengar jelas penuturan Junhong barusan, telinganya bak mendenging, otaknya memutar kenangan lampau bersama Junhong, garis tipis senyumnya terus memenuhi benak dan—jantung, ada apa dengannya? Mengapa berdentum seperti tembakan meriam? Kenapa? Mengapa? Joy punya salah apa terhadap Junhong?

Tahu-tahu lelaki itu menarik cepat pergelangan Joy dan melindunginya dari ketukan hujan. menutupi ubun-ubun Joy dengan tas gendongnya, sementara ia sendiri rela kebasahan meski baru sebatas menghujam bahu lebarnya.

Mereka sempurna terlindungi di atas roda bus. Duduk berdua di pojok, sembari Junhong sibuk mengempas-empas tangan ke area bahunya sebab sedikit kuyup.

Tak menampik bahwa Joy baru saja terkesima atas perlakuannya, pun ia tak bisa beralih tatap menikmati wajah Junhong yang mengumpat kecil karena kebasahan.

“Maaf, ya.”

Junhong menjeda aksinya, menatap semburat Joy yang sepintas merunduk sedih.

Setahunya, Joy—itu pelit sekali soal kalimat Apologi. Dan juga, Joy tak pernah mau menunjukkan ekspresi semacam itu kepada Junhong kalau bukan masalah putus cintanya.

“Hey, Kau tidak sedang mabuk ‘kan?”

“Maaf karena selama ini aku jahat, maaf—karena selama ini aku banyak menelantarkan perasaanmu. Junhong-a, aku—“

Sekilas tepuk hangat mendarat di bahunya, Cuma berniat membiarkan Joy bersikap tenang. Ini bukan masalah apa-apa, pikir Junhong.

Tapi Joy sontak menangis, memukul kecil dada bidang tersebut selagi ia rela menenggelamkan diri tanpa tawaran dekap Junhong sendiri.

“Kautahu? Kau membuatku gila dalam sekejap!” kata Joy kesal, namun Junhong malah tersenyum manis.

“Aku tidak memaksa orang untuk menyukaiku, aku lebih suka mereka menyadari hal-hal indah tentang diriku untuk menyempurnakan rasa sukanya. Begitulah caraku memerlakukan perasaanmu, Joy.”

Maka Joy terlampau kagum, mendongak berkaca-kaca kembali. Pesisir maniknya di penuhi embun keharuan. Junhong—itu tipe laki-laki seperti apa? pikirnya.

“Tidak sia-sia ‘kan? akhirnya kamu takluk juga.”

“Hey—Jun!” sikut Joy menembus perut Junhong. Kata-katanya akan semakin asal kalau Joy berlama-lama meratapi sesalnya. Kepalanya juga pasti bakal lebih besar karena merasa menang.

Ah—lupakan.

 

Hujan telah berhenti menari. Tepat saat mereka turun dari tangga bus ke pijakan, lekas-lekas di sambut senyum oleh pelangi yang melengkung ke ujung selatan, Takjub.

Decak kagum membaur di telinga keduanya. Dan Junhong kurang betah bilamana tak bersentuhan dengan Joy. terlebih status mereka sekarang sudah jelas menjadi kekasih sejak beberapa menit yang lalu.

Tapi—Joy?

“Jangan nakal! Taruh tanganmu di saku celana!” kesempatan Junhong terempas jauh. Joy keburu menyadari ketika melihat tangan Junhong diam-diam merayap untuk meraup punggungnya agar lebih dekat.

“Tapi kita ‘kan pa-ca-ran?”

“No skinship!”

Lantas Joy jalan lebih dulu, meninggalkan kegelisahan Junhong yang gagal dalam aksinya. Hey—siapa sangka Joy tak tertawa sedikitpun?

Jelas sekali, jauh dari jarak Junhong sekarang. Ia mengulum senyum lebar-lebar serta merta ikut kembali mengenang momen tadi yang memenuhi terus isi otaknya.

Bagaimana—Junhong?

..

“Joy! Kita bahkan direstui hujan! kembalilah! Aku harus menyentuhmu!”

 

.

fin.

hn, JoyLo again. >_< pokoknya sukak mereka deh.. thanks to ‘rain’. inspirasinya selalu mencetak cerita buat orang-orang. ❤ ^_^

Iklan

5 thoughts on “[Ficlet] SAVIOUR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s