[Ficlet] Balon Harapan

balon harapan copy

a ficlet by junlois

Zelo x Lois

 General | romance/slice of life

“Aku ingin Lois menjadi gadisku.”

.

.

.

            “Datanglah kemari.”

Zelo hanya mendengarnya sekilas, benar-benar sekilas. Kala itu Lois begitu gundah seakan ia tak bisa memilah mana yang akan ia tempuh. Mereka hanya berjanji di tempat biasa bertemu bila sore tiba. Adalah, pesisir laut yang dipagar kuat oleh kayu-kayu lembab namun berlubang.

Waktu berputar ketika mereka masih berseragam. dimana sore di jam enam pulang sekolah, mereka selalu sempatkan untuk meninjau senja di balik mega yang turun ke muka laut. Satu-satunya media, agar mereka bisa meneriakkan segala beban yang bernama kehidupan.

Merasa puas, tubuh pegalnya akan terempas ringan ke tikar ladang rerumputan yang meluas lebar ke penjuru arah. Biasa, mereka anggap hal biasa bilamana kota kecilnya memiliki segudang pemandangan semacam ini. meski demikian, tak sedikitpun kebosanan mampir di benak masing-masing. Baik Zelo maupun Lois, tentu akan berjanji senantiasa menghabiskan waktunya di tempat itu.

Yeah, berjanji…

Namun, bagaimana bila salah satunya harus bertemu secara mendadak. Pun Zelo harus repot-repot membawa beberapa tangkai balon kepada Lois diujung ladang tersebut. Entahlah, saat itu Zelo terlihat semangat mengayuh sepeda dari toko kelontong milik Ayahnya ke tempat biasa mereka bertemu.

Begitu sampai disana. napas tesengal, pun senyum Zelo terpatri kagum mengamati punggung Lois yang berbalut dress putih renda tengah berkibar-kibar oleh tiupan angin dari arah selatan. Alih-alih Zelo ingin segera berlari, akan tetapi kaki panjangnya seolah tercekat manakala Lois berbalik sarat  pilu bernama beban. Dia—terlihat meneteskan satu bulir embun.

Lantas Zelo berlari, benar-benar berlari guna tanyakan sebab Lois demikian. Tak disangka, Lois pun berjalan laun menghampiri Zelo yang mulai mendekat.

Ia peluk sahabatnya dengan harap bahwa Zelo mampu memberi sedikit kekuatan.

            “Katakan, ada apa?”

Lois menangis, nyaris serak tak bersuara kendati ia sekuatnya menjawab tanya Zelo. dan berkata,

            “Waktu ku tak banyak, Zel.”

Sejak saat itulah, Zelo tak pernah absen ke tempat biasa mereka bertemu.

Kadang kala ia membawa setangkai balon guna melepasnya dengan dalih Lois akan kembali.

Tapi itu sudah berlangsung tiga tahun, tak ada kemajuan kendati Zelo melakukan ritual macam itu. Lois masih sama, masih jauh dari pandangnya.

Tak ada akses untuk bertanya apakah dia baik-baik saja atau—

            “Ah, aku menghayal lagi.”

Ia sesap bibir tipisnya dan berbalik dari jurang tersebut. sayup rasa putus asa mulai mendesak, mulai berbisik bahwa ia harus melupakan Lois yang telah lama meninggalkannya.

Jika ditinjau ulang, ladang rumput ini memang tak pernah berubah. Namun mengapa hubungannya dengan Lois tak seperti ladang rumput ini? Zelo frustasi, ia tengadah langit cerah yang memboyong awan lain menjadi gumpalan. Disana ia bisa lihat Lois tengah tersenyum menunggu Zelo datang ke tempatnya.

Apa? datang ke tempatnya?

Lantas ia berlari, alih-alih berlari dikeramaian kota yang sangat asing baginya. Kota dimana orang-orang mayoritas bersurai pirang berada, dan sibuk berceloteh dengan gaya bahasa mereka yang sesungguhnya Zelo sedikit paham.

Paris, Zelo telah sampai disana barang berhasil pecahkan tabungan Babinya.

Betapa girangnya Zelo hingga tak memedulikan gurat sinis orang-orang disana yang tak sengaja terdorong olehnya lantaran buru-buru mencari alamat kediaman sang gadis yang diberikan Ibu Lois jauh-jauh hari.

Sesekali Zelo gunakan sedikit keahliannya untuk bertanya perihal alamat tersebut. hasilnya tak sia-sia, ia bisa berjalan ke arah selatan objek dimana tower setinggi 1.603 kaki tersebut berdiri kokoh ditempatnya. Yeah, dia bilang alamat Lois terletak tak jauh dari menara Eiffel.

Tapi ada apa dengan Zelo? mengapa ia malah memilih diam di kaki menara tersebut.

Tidak, ia tak hanya sekadar diam. Ada sosok yang ia amati tengah memegang balon lengkap balutan dress renda berwarna pastel, berbeda dari sebelumnya. Zelo kenal batul siapa gerangan.

Maka ia berjalan selaun mungkin guna memberi sedikit kejutan ringan berupa,

            “Apa kabar, Lois-a?”

Kontan gadis itu berbalik cepat begitu mendengar suara berat Zelo menginterupsi kegiatan kecilnya yang hendak terbangkan tiga tangkai balon.

            “Ada apa dengan ekspresimu, hm?”

Lois tak kuasa, benar-benar tak kuasa membekap mulutnya guna tak berteriak sekeras mungkin. ditambah bulir-bulir embunnya mulai menyeruak ke sudut mata, Lois terlampau bahagia.

Apa yang ditunggu?!

Zelo meraih punggungnya dan lekas mendekap hangat gadis itu upaya meredamkan segala kata rindu yang tak pernah habis selama tiga tahun terakhir ini.

Tepat hari ini, harapannya terkabul. lantas Lois menangkup pipi tambun Zelo dengan dua tangan lentiknya.

Kesan hangat terasa. dia—cuma bisa tersenyum mengamati wajah Lois tak pernah berubah dan tetap manis kendati gadis itu memang benar-benar telah beranjak dewasa.

            “Aku masih punya tiga harapan, bagaimana kalau kamu ambil salah satunya.”

Tawar Lois, menyodorkan satu tangkai balon tersebut kepada Zelo yang masih tak percaya telah bertatap muka dengan gadisnya.

Gadisnya?

            “Well, ku ambil satu. Boleh ‘kan dengan suara terbuka?”

Lois mengedik bahu, selagi dirinya bersiap-siap membuat harapan.

            “Yeah, aku ingin Lois menjadi gadisku.”

rupanya Zelo telah sampai pada batasnya, di ungkapkan secara gamblang lengkap masih menutup mata dan berputar menghadap Lois penuh gurat keharuan. Ia pegang kedua tangannya, membuka dua manik tersebut lantas berujar—

            “Aku menemukannya lebih dulu. maksudku, jawaban itu—soal aku dan kamu.”

Lois tahu bahwa Zelo bukan lelaki yang pandai merayu, juga bukan seperti lelaki pembual kebanyakan. Dia—bisa menilai sepenuhnya kendati perasaan itu murni tulus bermuara di benaknya. kalau tidak, untuk apa dia jauh-jauh datang dari Seoul untuk menjangkaunya ke tempat ini. Itu pun sudah menjadi bahan pembuktian kuat. Dan Lois tak punya banyak waktu untuk bertele-tele menelantarkan jawaban hatinya.

            “Kamu salah Zel. Jawaban itu sudah ku temukan lebih dulu saat kita duduk bersama di tingkat dua.”

Dua alis terjungkit, alih-alih Zelo memperdalam tatapnya guna pastikan.

            “Seriously?”

Lois mengangguk, lalu memegang balik tangan Zelo hingga menjadi genggaman erat.

            “Yeah karena itu kisah lama, sekarang—beda lembaran. Kamu dan aku tahu masing-masing hati kita. jadi, tidak ada kata lebih dulu lagi untuk menilai sejauh mana perasaan kita muncul ke permukaan.”


.

fin.

n/a : aku suka foto zelo yang itu 😀 makannya aku bikin jadi fic.. 😀 kebetulan aja terinspirasi.. ^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s