WHO.I.AM #1

WHO I AM copy

project by junlois

prev :  TEASER

3

2

1

START!

-0-


#1 : Birthday Gifts

 

Kasih orangtua tak pernah larut. Begitu kata guru Taehyung di depan sana. ia tutup buku etika tersebut lantas tersenyum mengamati anak muridnya terlampau bosan menunggu lonceng pulang tiba.

Belum genap satu menit, lonceng lekas terdengar. Para murid menggendong cepat tasnya masing-masing. Tak tertinggal, aksi dorong ingin cepat-cepat keluar pun menjadi pemandangan biasa dimata Seokjin.

Sedikit demi sedikit mereka berkurang, tersisa Taehyung seorang di pojok masih berupaya kenakan tas gendongnya.

          “Ayo pulang, nanti keburu hujan!” titah Seokjin.

Anak itu hanya mengangguk lemah bagai jawab, berjalan cukup santai sembari tatap masih fokus ke depan. Menurut Seokjin sendiri, Taehyung butuh teman mengobrol. Ia guru etika, jadi cukup paham mengapa Taehyung selalu demikian.

          “Mau ku antar?”

Tahu-tahu Seokjin telah sejajar dengan Taehyung, lengkap membawa atribut mengajarnya. Oh, Taehyung juga nampak tak suka. Kendati dia tetap bungkam dan malah berjalan lebih cepat.

Seokjin tak banyak berbuat ketika benaknya berbisik; tak perlu dengan paksaan. Mungkin Taehyung memang tak butuh siapapun, kendati memang orang-orang di sekitarnya menjauhi ia tanpa sebab. Jadi Seokjin tetap akan mengamati Taehyung dari kejauhan meski ia tak bisa berdekatan dengan anak itu.

Guntur mulai bersahutan di berbagai arah, langit juga mulai menghitam bagai malam. tak luput orang-orang pun mulai menghilang dari pantauan Taehyung di tengah lapang. Semua telah berlindung masuk ke dalam kendaraan yang telah orang tuanya sediakan. Tak ada yang berjalan seperti Taehyung karena hujan sebentar lagi tiba. Mereka banyak bergegas, sedangkan dirinya masih santai dan acuh biarpun hujan turun semestinya.

Gerimis sedikit demi sedikit menandai basah seragam Taehyung yang terlampau menguning. Rambut hitam kacaunya mulai di aliri embun dari atas.

Taehyung tak ingin membasahi seragamnya di hari senin pertama minggu ini. ada alasan mengapa ia demikian, katakan saja Ibunya marah besar kalau Taehyung pulang dengan basah kuyup.

Ia Cuma punya satu seragam, ibunya tak mau tahu kalau Taehyung tak sekolah. maka dari itu dia butuh tempat berteduh. Pun tak jauh dari pijakan, Taehyung lekas berlari kilat menuju halte.

Disini aman, kemamnya dalam hati. kaki diangkat lantas ditekuk guna memenuhi posisi nyaman Taehyung seperti apa. tak ada yang bisa ia lakukan selain melamun sembari memeluk kedua dengkul.

Hanya ada dia seorang diantara kendaraan hilir mudik melewatinya. Langit pekat jadi pemandangan takjub manakala benak terisi kesepian.

Semburat wajah pun tak dapat lukis sebuah senyum, jadi ia pikir dengan menengadah ke atas langit semuanya akan lebih baik. tak peduli bagaimana bentuk langit berubah-ubah, Taehyung tetap terhibur meski ia terkurung dalam kehinaan.

          “Kau suka langit ya?”

Tiba-tiba suara berat itu muncul. seseorang di gigir berupaya satu jajar dengan Taehyung; mengantongi dua tangan di dalam saku coat hitamnya. Sesekali ia tersenyum miring, mengayun-ayun kaki yang tersilang dibawah bangku halte. Sayangnya Taehyung bukan tipe orang yang mudah terusik orang lain. Ia akan tetap sibuk mengamati dunianya sendiri tanpa mau menoleh atau bertanya siapa gerangan.

          “Hari ini hari ulang tahunmu ‘kan?”

Bahu Taehyung menurun, tengkuk menunduk sambil masih bungkam tak berniat menjawab.

          “Punya sesuatu ‘tidak untuk dirayakan?”

Pertama-kalinya-Taehyung menoleh lantaran kaget mengapa orang asing sepertinya tiba-tiba bertanya demikian.

          “Oh, maksudku ini!” manik fokus kepada tangan si pria serba hitam itu. alih-alih ia punya satu buah cupcake bertoping chocochips warna-warni.

Netra berbinar, Taehyung tak pernah melihat cupcake semenarik itu ditangan si pria—

          “Daehyun! namaku Jung Daehyun.” Tutur lelaki itu sembari tersenyum sarat akan makna.

          “Ambil ini, dan makanlah!”

Tak butuh banyak waktu, Taehyung raih lantas melahapnya antusias. Ia terlihat senang dan tak malu menunjukkan pipi penuhnya kepada si pria berjubah hitam itu. Respon sebaliknya berupa kekeh pula tangan mengelus sayang surai Taehyung. Yeah, Daehyun amati rautnya yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Sangat berbeda ketika ia merenung kesepian hingga orang-orang menyebutnya Autistik. Padahal, Taehyung terlahir normal. Tak ada sedikitpun kelainan pada fisiknya. Salahkan saja pihak keluarga yang kurang baik dalam mengurus Taehyung, sampai pada dimana ia menjadi anak berkelainan karena faktor kekerasan tersebut.

Daehyun sendiri dari tempat jauh datang untuk membantu, datang untuk mengubah Taehyung menjadi seseorang yang tak mudah dijatuhkan.

Seusai Taehyung mengunyah habis Cake tersebut. Daehyun—hilang.

Kemana? Entahlah. tak ada yang tahu persis bagaimana lelaki itu bisa lenyap. Yang jelas, Taehyung tiba-tiba mual dan memuntahkan cairan hitam. Mata berputar-putar seolah tengah menetralkan pandang. Bahkan suara? ia berusaha sekuat mungkin untuk membunyikan sesuatu berupa—

          “Ng, Ah—“

Hanya baru sebatas itu, Taehyung butuh deham beberapa kali untuk menyempurnakan suara yang tak pernah ia keluarkan selama ini. dan—

          “Aku Kim Taehyung.”

—itu berhasil.

Bergegas ia rapikan rambut lalu beranjak menggendong tasnya kembali, Taehyung tembus hujan itu sambil berlari-lari senang. Lihat! Dia basah kuyup. Entah apa yang akan dilakukan ibunya bilamana ia tahu Taehyung melanggar aturan.

Taehyung akan mati! Tidak. sebelumnya ia meregangkan otot jemari dahulu di beranda rumah kecil mereka. Yeah, penampilan Taehyung berubah drastis. Seragam dikeluarkan, tas digendong sebelah tangan, lalu rambut diacak namun terlihat rapi. Dia—tampak seperti anak nakal.

Tak kenal siapa gerangan, sang ibu malah kembali masuk selagi tangan mengais rotan isi gumpalan kue beras yang ia buat.

Taehyung menyeru,

          “Kau—ibuku ‘kan?”

Derap terjeda, sang ibu lekas menoleh kaget; Membola manik mengamati penampilan Taehyung dari bawah hingga pangkal ubunnya. Benar sekali bahwa dia anak sulungnya. Basah kuyup namun terlihat—

          “Apa yang kaulakukan hah?”

Ibu marah, dua iris mencuat urat. Keranjang rotan itu ia lempar entah kemana. Menghampiri Taehyung dan lekas meraih dua telinganya. Akan-tetapi-Taehyung lebih dulu menangkas, Mengeratkan genggam pada lengan nyaris kurus itu sembari tersenyum menang.

          “Bagaimana, Bu?”

Tak percaya, sang ibu sekuat mungkin melepas genggam Taehyung dari lengannya.

          “Kau bukan Taehyung!” semburnya. Tubuh meronta, manik membola bukan main. Ia benar-benar murka tak kendali.

          “Jika kau pernah melahirkanku, kau—tidak akan bertindak sekasar ini bukan?”

Diam tak bergeming, sang ibu menjatuhkan lutut. Pula Taehyung masuk ke dalam barang sebentar hanya untuk mengambil beberapa helai pakaian utuhnya.

Sebelum berderap keluar, Taehyung coba berjongkok. Menyamai posisi sang ibu sambil bertatap miris pun berkata—

          “Kalian menyiksaku, sama saja membunuhku. Okay—Aku akan pergi, jangan khawatir. karena kalian bukan orangtua ku, ‘kan?”

Membelalak kaget, tak banyak yang bisa ia lakukan selain tercengang mendengar perkataan Taehyung barusan. Sang ibu histeris menjatuhkan tetes embun berbentuk sesal. Sayang sekali untuk mencegah kepergiannya begitu sulit, lantaran mengingat kebodohan dirinya terlampau tak bisa dimaafkan lagi. semakin jauh punggung Taehyung menghilang dari pandang. Wanita itu Cuma melambai guna memanggil-manggil namanya dan mengungkapkan penyesalan berarti dalam benak.

Tapi Taehyung memang tak kunjung berbalik. Keputusan meninggalkan orang-orang yang berbuat buruk padanya adalah pilihan tepat, pilihan yang akan membuat ia menemukan suatu perubahan baik. Taehyung bukan anak idiot lagi, ia punya segudang ilmu untuk dibuktikan kepada seluruh dunia.

Ia bersumpah tak ada seorangpun yang berani membuatnya jadi pecundang lagi. lemah bukan gayanya seperti dulu, dia lelah. biarkan ia berubah jadi kupu-kupu yang cantik sebisanya terbang kemanapun ia mau. Dengan sayap yang indah pula dengan ketertarikan memesona. Begitu Taehyung sekarang.

          “Taehyung-a?”

Langkah tercekat setelah gadis itu lewat berpapasan darinya. Seruan itu pula membuat ia sigap menoleh dan bangga tunjukkan seulas senyum.

          “Ya?”

          “Kau Taehyung ‘kan?” tanya Jisun, diketahui teman satu kelasnya.

          “Yeup, Aku Taehyung si idiot.” Kiranya tutur Taehyung sengaja menyinggung diri sendiri.

          “K-kau bicara… maksudku,”

          “Aku memang bisa bicara, Jisun-a” interupsi Taehyung lamat-lamat membentuk seringai.

          “Sampai bertemu besok, Bae Jisun.”

Putar balik, Taehyung lambaikan tangan dari belakang. Seolah-olah ia tengah tertawa kecil karena berhasil membuat Jisun melongo tak percaya.

Baru dua ‘kan? masih banyak orang-orang yang harus kenal siapa Taehyung sebenarnya.

.

.

.

          Seluruh murid berlari riuh ke arah mading kala mendapat berita bahwa penjadwalan ujian akhir sekolah akan segera di percepat. Terdengar banyak keluhan dari mereka, pun tak sedikit juga bersorak ria. Beberapa diantaranya anak peringkat umum disekolah. Hasil belajarnya akan jadi gemilang saat mereka menduduki kemajuan peringkat tahun ini. Ada kompetisi, pun ada juga kata menjatuhkan yang tak kunjung lenyap, entah dari pihak murid atau bahkan para orangtua yang berusaha menyuap si guru materi. Jelasnya ketika pengumuman berlangsung, mereka akan tertawa dengan mulut lebar meneriaki nama sang anak sekeras-kerasnya. Tak peduli bagaimana bentuk bangga itu seperti apa, mereka Cuma tahu: uang bisa membeli segalanya.

Yeah, Tentu Taehyung jauh lebih paham mengenai hal demikian. Dulu boleh dikatakan ia bodoh dan kumal, tapi sekarang—kalian bisa apa?

Ketika para gadis itu hanya bisa teriak berupa, “ITU TAEHYUNG!” maka beberapa murid pun akan berhamburan keluar kelas. meninjau Taehyung yang tengah berjalan melewati koridor dengan gaya anak sekolah modern pada umumnya.

Kepala menyembul dari jendela, bingkai pintu—sesak oleh murid lain yang tak mau kalah ingin melihat si Taehyung sekarang. Oh, butuh waktu banyak untuk meraup napas lalu membuangnya beberapa kali, pun butuh bermenit-menit untuk mengedip mata sampai perih demi melihat penampilan Taehyung—yang astaga!

          “TAMPAN!”

“COOL!”

Berwarna, kesan mereka hampir berupa pujian semua. Dan Taehyung sendiri sudah bisa menebaknya dari awal.

Terlebih ketika salah satu guru berpapasan dengannya, tertegun lah guru itu hampir-hampir menabrak murid lain. Taehyung benar nyaris seperti aktor cilik di drama. Bentuk rambut yang dulu seperti mangkuk pecah, kini telah berubah haluan jadi rambut klimis menampilkan dahi datarnya. Seragam kumal yang dulu penuh corak noda pula warna menguning, sekarang bak seragam acara pernikahan—putih bersih. Dan terakhir kulit! Kulit yang tadinya gelap nan bau, sekarang lihat lagi! dia wangi dan bersih menyegarkan. Wow, sekejap Taehyung jadi topik perbincangan seantero gedung itu. termasuk tukang bersih-bersih, mereka beberapa kali bergeleng ria tak percaya bahwa itu—Taehyung anak idiot yang sering memaksa untuk bantu mereka bersihkan toilet. Sekarang, mana mau Taehyung melakukan hal jorok semacam itu.

Tapi—tidak, sebelum ia masuk kedalam kelas. sempat ia mampir ke toilet sekadar buang air kecil. Para buruh pembersih itu mencoba ambil cakap dengannya. Barang kali Taehyung tak ubah baiknya seperti dulu.

Dan—kenyataanya! Taehyung tetap ramah. Dia bilang akan bersihkan toilet dahulu sebelum dirinya masuk kelas. sungguh terharu, pria berkepala tiga itu berbinar matanya melihat anak muda seperti Taehyung masih mau melakukan pekerjaan jorok semacam ini.

Sebenarnya tak ada yang berubah dari kebaikan Taehyung, hanya saja apa yang menjadi konsumsi jelek dimata orang banyak itulah yang berubah pesat dalam kurun waktu belasan jam. Semua itu berkat—

          “Sedang apa disini? ayo—masuk kelas!”

Salah satu guru sejarah lekas-lekas menggiring Taehyung masuk kelas. Dan Taehyung Cuma senyum simpul sekadar beri tanggap. Dalam hati, pria berkacamata itu bergosip ria dengan otak; mengapa Taehyung yang dulunya punya masalah psikis—bisa berubah sekilat itu? entahlah, kedik bahu Himchan seraya lanjut berderap barang tatapnya masih fokus melihat Taehyung berlenggang penuh wibawa.

Kelaspun berlangsung hening manakala Himchan terus terang membagikan satu persatu lembar ulangan mendadak. Tentu saja banyak pipi menggembung pula embus napas berupa keluh. Terkecuali untuk yang gemar belajar ‘ini’ tak seberapa. Mereka akan dengan mudahnya menggores pena ke muka soal lengkap sinyal materi yang telah dipelajari selama ini.

Tapi bagaimana Taehyung? Oh, dia malah telungkup menghadap Jisun sambil tersenyum sendirian. Bahkan soal nya masih utuh, belum tersentuh sedikitpun goresan hitam dari pena.

          “Ada apa? biasanya kamu kerjakan meski tak tahu jawabannya. Sekarang apa lagi? kamu mau kosongkan soal itu, huh?” bisik Jisun diseberang, masih fokus membaca soal kedua.

          “Akan ku kerjakan, tapi setelah kalian bilang—Akhirnya~”

Sontak Jisun menoleh, melirik Taehyung setengah terkekeh dibalik bekap. Tapi dia bukan Tae-hyu-ng, pikir Jisun. Yeah, Taehyung yang ia kenal tak seperti itu; banyak bersepele dan bergaya macam anak nakal kebanyakan. Tidak—Jisun lebih suka dia yang dulu. meski banyak sedirian dan tak banyak bicara, pula nilainya beruntun jelek. Tapi Taehyung yang dulu jelas lebih ramah kepada orang-orang yang menurutnya baik, pula tak menyepelekan apa kata perintah orang. Kendati memang dia agak sedikit berkelainan dalam hal sosial. Salah satu faktor, mungkin karena ia merasa bukan apa-apa diantara mereka. Jisun tak menjauhi Taehyung sebenarnya, hanya saja Taehyung sendiri yang kerap menghindarinya. Itulah mengapa Taehyung selalu beranggapan bahwa dirinya Cuma hidup seorang diri dan takdir harus membuat ia jadi pecundang berlingkup derita. Autistik bahkan disandangnya.

Kini Jisun paham benar, Apa yang ada didalam tubuh lelaki itu bukanlah Taehyung. ada orang lain tengah mengambil alih tubuhnya. Apa perlu ia bertanya soal kejiwaan semacam ini lagi kepada sang ayah—yang notabenenya psikiater? Tidak, Jisun sudah berulang kali bertanya soal Taehyung. Ayahnya lelah mendengar sang puteri memberi topik anak itu dari sekian kalinya. banyak saran yang telah diberikan sang ayah, tapi Jisun selalu gagal dalam misinya.

Saat dimana kemarin sore ia akan memberikan sekotak macaron kepada Taehyung. anak itu malah pergi dan masih tak peduli kendati penampilannya memang sempat membuat Jisun tercengang lama.

Ternyata dari arti jawaban kemarin adalah ini, ini Taehyung yang banyak berbeda dari biasanya. dalam kurun waktu satu jam sudah populer, sudah banyak jadi perbincangan orang-orang.

Mana bisa Jisun tak curiga, ia termasuk orang yang sering memerhatikan Taehyung setiap hari. Untuk membenarkan terkanya, Ia masih perlu tambahan bukti lain.

          “Akhirnya,” seru satu murid di baris kedua. Rentangkan tangan ke atas, tanda bahwa ia baru saja menyelesaikan ulangan tersebut.

Maka Jisun lekas menyusul dan membuang sejenak pikiran aneh yang asik berpolemik di otaknya. Alih-alih manik tertoleh ke arah Taehyung, Jisun makin tak habis pikir. Anak itu terlihat pulas, tidur diatas lembar soalnya sendiri. bukan kah ia tahu bagaimana Himchan ketika melihat muridnya tertidur dikelas saat jam pelajaran? Guru itu paling tidak suka, bahkan sangat benci dan beralih akan memberi murid itu puluhan kali berputar di lapang meski cuaca dingin seperti ini. Ah—entah apapun cuacanya, Himchan tak peduli.

Bagaimana kalau Himchan tak jadi murka ketika mendapati Taehyung kini tengah menyodorkan lembar ulangan itu, lengkap senyum lebar, bermata sipit melengkung. Oh, Himchan tak bisa menolak, tak bisa pula mengadili begitu saja. Satu-satunya pilihan hanya mengambil kertas tersebut lantas memeriksanya barang sececap. Hey—tapi, manik Himchan benar membola, juga mulut ikut membentuk gua. Telunjuk menyentuh soal Taehyung, mengamati satu persatu jawaban yang—

          “Hey, apa kau menyontek?” Keluar lah tuduhan tersebut, saking sulit di percayanya jawaban yang dibuat Taehyung selama ulangan berlangsung. Maka seluruh murid ikut menoleh.

          “Tanyakan saja pada Jisun.” Sindir Taehyung, sengaja.

          “Benar begitu, Jisun-a?”

Apalah daya, Jisun tak bisa buktikan apapun barang Taehyung sedikit tak memberi celah bahwa dirinya benar menyontek. Jadi sekadar membenarkan apa kata Taehyung, kali ini ia berkesempatan membelanya.

Oh, membelanya?

          “Akan ku ungkap siapa kau sebenarnya” begitu gumam Jisun setelah Taehyung melempar seringai panas bagai ejekan.

Istirahat tiba, Jisun berniat makan roti dibawah pohon belakang sekolah. pun hari ini ia tak mengajak Joy lantaran dia mau makan di kantin saja guna lebih memuaskan perut, katanya.

Jisun sangat suka pemandangan disini, ia bisa melihat perbukitan dari jauh. juga melihat awan yang berarak menubruk awan lainnya hingga menyatu. Ia akan tersenyum bagai kesan, ditambah lengkap mulut  penuh isi roti. Pipinya tampak seperti pipi tupai. Dilihat lagi malah makin manis dan—

          “Mau sosis bakar, tidak?”

Suara Taehyung muncul tiba-tiba, asalnya tak jauh dari sana—tepat diatas kepala Jisun anak itu tengah mengayun kaki sambil menyantap satu tusuk sosis bakar ukuran besar. Tercengang bukan main, Jisun lantas bergeleng dan bertanya “Sedang apa kau disana?”

Lantas turun, Taehyung sodorkan setengah dari sosis itu ke muka Jisun yang terheran-heran.

          “Kenapa? Enak tahu!”

Satu gigit lagi! sosis itu telah berpindah posisi ke mulut Taehyung dari tempatnya. Sisakan tusuk terbilang kosong yang Taehyung buang ke sembarang arah. Dia—tersenyum lebar, lengkap mulut penuh di hadapan Jisun yang nyaris memutar badan meninggalkan Taehyung sendiri.

          “Apa dulu kau berteman baik denganku?” derap terjeda, Jisun coba berpikir. Jawaban apa yang akan ia lontar kepada Taehyung nantinya.

          “Hey—aku bertanya, apa kau—“

          “Yeah, kurang lebih seperti itu. tapi kau terus menghindariku karena alasan malu.” Begitu interupsi Jisun secara gamblang.

Tawa renyah bersorak keras sampai Taehyung berkacak pinggang barang menyempurnakan kembali napas.

          “Ada Apa? aku tahu kau—ini bukan Taehyung. jadi jangan harap kau bisa bersarang disana selamanya.”

          “Maksudmu bagaimana? Aku—Taehyung, Kim Taehyung si idiot. Sudah kubilang bukan saat kemarin sore?”

Mulai panas, Jisun rekatkan rahang, mengumpulkan kata demi kata untuk melawan pembicaraan Taehyung yang berujung tak masuk akal ini.

          “Jangan pikir aku tidak tahu! aku bisa buktikan nanti, tapi tidak hari ini!” sembur Jisun akhirnya. Lamat-lamat ia berpaling dan menjauh dari jarak Taehyung yang asik terkekeh puas.

          “Hey—aku suka cara bicaramu! Kamu manis, Ji!”

.

.

.

Saat para murid membicarakan Taehyung yang jenius.

Disinilah bermula. Pada Kamis, 20 Maret 2002, murid kelas B di perkenalkan dengan sebuah lab yang baru saja selesai di bangun akhir bulan lalu. Meski terlambat di pergunakan, mereka berkesampatan untuk mencoba bagaimana melakukan praktikum didalam.

Percobaan pertama hanya bermula ketika Leo—guru dari Jerman meneteskan cairan bening ke dalam tabung yang sama cair berwarna merah. Butuh ketelitian agar tetesan itu tak kurang juga tak lebih dari takarannya.

Para murid yang berbaris diseberang Leo pun, ikut tegang dan takjub ketika hasilnya mencengangkan berupa benda retak bisa direkatkan kembali oleh cairan tersebut.

Agar mereka tak penasaran Leo buka sesi bertanya dan uji coba. Oh, banyak dari mereka yang mengacung tangan sambil loncat-loncat penuh harap. Namun sayang, faktanya Taehyung yang beruntung. Leo menunjuknya barang tak ragu sedikitpun.

Ia pegang tabung itu sambil memasang seringai yang sontak membuat keki para murid laki-laki. Merasa dirinya—tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Tapi! Memang benar, Taehyung tahu betul apa yang harus ia lanjutkan tanpa aba-aba dari Leo. Yeup, Taehyung membuat cairan itu sedikit bereaksi, meleduk-leduk didalam setelahnya—kembali tenang. Tegang memang sempat lewat dibenak mereka, takut-takut cairan itu meledak seperti kebanyakan di film-film. Akan tetapi hal seperti itu lekas berganti jerit kecil pun ekspresi cengang ketika Taehyung tiba-tiba—

          “ASTAGA!”

—mengguyur rambutnya dengan cairan itu. alhasil, beberapa menit kemudian. Helainya makin bertambah menjadi beberapa jumput yang nyaris menutupi seluruh wajah tampannya. Tunggu! darimana Taehyung belajar sementara Leo sendiri Cuma mengarahkan di awal saja? lagi pula sekolah tak punya materi semacam ini sebelumnya. baru tahun ini saja bukan, kepala sekolah mendirikan lab khusus bagi para murid yang ingin bereksperimen sendiri?  Oh, tak ada yang tahu bagaimana isi otak Taehyung yang sekarang. Dia nyaris sempurna, entah dari segi penampilan baik dari otak jeniusnya. Sebut saja anak emas, kendati di usianya masih sebelas tahun ia sudah bisa melakukan eksperimen keren seperti tadi. Bahkan Leo sendiri sempat mengelus surainya dan berkata, kau hebat dan kau hebat. Sesuatu yang membuat murid lain iri hati. di tambah Leo terbilang profesor andal yang didatangkan langsung dari Jerman untuk memberi sedikit materi kepada sekolah ini. So Lucky, Kim Taehyung.

          Lantas, setelah kejadian itu berakhir—Taehyung makin populer dan jadi trending topic disetiap perbincangan para murid termasuk guru-guru sekolah lain. Bulan-bulan berikutnya Taehyung juga tak hanya memukau kalangan sekolah, tetapi ia juga berhasil membuktikan kepada tetua kota dengan menciptakan karya lain berupa alat pendektesi kebencian. Ia bosan bermain ramuan terus, maka dari itu ia beralih pada hal yang lebih modern lagi.

Namanya kian bersinar di spanduk sekolah bahkan di berbagai kota setelah dirinya benar-benar membuktikan anak jenius. Beda dari yang lain, beda pula dari yang dulu. Taehyung sekarang sungguh terkenal dimana-mana. Hidupnya mewah bertempat di apartemen bilangan gangnam. Setiap pulang-pergi sekolah, ia tak perlu lagi gunakan kaki untuk berjalan. Ia—punya mobil mewah bermerk tinggi. Melampaui kepunyaan dari semua teman-temannya. Terlebih ‘itu didapat karena hasilnya sendiri, bukan dari orangtua pada umumnya. Yeah—Mandiri, begitu sebutnya.

 

Memasuki bulan Juni, omong-omong hari ini tengah berlangsung Ujian akhir di tiap sekolah. Para murid di ambang ketegangan ketika menghadap soal rumit guna meloloskan diri ke tingkat menengah. Garuk kepala jadi hal lumrah saat mereka kesusahan dalam soal menjawab.

 

Sementara pada Taehyung, Cuma telungkup malas dan baru mau mengerjakan soal bilamana teman-temannya sudah selesai. Yeah, Seokjin tahu semua kebiasaan baru Taehyung melalui percakapan Himchan tempo lalu.

Awalnya ia berniat membawa Taehyung tinggal bersamanya. Namun karena ada alasan dinas ke tempat terpencil di daerah Mokpo, Ia  tak bisa mewujudkan niat tersebut. Lantas ketika ia kembali, kejutan lain datang. Seokjin benar terpukau saat melihat kemajuan pesat tidak, tepatnya perubahan drastis Taehyung dengan waktu tak biasa. Entah bagaimana anak itu bisa sedemikian, Seokjin Cuma tersenyum singkat tatkala netra memandang Taehyung dari kejauhan. Arti bangga memang ada, namun kecewa—juga pasti bernoda di benaknya.

.

.

.

          “Aku bawa snack yang ba—nyak—sekali!” ujar Joy merentang tangan seolah menggambarkan sebesar apa bawaanya di ransel itu.

Benar, berkemah. Usai tiga hari melaksanakan ujian. Para murid itu akan berkemah ke tempat yang telah di tunjuk Seokjin sebagai hadiah. Hanya untuk kelas B saja. begitu kata Jin dalam pengumuman dipapan tulis tempo lalu.

Kebanyakan dari mereka minta ditemani orangtua masing-masing, namun Seokjin melarangnya. Dia bilang, anak akan mandiri bilamana orangtuanya tidak berlebihan dalam hal memanjakan. Dimana dari kedua puluh lima murid Seokjin berkumpul di atrium sekolah sekadar menunggu kedatangan yang lain.

Pemandangan orang tua yang penuh kecemasan mulai tercetak. Beberapa di antaranya menyisih untuk mendapat akses konversasi dengan teman-temannya. Well, Seokjin begitu senang… tak ada yang murung seperti Taehyung dahulu.

Oh, Taehyung yang dulu?

Omong-omong anak itu tengah duduk bersila mengamati kerumunan mereka dari bawah pohon. Ia masih kerap sendirian, biarpun tak ada lagi yang perlu ditakuti seperti dulu. bukannya Taehyung enggan bersosial, hanya saja kesendirian itu lebih baik dari pada mengobrol hal tak penting sampai-sampai timbul mulut berbusa. Ah, itu bukanlah gaya Taehyung.

Atau lain lagi, semisal berlari-lari, bermain sambil lempar kertas—tidak. itu juga bukan hobi Taehyung. ia lebih suka mengarah hal yang dilakukan orang dewasa—seperti diam dan melakukan kegiatan me-ro-kok. Apa benar Taehyung seperti itu? tidak, pernah sekali tertangkap basah oleh Jin ketika anak itu mengumpat dikamar mandi hanya untuk menyalakan satu batang rokok. Alih-alih Seokjin menyeretnya ke atap sekolah, lantas memberinya sekadar nasihat singkat namun berkesan. Sejak saat itulah, Taehyung melupakan kejadian memalukannya.

Hingga kini semua orang belum genap mengerti apa yang ada didalam diri Taehyung. Segala tingkah lakunya seolah tak menunjukkan seperti anak-anak seusianya. Semakin ia dikenal, semakin pula ia berpolah sebebasnya. Keramahan yang ia tanam pada awal mula perubahan itu kini seakan sirna hanya karena dirinya selalu haus dalam pujian.

Balas dendam mungkin terbaik untuknya, tapi—tidak bilamana harus mengubahnya jadi sosok sombong tak beradab.

“Semua masuk!”

Sepertinya Seokjin telah memberi intruksi. Bergegaslah Taehyung bangun dari tempat lantas berjalan menuju bus yang sudah terparkir diluar gerbang.

 

“Tasmu terlihat kosong, Ji?”

“Oh, Aku Cuma bawa pakaian seadanya plus satu handuk buat mandi.” Imbuh Jisun ramah sembari mengepak-kepak tas kempesnya.

“Makanan?”

“Aku bisa minta padamu.”

“Ya! takkan kubiarkan!” pungkas Joy, ransel dipeluk bergerak-gerak guna menolak.

Sementara respon Jisun berupa kekeh, pun bergulir tatap pada Taehyung di bangku depan.

Masih dalam penyelidikan siapa Taehyung, sesekali Jisun mengikuti kemana lelaki itu pergi. dengan cara mengendap begitu kiranya. Pernah sekali pada waktu senin kemarin Taehyung pergi kesebuah gereja bilangan busan masih lengkap berseragam. Jisun duduk dibangku paling belakang manakala melihat Taehyung begitu serius berdoa pada sang tuhan.

Lama menunggu bagaiamana ia beralih ke tempat lain, setidaknya satu jam lebih Jisun menghabiskan waktu menguntit Taehyung yang tak kunjung pergi dari tempat itu. dan sialnya, Taehyung tak ada kegiatan lagi selain kembali ke apartemen. Kontan Jisun menghentak bumi beraut sebal kendati hasil penyelidikannya selalu gagal.

Seterusnya hari-hari merambah, tak ada kemajuan dalam penambahan bukti baru. Terkecuali saat taehyung berkunjung ke gereja itu, sisanya tak penting dan terbilang biasa.

Setiap malam di atas meja belajar, Jisun wajib menggelar agenda kecil serta pena hitamnya. Bukan untuk belajar, melainkan bermaksud menyusun aktivitas Taehyung yang mencurigakan ke dalam baris-baris agenda itu. Kini Jisun telah berhasil kumpulkan bukti baru sebanyak lima aktivitas lengkap kejadianya.

Pertama : Taehyung pergi ke toilet untuk merokok.

Kedua : Taehyung sering melihat bangunan tua di ujung komplek.

Ketiga : Taehyung selalu berprilaku layaknya orang dewasa. Entah dari segi bicara atau bersikap. Intinya sama.

Keempat : Taehyung membeli obat tidur setiap jumat sore.

Kelima : Taehyung pergi kegereja pada senin sepulang sekolah.

 

Begitu rupa lima bukti tersebut. setelah kelulusan nanti, ia akan bicarakan hal ini lagi kepada sang Ayah guna menjabarkannya menjadi bukti bahwa Taehyung punya—

 

“Yey! sudah sampai!” seru Joy antusias, alih-alih mengempas lamunan Jisun sejauh mungkin kendati ia memang tak tahu Jisun tengah demikian.

 

Tenda-tenda berjajar di bilah kanan kiri, pun berhadap-hadap ke arah bentangan jalan setapak menuju api unggun di ujung sana. Api unggun? Omong-omong Seokjin belum persiapkan bahan-bahannya. Mudah saja, ia bisa mengambil stok kayu di gudang seberang dari perkemahan ini yang memang khusus menyediakan material api unggun.

“Aku pikir lebih baik satu tenda tiga orang. badan kita ‘kan belum sebesar guru Kim?” kata Jisun memberi usul. namun berakhir abai dari beberapa kawannya.

Mereka lebih memilih tidur sendiri di tiap tenda yang telah di sediakan pihak pengelola perkemahan ini.

“Well, Tak apa. kalian akan menyesal karena tidak bisa merasakan kebersamaan!”

“Kebersamaan? Tahu apa kamu soal kebersamaan?”

Lagi, sekadar lewat Taehyung bertanya sarkas. Derap berhenti, satu jajar dengan Jisun, pun sempat berbisik berupa—

“Tidak selamanya bersama itu menyenangkan, Bae-Ji-Sun.”

Manik membola, lamat-lamat bahu berputar balik meninjau punggung Taehyung yang mengedik kesusahan membawa dua ikat kayu bakar.

Apa maksudnya? Pikir Jisun. Setiap hari perkataan Taehyung semakin tak dapat ia pahami. Faktor usia atau memang dia yang bodoh? Ia tahu bahwa Taehyung telah menjelma jadi sosok orang dewasa. sementara ia sendiri banding sama dengan teman-temannya, anak ingusan yang kerap minta ini itu kepada orangtua. Merengek jadi senjata ampun agar dikabulkan lah tiap permintaan itu. Tapi, Jisun perlu tegaskan bahwa usia tak membedakan apapun bila memang ia sudah siap berpikir dewasa. Dan ia tak merasa seperti anak ingusan pada umumnya.

Jisun itu—selalu punya kebiasaan mengorek isi dunia mereka. Kuriositasnya lahir ketika ia melihat sang ayah berbagi kata kepada pasien-pasien yang berdatangan ke rumahnya. Tidak sembarang kata, dari setiap kata memiliki makna masing-masing.

Di usia minimnya, terkadang jisun kerap tak mengerti kendati ujungnya bertanya pada sang ayah. Tapi juga Jisun bukan orang yang mudah menyerah. Ia punya ambisi kuat dalam hal mencampuri urusan orang dewasa. Jika dijabarkan lagi tak cukup waktu bagaimana Jisun mencoba memberi ide lain kepada sang ayah atau wali kelasnya—Seokjin ketika di hadapkan pada masalah rumit yang mereka pun rasanya ingin menyerah. Yeah, kelebihan Jisun sendiri terletak disana.

Dan—untuk kata ‘kebersamaan’ yang dilontar Taehyung barusan itu bermakna apa? Jisun di buat takut seketika.

Pikiranya mulai terganggu oleh satu kata tersebut. Disaat yang lain mulai berlari mempersiapkan api unggun serta pesta barbeque. Jisun malah melamun di belakang tenda sambil memeluk dengkul upaya memecah kata-kata Taehyung tadi siang.

Kawan-kawannya mulai hanyut dalam suasana, sementara Jisun mengintip sedikit dicelah kaki-kaki lain yang hilir mudik menuju api unggun. Alih-alih pun ia Cuma menghela napas upaya redakan dada sesak yang tengah menyerang lambung kosongnya.

Ia pikir tak ada yang mencarinya. Bahkan Joy sekalipun atau Seokjin si wali kelas. mereka telah melupakan sosok Jisun ditengah-tengahnya.

Ia pegang perut datar itu sembari meringis lantas menekuk bokong guna redakan. Keringat dingin mulai hadir memenuhi tiap inci tubuhnya yang terbungkus jaket setebal tiga lapis. Ingin rasanya mengecap kata ‘tolong’ namun lidah begitu kelu. Ingin rasanya berdiri, tapi kakinya gemetar hebat pula sesak dipadu tinjuan perut seolah menghakimi agar ia tetap diam ditempat. Jisun benar-benar sekarat karena tak berdaya melakukan kedua hal tersebut. perkataan Taehyung benar telah membunuh salah satu saraf di otaknya. Sungguh, manusia seperti apa—dia?

“Diam sedikit,”

Tahu-tahu yang dibicarakan—datang, lekas menyangga punggung Jisun dengan jaket khakinya. Telaten sekali ia membentuk gumpalan kain tebal itu menjadi sebuah bantalan yang bisa mengurangi rasa sakit Jisun secara ampuh. Jisun sendiri bahkan tak berpikir ke arah sana. yang ia pikirkan hanya—

“Kenapa dipikirkan? Itu ‘kan Cuma kata sepele.”

Demi tuhan! Taehyung seolah mendengar apa kata Jisun dalam benak. Lantas kilat irisnya menoleh pada Taehyung yang kini berjongkok, mengarah balik tatap kepada Jisun.

Tertegunlah ia.

“Tunggu disini.”

Jisun tak menolak. Entah mengapa ia tak bisa beranjak kala iris Taehyung barusan seketika membuatnya lemah. Bukan lemah tak bergerak, tapi ini lebih mengarah kepada lemah dititik organ dalamnya. Seperti ada sesuatu yang menghentikkan sejenak peredaran darah juga detak jantung Jisun. Sehingga tanpa sadar ia Cuma bisa menikmati setiap inci wajahnya yang rupawan. Lekas ia bergeleng, bukan tanda suka yang tengah dirasa. Sadarkan bahwa usia mereka belum pantas mengecap kata cinta berlebihan. Jisun bahkan tahu itu.

“Cuma ini yang kudapat. Makanlah guna mengganjal perut kosongmu.”

Dia kembali, membawa setangkup camilan kentang dan satu wadah sosis bakar kesukaannya. Ia urai berserak memenuhi sisa ruang lingkup keduanya. Binar-binar raut lapar di wajah Jisun seolah tergiyur ingin menyantap mereka selahap mungkin.

“Ada apa? ambil saja, aku sudah kenyang.” Imbuh Taehyung mengubah posisi sejajar dengan Jisun tepat masih dibelakang tenda.

Hanya ada mereka berdua disaat yang lain suka cita menikmati api unggun begitu meriah. Bahkan Jisun tak bisa hentikan kunyahan kecil yang berselang selama dua puluh menit bersama kudapan-kudapan itu. ia sangat menikmati suasana malam seperti ini, ramah juga sunyi. Ditambah kerlip bintang tak ubahnya memberi gerik senyum mengindahkan bola mata setiap penghuni bumi.

Disela kesunyian, Taehyung tunjuk salah satu bintang di atas,

“Itu—rumahku.”

Sontak tawa renyah membludak manakala sisa kunyahan Jisun sedikit menghambur ke sekitar. Ia pikir Taehyung benar-benar gila, tidak. bagaimana bisa ia menunjuk bahwa itu rumahnya, sedangkan ia sendiri tahu persis dimana letak awal Taehyung dilahirkan.

“Mungkin memang sulit di percaya, tapi—aku benar berasal dari sana.”

“Sepertinya perutmu juga butuh makanan” usul Jisun. Disambut kekeh balik, lantas senyum singkat darinya.

“Yeah, terimakasih sudah menghiburku.”

Suasana kembali hening namun Taehyung lekas pecahkan banding sama hingga Jisun tertegun dibuatnya.

“Aku tidak menghiburmu, tapi suatu saat nanti kau akan tahu siapa aku sebenarnya.”

 

 

Sejak percakapan singkat itulah, Jisun memutus untuk mengakhiri penyelidikannya. Hari demi hari, merambah ke minggu, bulan ke bulan bahkan bertahun-tahun lamanya telah ia temukan satu persatu jawaban tersebut tanpa harus menguntit Taehyung kemanapun ia pergi. hanya Jisun seorang yang tahu.

 

Satu gelas latte temani ia yang tengah bersilang kaki sambil menulis rentetan kasus sepele dari teman-temanya. kadang kala waktu satu jam lebih tak cukup hanya untuk berpikir semacam itu. sesekali ia mengatup pena ke bilah etalase, pandangi ribuan roda yang telah silih berganti melewati jalanan tersebut. Jisun teringat seseorang yang hilang sejak lima tahun lalu.

Akhir dari percakapan dengannya hanya tercetak malam itu saja. setelah—usai kelulusan, ia seakan lenyap ditelan bumi. Sempat terkira bahwa mungkin ia kembali ke tempat asalnya. Namun—Jisun menolak, mungkin—dia hanya pergi menjelajah daerah atau bahkan negara lain yang belum sempat ia cicipi. Toh, banyak kehidupan lain diluar sana yang lebih semenarik dari lima tahun lalu.

Kendati tanpa kabar, Jisun yakin dia akan baik-baik saja.

“Hoi!” sapa Zelo, teman satu bangku Jisun blasteran london.

Bocah itu datang tiba-tiba, menaruh tas di bangku kosong seberang Jisun dan duduk di sebelahnya selagi ia mengacung tangan ke arah kasir.

“Jim! Jus tomat satu!”

Dagu ditangkup dua tangan, lalu menatap Jisun dengan gaya manis dibuat-buat.

“Entah kenapa aku jadi mual..”

“Kamu bisa bilang mualnya dari segi apa dulu, Ji.” Terkekeh Zelo seakan sudah tahu apa kalimat yang akan dilontar Jisun kemudian.

“Sudahlah lupakan,” Jisun ambil agenda tersebut lantas memasukannya ke dalam ransel mocca ukuran sedang, adalah miliknya.

“Sekarang kasus siapa lagi, hm?”

“Kautahu Sanghyuk ‘kan? dia klien kedua kita setelah Hoseok.”

Belum sempat ia mengangguk tahu, Jimin datang membawa satu gelas jus tomat pesanan Zelo tadi. Sejenak Jimin ikut andil dalam pembahasan kasus teman sekelasnya.

Toh, bagaimana pun juga Jimin anggota resmi dari organisasi detektif di sekolah seperti Jisun dan Zelo ini. Ada dua anggota lagi yang tak hadir disini: Jungyeon dan Jungkook salah satunya. Mereka bilang ada urusan lain dengan pihak teman serta keluarga.

Kali ini mereka akan memecah satu permasalahan diantara dua klien tersebut. Jisun ketuanya, ia juga yang membentuk organisasi itu disekolah yang bermayoritas orang-orang kurang ahli dalam memecah kasus sepele.

Yeah, selang dua bulan setelah ia resmi menjadi murid di sekolah tersebut. Jisun bentuk organisasi kecil itu dengan diawali anggota pertama seperti Jimin lalu Zelo, Jungkook kemudian terakhir Jungyeon. Hanya lima orang saja. Jisun tak membuka lagi anggota baru untuk ikut bergabung.

Selama itulah… banyak kasus-kasus kecil, sedang, bahkan sampai bekerja sama dengan polisi—pun telah mereka tangani secara baik. Tak mudah, banyak rintangan pun hal lain yang berbentuk bahaya bagi masing-masing anggota. Semisal Jisun kadang kala harus mendapat aksi teror dari musuh kliennya, sesekali ia sempat ambruk saat tak bisa bertahan secara berkala. Namun Jisun bukanlah gadis yang lemah juga mudah menyerah, ia akan lawan musuh-musuhnya dengan rancangan otak cerdas serta taktik rumitnya. Sehingga tak ada yang bisa lagi meneror dirinya sewaktu-waktu.

Disekolah pun Jisun kerap diakui sebagai murid paling berbakat dalam hal memecahkan masalah bahkan menangani musuh-musuhnya. Apresiasi salah satu detektif di kepolisian gangnam, pernah di terima Jisun lengkap bangga, serta acuan agar ia bisa menjadi seperti dirinya. Yeah, sejak kecil Jisun tak pernah tahu ingin jadi apa. Tapi setelah bertemu Taehyung yang beda, ia memulai hal baru begitu kuat mendorongnya guna meraih sebuah profesi yang jarang dilakoni orang sembarangan. Meskipun baru sebatas demikian, Jisun yakin setelah ia lulus sekolah nanti lalu memasuki perguruan tinggi. ia akan menyerobot gelar detektif seperti keinginannya.

Begitulah impian besar Jisun…

Lantas percakapan soal kasus tersebut usai sudah, seiring Jisun mengakhiri lebih dulu lantaran ia ada panggilan dari sang ayah.

Setengah di perjalanan, Jisun tak sengaja menubruk seseorang, pun sempat menjatuhkan ponsel si lelaki berkenakan setelan serba hitam itu. Jisun tak tahu siapa gerangan, tapi entah mengapa ia seakan kenal meski hanya melihatnya dari balik kacamata hitam serta bibirnya yang sedikit unik seperti—

To Be Continued


Ola? akhirnya bisa berani menerbitkan chp.1 setelah aku mikir2 jadi publish atau engga. T_T bikos, chp.2 masih proses dan kesananya pun masih panjang produksinya :’D / Aku kurang andal soal ngechapter / eaaks / gebukin saya.

Doain aja ya, bisa selsai sampai abis. Aamiin :’) 

 

Iklan

7 thoughts on “WHO.I.AM #1

    1. hai yoo or eunhyun? sebelumnya makasi uda mampir ^_^
      udah sampe chp.3 kok…
      di tengok aja. ya…
      maapkeun, bikos cerita aku yang rada merumitkan hihi… 😀

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s