WHO.i.AM #2

TEASER DAEHYUN copy

project by junlois

prev : TEASER | 1

#2 : Comeback

“Kalau begitu, dukung aku dan aku akan mendukungmu.”

Siul angin berdengung ria, menghibur dua pasang rungu yang seolah kosong tak dengar apapun. mereka menari berliuk-liuk, pun bisik-bisik suara hati dan angin berpadu satu ketika sang lelaki berjubah hitam itu membungkuk sejemang lantas kembali ambil derap.

Sungguh bodoh Jisun diam ditempat, tercengang cukup lama ketika menoleh si gerangan telah lenyap di hisap tikungan gedung-gedung lain. Ingin rasanya mengejar, namun Jisun tak kenal siapa dia pula tak tahu mau berdalih apa.

Lantas yang bisa ia lakukan Cuma lanjut bergerak. tak perlu memikirkan lelaki misterius itu. di kota ini ada banyak pria berpenampilan semacam dia. tak harus dicurigai atau bahkan dibandingkan dengan kawan lamanya. Bisa jadi sosok dibalik kacamata itu berupa paman-paman atau bahkan kakek-kakek. Oh, lupakan saja.

.

.

.

          Komplek kediamannya masih terbilang sama seperti waktu lima tahun lalu. hanya saja tiap rumah mulai di renovasi karena kayu serta atap-atapnya sebagian ada yang sudah rimpuh. Gang-gang kecil masih sama dan belum di perlebar kendati saluran air di pinggir malah ditiadakan. Lolongan anjing tetangga kerap meluncur di waktu pagi, sore dan malam. Mungkin suara itu terdengar lebih indah bilamana malam tiba, terkesan—begitu sunyi.

Dan paling dicintai Jisun hingga dirinya enggan pindah dari sini adalah—udara serta, suasananya yang hening menyejukkan. Di kota lain mana bisa ia memperoleh kembali komplek semacam ini.

Lagi pula Jisun juga sudah akrab dengan beberapa jompo di tiap rumah. Kadang-kadang ia membantu mereka kala ingin berjalan ke tiap blok pada pagi hari. Mereka bilang sekadar olahraga kecil akan membuat mereka lebih muda. Jisun terkekeh mendengarnya. Bukan mengejek, dia—kepada tersinggung lantaran ia tak pernah berolahraga meski disekolah setiap satu minggu sekali pasti terjadwal.

Well, disini kelahirannya. Ia bangga kepada sang ibu yang melahirkan Jisun di lingkungan orang-orang ramah juga unik. Namun seribu sayang, Jisun tak bisa bersamanya selama usia bergulir. Ibu Jisun meninggal ditahun 1997 tepat setelah dua tahun kelahirannya akibat sakit jantung. Kala itu sang ayah ambil peran jadi Ibu tambah Ayah. diwajibkan memasak sambil menggendong Jisun lalu membersihkan rumah ketika Jisun merengek. sampai-sampai pada saat pasien datang, Jisun masih setia terlelap di gendongan Ayah. Kendati pria itu kesusahan dalam mengatasi pasiennya yang terbilang gangguan psikis juga. Tapi Ayah bersikukuh tak mau tinggalkan Jisun, ia tak mau sang puteri menangis barang sedikit.

Oh ya ampun, lihat! Jisun tersenyum haru mengingat semua itu. hatinya berkemam lembik: bahwa Ayah segalanya dan Ibu, dia—malaikat yang senantiasa menjaga Jisun setiap waktu.

Sesap bibir terdengar singkat saat ia melangkah riang. Alih-alih melewati blok kediaman Taehyung, Jisun teringat dimana di persimpangan itu ia bertemu Taehyung yang berbeda. Entah mengapa batinnya terdorong untuk belok kesana lantas meninjau kondisi keluarga kecil itu setelah ditinggal Taehyung cukup lama.

Sepuluh menit, Jisun cuma menghabiskan waktu sepuluh menit guna menjangkau kediamannya. Di balik pagar, rumah Taehyung tampak berbeda dari yang dulu. semua terlihat baik juga penuh renovasi. Adik Taehyung paling bungsu tengah mengelus anjing kesayangan sang kakak di teras luar. Dia persis seperti Taehyung sebelum berubah. Bukan dari segi psikisnya, melainkan wajah serta rambut anak itu bak mencerminkan Taehyung saat lima tahun lalu. Tentu Jisun terkekeh ketika mengingat hal demikian. Bagaimana tidak—kalau dirinya tengah rindu pada sosok…

Tak bisa menampik, Jisun lantas membalik badan serta bersandar di balik pagar-pagar tersebut. ia pegang permukaan dadanya, menutup manik barang sejenak guna mengontrol. Rasa-rasanya Jisun malah ingin menangis dan berteriak, “Kemana Taehyung!”

Seiring kemam berlalu, pagar-pagar itu bergeser menyamping. Sontak Jisun berpindah dan menatap siapa yang sedang mangamatinya begitu heran.

          “Bibi?”

Tahu-tahu saja Jisun terkurung di rumah itu; lengkap suguhan teh bening dan kue beras yang telah tersaji rapi di teras luar.

Ia dapat melihat jelas pekarangan rumah ini yang sengaja ditanam berbagai pokok herbal serta kolam ikan dipinggirnya. Sejuk, begitulah luapan Jisun. genap tiga menit bergulir, Ibu Taehyung datang kembali membawa satu piring kukies terbilang masih hangat. Banyak makanan dihadapan Jisun, entah mana yang akan ia ambil terlebih dahulu.

Tapi ia malah mengambil cakap berupa—

          “Kupikir Taehyung tidak benar-benar melupakan keluarganya.”

Wanita paruh baya itu tersenyum simpul. Lantas menjawab penuh haru sekaligus amat rindu seperti,

          “Awalnya dia terlihat seperti iblis. Tapi seiring telingaku mendengar bahwa dirinya berubah jadi anak jenius dan banyak mendapat pundi-pundi uang. Entah mengapa aku merasa bangga, pun kembali menyesali perbuatan saat itu ketika ia harus babak belur dituntut jadi normal. Yah, ternyata aku salah didik. Selang setelah kelulusan sekolah, dia sempat mampir menghadiri pemakaman Ayahnya. Dia Cuma bilang—kalau dirinya akan pergi jauh berkelana ke tiap negara. Ada tawaran besar dari seorang ilmuwan asal Jerman agar Taehyung bekerja sama dengan mereka.

          “Anak itu memberi kami sejumlah uang yang tak sedikit dari isi dompetku. Dia menyuruh untuk merenovasi rumah dan melengkapi isinya dengan perabot modern. Dia juga yang melarang teras depan agar tak di ubah sedikitpun. Sewaktu-waktu ia akan pulang dan telentang diatasnya sambil guling-guling menikmati aroma teh bening khas buatanku. Dia—mengatakan itu sambil tersenyum lebar, menggenggam tanganku setulus mungkin, ada kata maaf terselip setelahnya. ku peluk dia lantas dia menghela napas beberapa kali—mungkin guna menghilangkan tangisnya. Aku—percaya bahwa sekarang ia benar-benar kuat dan jenius. Dia mengaggapku ada, meski dulu kami memerlakukannya begitu kasar. Dia—Taehyung yang tangguh, Jisun-a.”

Entahlah apa yang harus dikatakan Jisun ketika melihat ibu Taehyung menangis keras hingga dua gunduk bahunya mengedik sesenggukan. bohong jika Jisun tak berniat menangis pula. Ia menyusul, merengkuh ibu Taehyung dalam peluknya sembari tersedu-sedu. Suasana berubah haru, benar-benar rindu akan sosok Taehyung seakan hilang dari bumi. Tak ada kabar apapun kendati ia sudah sukses dinegara lain. Sekalipun, baik Jisun atau sang ibu tak pernah mendapat secuil kabar dari tetua yang mengusulkan Taehyung untuk bekerja sama dengan ilmuwan asal Jerman itu.

Mereka benar-benar rindu Taehyung yang telah jauh dimata.

.

.

.

          Gelap nan sunyi, Taehyung terbaring nyaris lenyap dalam mimpi. Namun, seketika manik melonjak tatkala suara berat memanggil namanya berulang kali. Dia—Taehyung sesungguhnya.

          “Kenapa harus bangun?”

Beranjak remeh, lantas Taehyung merangkak laun ke ujung balkon guna mengembus angin malam.

          “Apa yang kaulakukan dengan tubuhku, huh?”

Berat dari suara itu terulang kembali, entah darimana… tapi Taehyung tahu betul.

          “Hidupmu semakin baik, bung. Jangan khawatir, kita saling timbal balik bukan?”

          “Dengar, aku tak tahu persis bagaimana kau berpolah dengan tubuhku. Tapi sungguh! Keluarkan aku dari tempat ini! disini sangat gelap!”

Garis bibir terjungkit, Taehyung tatap satu bintang dikejauhan. Pun dia membalas,

          “Aku akan kembali setelah tugasku selesai.”

          “Berapa lama?!” kukuhnya, seakan suara itu bertanya sarat penantian.

          “Entahlah…”

Tenang namun ia amati jelas pergerakan hourglass ditangan yang telah berjalan dari setengahnya.

Taehyung atau kepada Daehyun begitu lihai merancang sesuatu dari isi otaknya. Tak ada yang tahu persis kemunculan Daehyun darimana. Sekalipun Taehyung pada saat-saat hujan turun, ia duduk di bangku halte lalu tiba-tiba menerima satu cupcake—

—Yeah satu cupcake! Itulah yang mengubah semuanya. Ada sebiji harapan yang ditanam Taehyung kala melahap kudapan itu. secara kesimpulan, cupcake itu punya serbuk magis yang dituang Daehyun sebelum memberikannya kepada Taehyung. sayangnya alasan Daehyun tak bermaksud jahat. Bukankah dia sudah bilang bahwa mereka berdua saling timbal balik.

Lantas, timbal balik seperti apa yang dimaksud Daehyun barusan?

Ini pertama kalinya dalam jarak waktu lima tahun terakhir ia bisa bersuara apa saja kepada Daehyun, pengendali tubuhnya saat ini.

Taehyung muncul setelah dirinya terlelap cukup lama di atas kendali lelaki itu. Ia terkurung sepi di jajaran dinding-dinding kaca sarat akan magis. Entah apa yang membuatnya bangun, setahu Taehyung ia menjadi lebih ringan untuk menyuarakan haknya dari dalam sana.

Pada saat Daehyun terlelap tadi, ia merasa bahwa tubuhnya tengah merespon kesan hangat. Darah-darah yang menggelenyar ditiap pangkal daging, sekonyong-konyong menyengat dan mendorong kuat ke arah jantung sehingga berdetak cukup cepat.

Tampaknya Daehyun juga tak begitu bermasalah. Toh, ia tak berusaha menekan Taehyung ke dunia gelapnya lagi. malah, dirinya kini berhadap-hadap di depan cermin yang punya tinggi banding sama.

Ia sentuh perlahan dan,

          “Ada apa?” suara Taehyung beserta rupanya yang telanjang dada menyembul dari balik cermin.

Sejenak, Daehyun menunduk sebelum ia angkat bicara. Ada lara terpeta jelas; Bibir tebalnya menyesap berat seakan ia ingin katakan suatu bentuk ungkapan yang jumlahnya takkan bisa ia rangkap satu malam saja. Maka jerit Taehyung lekas mendenging ke kedua kuping miliknya yang ada pada kendali Daehyun.

          “Kau pasti berusaha keras agar bisa berteriak seperti itu.” lirih Daehyun, lantas duduk di kursi tangan pinggir cermin.

          “Ku hitung tiap waktu yang berlalu, namun tak kunjung datang pula seberkas cahaya yang menjemput. Tega betul kau mengurungku disini tanpa sebab, juga tanpa kejelasan pasti. Aku memang terlahir bodoh, namun timbalku tak perlu seperti ini. Aku lebih baik hidup dalam kebodohan, kesendirian pun kehinaan daripada harus hidup di dalam dunia yang gelap dan dilingkup banyak dinding-dinding kaca tak bercelah. tak perlu bersimpati, aku bisa jalankan hidupku sendirian. Tolong kembalikan aku, Daehyun-ssi!”

Bulir hangat lamat-lamat menetes laun, juga dua gunduk pipi Daehyun mulai basah akan pilu. Dibalik sikap dingin yang ia topang, alih-alih hati gencar mudah lunak tersimpan rapi guna tutupi segalanya.

Sebelumnya ia tak pernah seperti ini. tetapi—entah mengapa sejak dirinya mengambil alih tubuh Taehyung, ia seakan jadi manusia sungguhan, manusia paling lemah yang tak punya tameng apapun. Mungkin ia bisa mengubah apa yang ada pada kekurangan Taehyung. tapi semakin lama waktu bergulir, semakin sulit pula ia memahami hatinya setelah ‘dia’ muncul, memenuhi rongga benak serta sarafnya. Daehyun tak bisa jabarkan isi dari hati kecilnya ini. ditambah, rasa kasihan yang tak pernah ia kecap sebelumnya—kini mulai jadi hal biasa. Ingin sekali ia ceritakan pada si pemilik tubuh aslinya, namun—

—bisakah Taehyung mendengarkan lantas memberinya jawaban pasti serta akurat? Itulah yang Daehyun ragukan. Itulah yang membuat ia lemah sehingga dapat memanggil Taehyung dari sangkarnya. Hati kokohnya mulai lunak seperti manusia pada umumnya. Tak ada pilihan lain, kecuali ia ceritakan semua apa yang terjadi selama ini.

          “Aku tak tahu harus mengawalinya darimana dulu, begini—

          “Ada seseorang yang kerap memerhatikanmu. Well, dia manis dan sering berkata konyol. Itu menurutku, entahlah bagaimana persepsimu. Pokoknya, aku suka setiap kata yang dia lontarkan, juga setiap kali dia tersenyum. rasanya ada yang mengalun damai di benakku. Tapi cerita lain datang lagi—setelah kelulusan lima tahun lalu. hatiku tiba-tiba terluka, mendengar ayahmu meninggal. Aku berlari pada saat itu juga menjangkau kediamanmu yang penuh—akan pelayat. Kulihat ibumu menangis sedu, adikmu merengek tiap saat kepada siapapun. Batinku kosong, namun—entah mengapa aku sedikit pilu ingin hampiri mereka lalu mendekapnya erat-erat. Balutan duka itu seakan bersarang bagai penyesalan di waktu lampau. Saat ku lontar kata-kata kasar kepada mereka yang—tak seharusnya ku lakukan. Nafsu gelap mendorongku agar melenyapkan siapapun yang membuatmu menderita. Tetapi, sadar secara berkala bahwa itu kesalahan fatal. Aku mencoba meminta maaf kepada ibumu dengan upaya memberikan mereka secercah kebahagiaan. Setidaknya, itu yang bisa kulakukan sebagai tebusan. Aku—banyak belajar setelah memakai tubuhmu. Mungkin alasan mengapa aku di usir dari negeri itu, karena aku kerap tak beraturan juga egois. Sebab itulah, aku memberikan cupcake tersebut kepadamu dengan dalih pula syarat agar aku bisa kembali ke sana. Yah, aku tak tahu bahwa ujungnya akan berbekas makna semacam ini.”

Apa tanggapan Taehyung? dia—cuma melongo. Bungkam sekaligus bahunya bergetar. Ada gurat tak percaya setelah Daehyun berceloteh selesai. Ayah Taehyung meninggal, itulah penyebabnya.

          “Kenapa tak coba bangunkan aku?!”

Sungguh, bibir Taehyung bergetar hebat. Dada telanjangnya berkeringat, juga sesekali ia geleng kepalanya tak habis pikir.

          “Tak ada yang bisa kupikirkan saat itu. Maaf!”

Daehyun sentuh muka cermin, adalah pantulan diri Taehyung sebenarnya. ia elus bagian atas terbilang persis letak posisi rambut Taehyung berada. Daehyun ingat betul pertama kalinya ia menghasut anak itu dengan elusan tersebut, saat lima tahun lalu. Yeah, betapa senangnya keinginan Daehyun akan terwujud. Yaitu, pulang ke negeri bintang sarat binar-binar harap.

Namun, dari semua rangkaian rencana serta niat setengah baiknya. Sungguh juga telah melumpuhkan setengah bagian hidup Taehyung yang tak berkesempatan menghadiri kepergian sang Ayah untuk selama-lamanya. Benar buruk diri Daehyun, mematahkan hati Taehyung yang begitu cinta kepada orangtuanya kendati mereka awalnya demikian.

Dia pikir akan pulang secepatnya, Dia pikir Taehyung pun akan senang lantas memujinya. Tapi ternyata—kehidupannya malah tak berujung. Pihak dari negerinya seakan tak peduli kendati Daehyun telah melakukan hal-hal yang menjadi persyaratan agar ia bisa kembali. sia-sia bukan? Faktanya dia di uji dalam mengatasi kerasnya hidup seorang makhluk bernama manusia, namun nyaris gagal.

Biar dia punya kesempurnaan luar biasa, tetap saja bilamana ia berkubang dengan seekor cacing tanah. Ia akan kesulitan untuk mencari jalan disaat kaki-kaki berkuasa mencoba menginjaknya tanpa ampun. Salah satunya seperti itu, Taehyung menjadi kecewa dan sempat marah terhadap Daehyun selama beberapa hari.

Kala itu di waktu petang, Daehyun atau kepada tubuh Taehyung mendatangi apotek kecil di seberang dari apartemennya. Setiap jumat, Taehyung rutin membeli setoples kapsul tidur guna menenangkan Taehyung yang asli di dalam kendalinya. Mungkin agak jahat, tapi Daehyun melakukan semua ini semerta-merta agar Taehyung tetap tenang. Bagaimana juga dia akan merasa tersakiti dengan apa yang dilakukan Daehyun sekarang ini.

          “Bukannya kau ini punya kekuatan magis? lalu kenapa harus repot-repot membeli obat tidur segala?” gema Taehyung dari bawah kesadaran Daehyun.

Lelaki itu Cuma tersenyum simpul dan melanjutkan aksi mendorong pintu utama apotek.

          “Aku sudah menghentikan aktivitas meminum obat itu. aku juga sudah mencoba mengendalikan kekuatanku. Itu semua kulakukan agar kau bisa bekerja sama denganku.” Tutur Daehyun membalas dengan suara hati.

          “Lantas, untuk apa kau datang kemari?”

          “Tanganku terluka. bukankah kau masih benci dengan apa yang kulakukan dahulu?”

Senyap, Tak ada lagi balasan dari Taehyung. kiranya ia sadar dengan posisinya tengah marah terhadap Daehyun.

Tujuh hari Taehyung seperti itu, ditambah dia jadi bisa bebas mendengar suara apa saja dari kendali Daehyun diluar sana.

Sekitar lima tahun lamanya ia meninggalkan Seoul dan bermukim di negeri orang. Pun baru enam hari yang lalu ia pulang dari Jerman. Tugasnya di alihkan ke distrik Busan. Daehyun bekerja sama dengan para tetua untuk menciptakan sesuatu. Tempat kerjanya tentu terbilang mewah juga modern. dan dia sudah biasa melihat pemandangan semacam itu.

Terlebih kepada—

          “Taehyung-ssi! Wah, kau terlihat lebih modis ya?”

—Minsoo, Kang Minsoo rekan baru Daehyun di tempat ini.

Alih-alih langkah tinggi high heels nya menghampiri: tangan masuk ke dalam jubah putih, Lalu menghentikan derap tepat berjarak dua langkah dari hadapan Daehyun.

          “Kau juga, Noona.” Jawab Daehyun begitu, lantas menyeringai.

Gadis itu berbalik arah, meninjau dari kejauhan komputer-komputer besar terpasang ditiap sudut terutama paling depan, sangat—besar dibanding ukuran yang lainnya. Entah apa isi dalam perangkat keras itu, jelas mereka komputer itu digunakan untuk menyimpan data serta memantau perkembangan alat canggih yang akan di buat tahun ini. Bunyi not dari arah monitor itu sangat jernih namun berirama di ruang bernuansa putih.

Yang bekerja hanya hitungan orang, mungkin ada sekitar sepuluh orang di tempat ini khusus mengelola bagiannya masing-masing. Termasuk Daehyun, ia bertugas hanya memantau bilamana ada kesalahan sedikit. Sedang Minsoo, ia bertugas hampir sama seperti Daehyun namun juga ia menjadi juru bicara tetua mengenai perkembangan alat tersebut.

          “Alat ini melebihi dari Nuklir, setiap hari aku nyaris kerepotan karena harus memantau alarm yang sering berbunyi.”

Minsoo berkacak pinggang, lalu dibalas Daehyun dengan senyum miring.

          “Jika kita berhasil menyelesaikannya, negara ini akan aman bukan?”

Berdecih, gadis itu memutar balik badan: menatap Daehyun lekat-lekat seolah tengah mengutarakan tanda kagum juga remeh. Yeah, ia akui bahwa Daehyun bawahannya paling jenius diantara yang lain. Daehyun atau kepada Taehyung, spesial sekali dimata orang-orang berkuasa. Tetapi, jangan salahkan pada tiap anggota disini. Daehyun—begitu dibenci dan sering mendapat pengkhianatan melalui cibiran mereka dari belakang. Daehyun tahu saja, tapi—ia sangat pandai memanipulasinya dengan gaya khas dibuat-buat. Dibiarkan malah makin jadi, lantas cara terbaiknya adalah—mulai mendekati mereka serta bersikap ramah. Seperti kata ibu Taehyung saat ia hendak pergi ke Jerman, dulu.

“Ingat! Dalam hidup itu ada orang yang menyukai pula ada yang berniat menjatuhkan. Kamu tidak harus membalas kebencian mereka dengan hal yang sama. Kamu—hanya perlu bersikap tetap hangat dan ramah. Ibu yakin, lebih banyak orang lagi yang akan mengakuimu.”

Alih-alih Daehyun tersenyum kecil mengingat nasihat tersebut. dia—seolah menjadi manusia sungguhan. Berpikir benar-benar dewasa dan mencoba jadi orang yang hangat. Astaga, itu haluan yang sangat jauh dari karakter Daehyun sebenarnya. tetapi berkat dirinya mau mengakui bahwa ia bisa berubah, pun sedikit demi sedikit ia bisa mencapainya. Begitu pula dengan Taehyung…

Anak itu kembali menyahut dari dalam berupa,

          “Aku tahu, dan aku merasakannya.”

          “Kalau begitu, dukung aku dan aku akan mendukungmu.”

February 2007

Di tengah gurun, Daehyun amati pergerakan peleton yang tengah berlatih dari kejauhan. Dirinya sengaja bertandang sekadar mencari kebebasan. Barang kali ia menemukan suatu celah untuk menentukan timbangannya.

Timbangan soal hati. apa lagi mengingat ke masa lima tahun itu sungguh menggelikan. Ia tak bisa berkilah ketika dirinya mengatakan rindu tak sengaja, barusan.

Pun dari dalam sana Taehyung terbahak, entah sejak kapan anak itu bisa belajar tawa macam itu. yang jelas Daehyun sendiri tak pernah demikian.

          “Pasti Jisun ‘kan?” tebak Taehyung seketika benar.

          “Anak ingusan sepertimu tak berhak tertawa seperti itu.”

Berkacak pinggang, lantas manik Daehyun menyorot ke setiap arah barang menunggu balasan Taehyung selanjutnya.

          “Kau menyukai gadis dibawah usiamu yang terpaut jauh? Astaga, sadarlah!” gurau Taehyung, bahaknya makin keras tak beratur.

Rasa-rasanya telinga Daehyun seakan panas dan kian memerah. Bagaimana tidak, anak itu terus mengejek kendati wujudnya terletak jauh dari organ dalam terpentingnya. Adalah, Hati.

Lantas Daehyun mendesah dan memutus agar tak melanjutkan cakap daripada Taehyung terus berbalas sinisme yang tak kunjung selesai. di nyalakannya mobil gurun tersebut lalu memutar balik ke arah aspal yang membentang di kejauhan.

Sepanjang perjalanan ia dapat melihat jajaran peleton tengah berlatih keras guna antisipasi masa depan. Masa yang entah akan seperti apa setelah negara seberang putuskan untuk memulai perang paling meriah seantero dunia. Disinilah Daehyun dan rekannya harus bergegas menyelesaikan tugas terpentingnya.

Alat yang mereka buat tentu lebih kekal daripada sebuah Nuklir. Gelombangnya akan lebih memakan jiwa secepat kilat, dan para petinggi sudah jauh-jauh hari telah membangun sebuah markas besar bawah tanah untuk tempat perlindungan setiap warganya di berbagai daerah. Sungguh ketat, dan akan sangat menegangkan dimana kejadian itu berlangsung takkan lama lagi.

Perkiraan negara seberang itu akan mengibarkan bendera merahnya adalah sekitar 5-7 tahun. dan itu bukan waktu yang singkat untuk pekerja keras seperti mereka; pemerintah paling tinggi hingga paling bawah, badan intelijen, pasukan militer hingga para ahli ilmuwan yang ikut serta dalam pengerjaan alat tersebut.

Secara tak langsung orang berkuasa seperti mereka bergantung besar kepada ilmuwan macam Daehyun dan rekannya yang lain.

          “Awas!!”

Lamunan Daehyun lekas buyar tatkala seseorang menyeru dari kejauhan guna menghindar dari tempatnya menghentikan laju. Pasalnya—

/BOOM/

Ada granat menyasar, kiranya tak sengaja di lempar. lamat-lamat terlanjur meledak, mereka lekas berlari lengkap raut panik berlebihan.

Mobil yang ditumpangi Daehyun tadi ikut meledak setelahnya, dan di tengah-tengah gurun itu api makin berkobar tanpa penanganan. Bagaimana bisa di padamkan, sedangkan kawasan berair cukup jauh dari sana.

Cara terbaiknya, pasukan itu segera melempar pasir dengan jumlah banyak dari wadah seperti ember.

Butuh lima belas menit untuk menunggu api mengecil, lantas mereka mengelilingi tempat kejadian dengan dalih mencari seseorang yang mungkin telah hangus dibakar api tadi.

Sesalnya, mereka tak menemukan apa-apa terkecuali jubah putih itu terlempar tak jauh dari letaknya dengan balutan kusam menghitam.

          “Sepertinya dia lari lebih dulu sebelum peledakan.” Seru Namjoon selagi tangan memegang erat jubah tersebut. “Ada name tag nya!” tambahnya, lekas memberikan benda itu kepada Letnan bernama Yongguk.

Lelaki perawakan tegap itu lantas meraih dan menyimaknya sejemang, deretan nama yang tak asing baginya.

          “Kim Taehyung?”

          “Ya? kau memanggilku, Sir?”

Sayup suara berat itu terdengar sinis dari balik punggung Yongguk. Derapnya seakan bersahutan dengan angin gurun yang membawa serbuk pasir dari berbagai arah. Yeah, semua anggota militer bawahannya nyaris membola tak percaya bahwa pria yang ada didalam mobil itu kiranya masih terbilang hidup. Tidak, bukan terbilang lagi namun ini sudah jelas pasti.

          “Bagaimana bisa kau selalai itu?”

Cara bicaranya memang tak berubah, masih tak sopan kepada orang lebih tua. Jelas-jelas dia sendiri yang mengatakan kalau dirinya akan mencoba jadi lebih ramah. tapi—

          “Astaga, kau!” geram Yongguk akhirnya, lekas mendekap tubuh Taehyung.

Sejenak melepas dekap, Taehyung atau kepada Daehyun malah terkekeh nyaris kegelian. Lihatlah! Semua orang disini begitu meriah dengan kepanikan. Terlebih Yongguk nyaris berlutut guna menyesali kelengahannya karena membiarkan salah satu dari mereka melempar granat sembarang. Ah—tapi itu baru nyaris kalau tidak buru-buru Daehyun menyeru.

          “Kau baik-baik saja, bung?”

Di tangkupnya bahu Daehyun, takut-takut ia terluka. Dan lelaki itu cuma menggeleng—tidak. lantas Yongguk menepuk keras punggungnya, dan merangkulnya balik arah ke perkemahan di ujung sana. adalah area permukaan tanah hitam yang letaknya bersampingan dengan gurun pasir.

          “Ayo! Wendy akan memeriksamu.”

.

.

.

Malam hari di saat orang-orang telah lelap dalam tidur, tepat pukul satu dini hari Daehyun masih membuka lebar maniknya.

Hanya ada dia seorang dalam kurungan tenda ukuran nyaris sesak dengan tubuhnya. setelah kejadian tadi sore ia tak diperkenankan pulang oleh Yongguk. Dalihnya agar bisa memantau sejauh mana dia baik-baik saja setelah peristiwa mendebarkan itu berlalu.

Posisi miringnya berganti menatap langit tenda. Di tatapnya permukaan hijau army itu. entah mengapa di tempat sesak macam ini ia teringat kembali ke masa-masa tengah bersama seseorang. Tenda mungkin salah satu bagian kenangan indahnya dengan gadis itu. Daehyun tentu merasa ada kata rindu ‘lagi’ yang lolos dalam benaknya. Alih-alih pun Taehyung menyeru kembali,

          “Ada apa denganmu? Kenapa jadi pengecut seperti ini, huh?”

Pejamkan mata lalu meneguk saliva barang menerima celetuk Taehyung barusan adalah hal yang sulit. Daehyun tak bisa adu debat dengan anak itu kendati dia pemilik tubuh ini. lagi pula jika mengingat dirinya kerap muncul, lelaki itu pasti akan teringat dengan nasihat ibu Taehyung lima tahun lalu. setidaknya Daehyun harus berbuat ramah lebih banyak lagi, mengontrol emosi, egois serta sifat sombongnya yang kadang datang bukan pada tempatnya. Adalah satu-satunya kesempatan agar pihak dari negerinya melihat juga mendengar, sekeras apa perjuangan Daehyun agar bisa kembali ke sana. sejujurnya Daehyun butuh pengakuan meski ia belum melihat jelas tanda-tandanya.

          “Boleh jujur?”

          “Hm, apa?” sedikit ia perbaiki letak selimut, dan mempersilakan Taehyung bertutur.

          “Terimakasih,” ungkap Taehyung dikeheningan dan berlanjut—

          “Meski niatmu setengah baik. tapi kau pahlawanku, hyung.”

Untuk per-tama kalinya! Taehyung memanggil Daehyun dengan sebutan Hyung. padahal ia sendiri tak tahu pasti berapa usia Daehyun sebenarnya. kendati pertama kali bertemu, pun Daehyun telah lebih dewasa dari dirinya.

Entahlah, sebutan itu terlontar begitu saja. kiranya canggung harus memakai bahasa apa kalau sedang bercakap macam ini. lagi pula Taehyung tidak semestinya berkata tidak sopan seterusnya kepada lelaki yang belum diketahui usianya tersebut.

Daehyun membalas dengan deham dan berkata—

          “Aku tidak tahu berapa usiaku. Tapi yang pasti di negeri kami mayoritas bisa hidup seribu tahun lamanya.”

Tak ada jawaban selang tiga menit berlalu usai tutur Daehyun barusan. dan Taehyung kembali bersuara,

          “Wah, hebat. kau—dan rekanmu pasti sangat bahagia, ya?”

          “Tidak juga. Buktinya aku ditendang ke bumi.”

          “Tapi, dengan alasan apa?”

Mendesah, alih-alih mesti banyak napas yang harus Daehyun raup guna membalas berbagai tanya Taehyung yang sedikit sulit.

          “Menyalahgunakan kekuasaan. Mereka menyegel pintu langit agar aku tak bisa menjangkaunya. Dan mereka memberi syarat seperti yang telah kau ketahui.”

          “Sejauh ini kau terlihat lebih baik, hyung.”

          “Ku kira begitu.” Kedik Daehyun, mengerutkan bibir seraya bertanya balik kepada Taehyung,

          “Kau sendiri apa harapanmu setelah keluar dari tempat itu?”

Hening, lantas Taehyung balas seperti—

          “Mungkin jadi tentara. sepertinya mereka punya fisik-mental yang kuat. sejak kecil itulah impianku.”

          “Aku tahu semua riwayatmu, Taehyung-a. Tapi mengenai mimpimu tadi biar aku mendengarnya langsung saja. omong-omong mimpimu tertulis di tembok itu ‘kan? Ah aku ingat sekali, tulisan itu yang ku temukan lebih dulu saat pertama kali mendarat di kelasmu.” Senyum tipis terpatri,

Dan Taehyung dari dalam sana seperti menggeser tempat duduk lantas menyuarakan lagi berupa,

          “Apa itu alasanmu untuk menggunakan tubuhku ini, huh?”

          “Eum, seperti itulah. Hey, lagi pula bukankah sudah ku bilang bahwa kita saling timbal balik? Jika aku rugi kau juga rugi. Jika aku beruntung kau juga pasti beruntung, Sir.”

          “Well, kuterima itu. tapi mengenai kejadian tadi sore—“

Desah Daehyun terdengar berat, sedikit menyangga kepalanya dengan dua tangan tersilang.

          “Soal tadi ya? Entahlah, ku kira kekuatanku sudah hilang sepenuhnya. tapi ternyata masih tersisa. Ada aturan ketika makhluk sepertiku turun ke bumi. Semisal aku ini, lantaran menyalahgunakan kuasa. Terjadilah pemblokiran akses menuju dunia ku. terlebih selama di bumi itu, kekuatanku akan makin berkurang dan sewaktu-waktu bisa melemah.”

          “Maksudmu melemah?”

          “Saat dimana aku akan lenyap. tak ada di bumi, pula tak ada di negeriku. Yeah, kurang lebih seperti itulah.”

Tak ada balasan lagi, tapi suara gesekan tangan ke hidung terdengar jelas hingga membuat Daehyun tersenyum kecut. Mungkin—Taehyung menangis, boleh jadi dia juga kedinginan disana. jelasnya kelopak mata itu lekas tertutup rapat. Membiarkan angin malam jadi penyebab kantuknya.

Kicau burung adalah alarm terbaik di pagi tempat itu. dan suara sret dari resleting tenda, setidaknya membuat Daehyun menggeliat kecil.

          “Sudah baikkan?” tanya Yongguk, menginterupsi kegiatan Daehyun yang nyaris bangkit.

          “Yeah, sebentar lagi aku keluar.”

.

Jika kau melihat gurun itu dipenuni oleh jajaran militer yang berbaris sempurna, rapi. Decak kagum pasti tercetak tak percaya. di katakan baru jam delapan pagi, tapi mereka sudah membuat barisan semacam ini.

Ditambah suara bariton menghentak jantung tatkala wajah datar dipadu sigap itu beriringan dengan tegaknya tubuh. Oh, Daehyun geleng kepalanya sebagai rasa puas.

          “Andai aku bisa melihatnya.” Gema Taehyung, maka Daehyun sedikit mengelus bagian dadanya sambil berkata,

          “Untuk saat ini kau hanya bisa mendengarnya, bung.” Ejek Daehyun, terkekeh lah setelahnya.

          “Mereka sudah datang!” seru Namjoon lalu berbungkuk meninggalkan Yongguk usai sampaikan laporan.

Dan apa yang dilihat Daehyun, dirinya seakan kenal siapa gadis dikejauhan tengah berjalan gontai lengkap empat orang temannya menuju Yongguk.

Iya, agaknya Daehyun tak sengaja bertemu saat beberapa waktu lalu. tapi—dimana?

Tunggu, kalau dipikir-pikir dia mirip—


.

.To Be Continued.

Iklan

2 thoughts on “WHO.i.AM #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s