WHO.i.AM #3

31 copy

 

 

project by junlois

prev : TEASER | 1 | 2 |

#3 : Finally

“Kau benar-benar terlihat dewasa,”

  ||

 .

Terhitung lima pasang tungkai berdiri dihadapan Yongguk. Seragam putih, jas almamater navy dipadu bawahan warna krem polos telah menyita banyak perhatian. Mungkin Daehyun sama hal nya, kendati ia mencoba ambil langkah mendekati.

          “Mereka ini siapa?”

Senyum Yongguk terlukis tipis, mengacungkan telunjuk ke masing-masing murid tersebut.

          “Ini Jimin, Zelo, Jungyeon, Jungkook dan terakhir Ji—“

          “Anak itu kabur!” seru yang lain.

Lamat-lamat Yongguk lekas berlari, meninggalkan mereka tanpa permisi. Semula Daehyun melirik gadis paling ujung bersurai cola, lamat-lamat terpaksa kembali tertuju ke punggung Yongguk yang mulai menjauh.

          “Apa kita akan diam disini? Dia teman kita, guys!” usul Jimin, tanggap pun terlaksana guna ikut mengejar.

Di sudut lain Daehyun masih mengingat-ingat dimana ia pertama kali melihat gadis itu. benar-benar mirip—sekali dengan seseorang. kemungkinan besar gadis itu sampai kemari karena keperluan. Jelas Daehyun, ia akan pastikan setelah kondisi normal.

          “Han Sanghyuk berhenti kau!!”

Jarak tempuh Yongguk akhirnya dapat menjangkau, lantas meraihnya pun menghempasnya ke daratan pasir.

Napas tersengal, pula rontaan Sanghyuk nyaris membuat Yongguk terjengkang biar posisinya tengah menindih anak itu. Sanghyuk beberapa kali menggeram serta menggertak giginya kesal. Kejiwaanya agak kontras manakala seluruh emosinya membludak saat itu juga.

Dan apa yang terjadi?

Yongguk benar terjengkang membentur pasir, membiarkan Sanghyuk lari lebih cepat lantaran lolos begitu saja.

          “Letnan!!!” seru yang lain lengkap raut khawatir,

Namun Daehyun justru tak ada disana. tahu-tahu dirinya telah berada di jarak pijak bersama Sanghyuk. Satu hentak langkah, juga satu tarikan harusnya lekas terlaksana. Dan—

          “Argh—“ erang Sanghyuk.

dia mendapatkannya, menggulingkan Sanghyuk ke kanan kiri upaya meredakan emosinya.

Gemeletuk Daehyun ikut terdengar manakala dari dalam tubuhnya seakan menarik oksigen banyak-banyak. Iya—Taehyung menyeru, lantas berbisik untuk melonggarkan remasan Daehyun di bahu Sanghyuk yang masih dalam emosi.

          “Pakailah caramu yang halus, hyung!” kiranya hanya itu yang terdengar sepintas.

Maka ia melepas cengkeramnya, namun di samping itu Sanghyuk terdiam melihat Daehyun tiba-tiba menyerah tanpa sebab.

Faktanya ia tak mampu berdiri lagi karena luka bekas senapan itu kembali memberi efek. Ia meringis, dan Daehyun menghindar lantas berdiri tegak. Menetralkan emosi serta napas beratnya. Pun mereka buru-buru meringkus Sanghyuk, memapahnya ke kubu tenda yang jaraknya lumayan jauh.

Yongguk sempat menoleh melihat Daehyun undur langkah dan masih membelakangi. Akan tetapi ia tak dapat hampiri guna bertanya kabar—sebab alasan, Sanghyuk khawatir kabur lagi.

Maka gadis itu yang mencoba, berjalan ke arah Daehyun dan berdiri tepat dibelakang punggungnya.

          “Terimakasih, karenamu teman kami kembali ditemukan.” Tengkuk merunduk, jemari bertautan. Sejemang gadis itu hendak berucap kembali, di iringi dirinya yang mulai berbalik arah. Tapi—Daehyun,

Tiba-tiba mengunci tangannya sambil berkaca-kaca, menggeleng kepala guna melarang. Pun mulanya gadis itu tak tahu mesti bagaimana kendati Daehyun tiba-tiba demikian. Dia—hanya melihat sorot matanya yang kuyu, menampilkan buliran lembut hendak meluncur. Alih-alih amati tiap inci wajahnya, malah mengingatkan kepada—

          “Tae-hyung? Tidak, maksudku Dae-hyun?” gemulai suaranya menambah kesan haru.

Angin gurun dari selatan bergemuru merdu, melingkup dua insan yang bertatap satu sama lain setelah lamanya mereka terpisah.

Jisun telah sempurna berhadap-hadap dengannya. manik berbinar, tangan beralih mengusap dua pipi lelaki itu. Namun Daehyun lekas mencegah, meraihnya cepat hingga berujung dekapan. Yeah, tak perlu habiskan banyak waktu untuk menebak satu sama lain. Dengan cara menatap manik, serta berbagi masa lalu, Mereka temukan jawabannya.

Dan terbukti, perasaan itu begitu kuat. Belum berubah dari asalnya meski mereka benar-benar telah beranjak dewasa. Pada dasarnya kata cinta belum bisa mereka pahami, tapi entah mengapa hari ini sangat terasa. Seolah mereka mengenalnya dengan baik. ditambah aliran darah dimasing-masing tempat seakan meluncur cepat, memberi efek gemetar kepada; pupil, tangan, bibir, serta jantung. Oh astaga!

Alih-alih tersadar akan keadaan, lantas mereka lepas dekap itu buru-buru. Berdeham pula keduanya guna menyelaraskan suasana. Jisun berpaling menunjuk arah tenda dan berkata,

          “Sepertinya aku masih punya urusan, maksudku—“

          “Tidak perlu buru-buru, setelah menyelesaikan urusanmu. Kita bicara nanti.” tutur Daehyun ramah. begitu pengertian dan masih belum berubah, pikir Jisun.

          “Ayo! Mereka pasti menunggu.”

.

.

.

Siang itu Jisun duduk berhadapan dengan Sanghyuk. Melempar deretan tanya yang telah tertulis di agenda hitamnya. Ia kemari atas perintah kepala sekolah, orangtua dan kepercayaan Letnan Min. Yeah, dua puluh hari Sanghyuk tidak masuk sekolah dan tak pulang ke rumah.

Banyak yang mencarinya namun ia seolah hilang tak meninggalkan jejak apapun. Lalu setelah berita hilangnya Sanghyuk, Jisun mendapat kabar dari Yoongi bahwa anak itu mengikuti pelatihan militer di perbatasan gurun antara negara seberang. Lantas Jisun lekas bergegas untuk menemui Yongguk yang sebelumnya telah bertemu pada saat kenaikan pangkat Yoongi, di ketahui Jisun ikut hadir disana lantaran undangan yang di beri Yoongi saat itu.

Sanghyuk bukan sembarang murid, dia—punya sedikit trauma hingga kejiwaanya nyaris terguncang sepenuhnya. Mungkin terjadi akibat kecelakaan dua tahun lalu. dimana Sanghyuk dan adiknya Sangjoo berlibur ke perbatasan. Gadis itu mengajak Sanghyuk untuk meninjau lebih dekat benteng negara seberang. Namun sungguh naas, kejadiannya malah terlampau fatal. Sanghyuk lengah cuma karena tali sepatunya lepas. yang ia dengar dikejauhan hanyalah bunyi senapan membentur jantung seseorang cukup kuat juga keras. Ketika ia sadar bahwa Sangjoo ada disana, Sanghyuk berlari cepat lantas menemukan sang adik telah terkapar tanpa nyawa.

Apalah daya, Takdir tak bisa di cegah semudah mengendalikan rem. Cukup tahu bahwa kelengahan itu akan berujung hal seperti; trauma juga depresi berat yang di alaminya. Kendati selang satu tahun kemudian, ia dinyatakan sembuh. Totalitas, tak ada gangguan lagi. maka orangtuanya mengambil langkah untuk memasukannya kembali ke sekolah. dengan ekspektasi Sanghyuk bisa berinteraksi lagi dengan teman-teman barunya. Tapi—yang terjadi selanjutnya malah seperti demikian,

Dirinya sering kabur entah kemana, lalu nekat menghilang yang ternyata diketahui tengah mengikuti pelatihan militer semacam ini.

Tentu saja Yongguk tak tahu bahwa anak itu punya masalah besar dengan pihak tertentu dan kejiwaanya. Dia hanya bertugas menerima anggota saja dan melatihnya. Lagi pula dalam administrasi itu tercatat bahwa Sanghyuk punya riwayat normal-normal saja. bagaimana tidak? ia mengubah nama, tanggal lahir serta riwayat hidupnya. Yeah beruntung, pihak intel lekas memberitahu kejanggalan tersebut kepada Yoongi. dan hasilnya Jisun lah yang dipercayakan turun tangan.

Biar bagaimana pun, dia—telah ditemukan sekarang. dan dalam waktu dua jam lebih, Jisun mengintrogasi Sanghyuk. tak luput rekannya yang lain ikut membantu dengan cara menenangkan dan melontar beberapa kata dukungan.

Lantas, apa tanggapan Sanghyuk?

Dia mengangguk lemah, bersedia kembali ke rumah dan bersekolah lalu menjalani terapi ulang dengan Ayah Jisun. Sungguh melegakan bukan? mereka dapat bernapas bebas sekiranya.

Ambisi kuat ingin melenyapkan itu memang terkadang malah memberi efek buruk kepada jiwa serta orang sekitar. Sanghyuk sadar, dendamnya takkan berbuah apapun kendati sekeras apa ia melatih diri untuk membrantas musuh tersebut. Hari ini Sanghyuk mengantongi materi berharga. Takkan ia ulangi dirinya yang seperti tadi. Mungkin pikirnya, Sangjoo akan lebih sedih juga kecewa melihat sang kakak malah berniat ingin menjadi iblis.

          “Tapi tidak lagi. Aku akan hidup dengan normal, Sangjoo-ya.”

Maka semua orang tersenyum haru, dan rekan Jisun yang lain ikut merangkul Sanghyuk dan memeluknya upaya memberi sedikit semangat.

Yeah, selesai lah masalah klien terakhirnya.

 …

Senja mulai memancar. oranye–warnanya menyelimuti gurun serta sekitarnya. Bergegas para peleton di perkemahan mengumpulkan kayu bakar ke tanah lapang sambil di suguhi barisan kakinya yang rapi dan teratur. Mereka bernyanyi serentak selagi tangan sibuk memikul kayu-kayu ukuran besar.

Lain lagi dengan empat kawan Jisun dan juga Sanghyuk, mereka asik bermain Truth or Dare. Tawa mereka sungguh terdengar renyah ke kuping Jisun yang sibuk mengamati barisan tentara tersebut. Untuk saat ini ia terduduk sendiri. namun dua menit kemudian, Daehyun datang.

Mengetuk tiap langkah dari sepatu kulitnya. Pula Jisun tak dapat mengelak bahwa ia sungguh tak siap kendati dirinya akan satu jajar dengan Daehyun, kembali.

          “Sepertinya hobimu beralih ke menyendiri?”

Dan benarkan perkiraan Jisun tadi, Daehyun datang sambil mengantongi dua tangan di balik saku jubah putihnya yang telah terlampau kotor.

Dia terduduk lantas meregangkan dua kakinya seraya berkata, “Oh, akhirnya~” ditambah napas panjang, lalu melirik Jisun yang tengah menunduk gugup.

          “Apa?”

Alis terjengit, lantas Daehyun protes cepat.

          “Apa katamu? Hey, lupa ya soal tadi siang?”

Tertawa di balik punggung tangan, lamat-lamat Jisun membuang muka selagi ia berupaya meraup kembali napas normalnya.

          “Tentu saja aku ingat!” tegas Jisun demikian,

Meluruskan pandang, sementara tangan masih memeluk erat dua dengkulnya. Pun dua bola Jisun membinar takjub manakala seberkas senja menyorot ke arahnya, cantik. Terekspos jelas warna oranye berselimut di langit yang sebentar lagi akan menampilkan tirai hitamnya.

Riuh bariton dari arah timur menambah kesan ramai seakan di pinggir gurun ini tengah ada festival besar-besaran. Tawa yang lain juga saling adu dengan obrolan hangat saat membahas masa lalu. begitu pula kedua pasangan disini, kendati bukan kekasih tapi mereka nampak seperti demikian. Malu-malu serta rasa canggung kadang mewarnai konversasinya. Oh, tak perlu mengenang masa lalu dengan lisan keras, cukup mengelola memori ditambah suara hati mereka sudah bisa menikmati obrolan langka tersebut.

Sesungguhnya, mereka hanya membutuhkan cerita masa kini saja.

          “Kau benar-benar terlihat dewasa,”

Dua irisnya memutar laun ke arah Daehyun, sembari tangan menggores tulisan iseng dari ranting kayu ke tanah hitam itu. balasan Daehyun tersenyum simpul, dan ia menjawab seadanya. Mengedik bahu terlebih dahulu, dengan menengadah ke langit yang mulai menampilkan kegelapan. nyaris sama seperti suasana lima tahun lalu.

          “Kau tahu?”

Lamat-lamat kuriositas Jisun mulai terpancar, lekas-lekas ingin mendengar jawaban Daehyun selanjutnya. maka tatap Daehyun bergulir sendu di jarak satu jengkalnya bersama Jisun.

“Yeah, disudut lain aku ingin segera kembali. tapi disudut yang lain juga—aku ingin tetap disini.” singkatnya begitu,

menghela napas, Jisun pula mengambil kembali potongan pembicaraan tersebut.

          “Jadi—apa alasanmu ingin tetap disini?”

          “Eum, mungkin karena seseorang.”

Katakan saja bahwa Jisun merasa tersipu ketika Daehyun mengatakan hal barusan. Ia pikir itu sudah jelas akan mengarah kepadanya, tetapi—

          “Aku harus melindungi Taehyung, sebagai—adikku.”

—pupuslah angan-angan Jisun yang mengharapkan kesan manis dari ungkapan tersebut. rincinya itu malah teruntuk Taehyung seorang, dan Jisun akui bahwa dirinya cukup iri atau mungkin dapat dikatakan cemburu. Kalau bisa ia juga ingin mendapatkan perlindungan darinya, Pikirnya demikian.

          “Ada apa?”

Daehyun menoleh kembali, lengkap raut datar juga bibir tebal yang terbilang miring enam puluh derajat.

          “Kalau begitu tinggal lah disini dan urus Taehyung sampai bisa memakai popok dengan benar!”

Oh, tiba-tiba umpatnya keluar. Sungguh Jisun tak menyadari bahwa kata-katanya barusan telah membentur dinding-dinding perut Daehyun agar terbahak semestinya. Tidak, bukankah ini menggelikan? Ayolah, rasa cemburunya kentara sekali!

          “Kamu cemburu karenanya?”

          “Apa? dia cemburu karenaku?”

Suara itu lantas bersinggungan dengan tanya Daehyun sebelumnya. Iya, sayup-sayup Taehyung telah ikut andil rupanya.

          “Dengar, tidak maksudku. Taehyung saja kaget mendengarnya, Ji!”

          “Bagaimana bisa? Aku saja tidak tahu dimana Taehyung sekarang ini, hah.” Desah Jisun, mengerutkan bibir selagi ranting tadi di ketuk kasar ke dasarnya seolah ia menumpahkan kekesalan tersebut.

          “Padahal belum kukatakan bahwa Taehyung itu sebenarnya ada di posisi dua. Tapi—”

Sejenak Jisun terbatuk, seakan-akan ia sudah pasti percaya bahwa posisi pertama itu ditempati dirinya. Pula Daehyun ternyata telah terkekeh manakala melihat ekspresi Jisun macam itu, penuh harap yang berlebihan. —Astaga.

          “Kau pasti berpikir dirimu yang pertama ‘kan?”

Dua pipinya merona merah, gelagapan pula Jisun mencari atensi lain guna menutupi segalanya. Daehyun paham, sengaja ia cuma menyunggingkan senyum tipis. Barang kali ketika panik mencari alasan, ia mau menghadapnya dengan jarak yang lebih dekat lagi. Jangan Jisun saja yang berhak berharap, Daehyun juga punya harapan manis untuk momen nya malam ini. alih-alih senyum arti tergores jelas manakala lampu-lampu itu ikut menyala dari tiap tiang juga kabel-kebel yang berayun didekat mereka. disaat itu pula perkiraan Daehyun dapat benar sepenuhnya,

          Lantaran kelabakan mencari arah untuk menghindari konversasi yang agaknya mulai memanas itu, Jisun malah terlampau menghapus jarak dengan wajahnya. Oh tentu, hampir-hampir tak ada jarak satu senti pun. Cukup lama gadis itu menahan napas guna menghindar dari kebuasan Daehyun yang sudah terbaca dari semburatnya.

Lagi, dua hidungnya saling bergesekkan, dan Daehyun beralih mengusap surai Jisun selagi tangan lain menunjang posisinya.

          “Daehyun-ssi, m-maksud-ku,“

Chu

Oops, kendalinya lepas. Daehyun beri satu kecup itu tepat di dahi gadisnya. lantas Jisun menutup mata barang adegan tersebut berlangsung mematikan. Bagaimana ceritanya kalau sejemang tadi jantungnya sempat meminta berhenti berdetak. dan kini malah berdetak lebih cepat tanpa intruksi apapun dari empunya.

Kiranya harus bagaimana, Jisun memilih angkat kaki segera, dengan dalih kabur dan ikut bergabung bersama teman-temannya. Apalah daya, pun Daehyun malah tertawa kecil dari bekapnya seraya bergeleng-geleng tak percaya tatkala Jisun begitu panik mencari obrolan kepada temannya yang sibuk bermain tanpa memedulikan ia seorang. Yeah, agaknya ia malu.

.

.

.

          Pukul sebelas malam, semua telah terlelap di bawah hamparan selimut yang memanjang ke ujung tenda. Omong-omong mereka tak bisa tidur didalamnya lantaran ingin melihat bintang yang akan jatuh malam ini. Tapi itu—terjadi sesudah mereka lepas dari kantuknya menuju gerbang mimpi.

Bintang itu jatuh tepat ketika Daehyun tengah bersiap-siap untuk pergi; Yongguk yang bertugas mengantarnya. sayup-sayup Jisun tersadar ketukan sepatu mereka barang melewati, sekilas. dapat Jisun lihat punggung Daehyun yang dibalut jubah putih kusam itu, tengah pokus berjalan menuju mobil gurun milik Yongguk. Binar-binar lara terpeta jelas dari sorotnya, ingin sekali menghabiskan waktu bersama lebih lama lagi. bahkan Jisun belum bertanya soal kondisinya sekarang, baik-baik saja atau tidak. bertanya kapan mereka bisa bertemu lagi atau tidak. memang, tadi itu mereka membahas apa saja? sia sia rasanya jika mengingat waktu-waktu yang terbuang itu.

Dirinya memukul kecil cangkang kepala beberapa sesi, menggerutu sambil mengguncang tubuh, kesal. lantas menutupnya lagi dengan selimut tadi. Dan ia membuka kembali dengan upaya bisa meninjau kepergian Daehyun yang telah berpindah tempat ke dalam mobil. sayup netranya mengamati jelas laju kendaraan itu, sampai pada akhirnya sudah tak terlihat lagi lantaran di tutupi gurun-gurun yang sedikit menggunduk.

Mendesah, pun Jisun cuma bisa menatap bintang-bintang diatas sembari menyesap bibir kuat-kuat guna menghentikan proses tangisnya.

          “Kamu pergi secepat bintang itu jatuh. apa kelak akan terjadi seperti itu lagi, hn?”

Sementara dalam perjalanan, juga Taehyung membisikkan gema singkat berupa,

          “Terimakasih, hyung.”

Tujuh hari sesudahnya.

Daehyun kembali sibuk dengan dunia ilmiahnya, Jisun pula sementara waktu tak dapat menerima klien sebab ujian sekolah sudah dipastikan akan berlangsung minggu ini.

Mereka telah bergelut pulang dengan aktifitas masing-masing. Kendati mesti ada yang mengganjal lantaran kata rindu, sebisa mungkin mereka harus berpokus satu tujuan untuk mewujudkan harapan individu juga orang-orang yang menantinya.

Jadwal siang nanti Daehyun dan Minsoo akan rapat besar-besaran bersama petinggi kota hingga petinggi negara. Ada pembahasan singkat mengenai alat yang akan mereka pergunakan selama perang itu berlangsung. Ditambah perlindungan soal warga-warganya, di khawatirkan gelombang itu akan sampai ke rongga tanah yang terbuka dan menyebabkan guncangan besar. Lagi pula jika ada celah yang terhubung ke markas besar tersebut, di prediksi bisa ikut masuk menewaskan orang-orang didalamnya.

Untuk itu mereka berusaha mencari jawabannya, seperti angan agar alat tersebut dapat digunakan namun tidak membahayakan keselamatan orang-orang di negara ini.

Ternyata tak sesingkat yang dibicarakan, rapat itu membutuhkan waktu kurang lebih dua jam guna menyelesaikan keputusan yang akurat. Persetujuan dari petinggi negara pun tak sembarang dapat di iya-kan. pula perlu menimbang detail kronologisnya. Takut-takut salah ambil keputusan dan presiden dari negara ini juga bisa saja berhaluan menentang keras hasilnya. Betul-betul menegangkan, padahal perang belum sepenuhnya ditetapkan, tapi mereka telah dibuat cemas oleh alat tersebut.

          “Kau lihat? Nyaris saja aku mati!” gerutu Minsoo, tangan tertempel rapat di dahi guna mengukur suhu tubuhnya.

Tentu, panas dingin di ruangan itu cukup bersinggungan tatkala sebagian petinggi menggebrak meja keras tak setuju, pula ada yang menyudutkan para ilmuwan itu dengan cara bicaranya yang halus namun bersifat menakuti.

Bahkan sepanjang jalan pun, Minsoo masih menggerutu kendati ia tengah mengendalikan kendaranya. Tetapi beralih ke Daehyun yang ada disampingnya malah terlampau senyap—tak bicara apapun: Tetap banyak diam meski kadang senyum simpul itu hanya sekadar tanggapan semata. Alih-alih Minsoo mencoba menyampingkan kendaranya ke pembatas tol. Gadis itu menempelkan satu tangannya ke dahi Daehyun, pula tangan lain di lekatkan ke dahinya. Mungkin itu cara mengukur suhu, sama seperti yang ia lakukan di gedung rapat tadi. Faktanya yang di dapat Minsoo malah terbilang normal, lantas—ada apa dengan anak ini?

          “Kau sedang tidak ketakutan ‘kan?”

Daehyun menoleh guna sampaikan senyum singkatnya lagi. lekas-lekas ia mendesah lalu menatap lalu lalang kendaraan disamping jendelanya. Dan Minsoo tentu menaruh kecurigaan, takut kalau Daehyun atau kepada Taehyung yang telah di anggapnya sebagai adik itu sedang menyembunyikan sesuatu.

Berinisiatif mencari celah jawabanya lain waktu, maka Minsoo bergegas mengantarkan Daehyun pulang, pun tidak ada acara langsung ke tempat kerja. Well, kiranya anak itu tengah membutuhkan istirahat cukup setelah melawan perdebatan petinggi tadi.

.

          “Aku akan memasak bubur, kau istirahat saja.” imbuh Minsoo selagi memasang celemek dapur bermotif es krim.

Tak ada jawaban, sayup-sayup wujudnya tak nampak di sudut ruang tamu atau dapur. Kiranya ia setuju dengan saran Minsoo barusan; istirahat di kamar lebih baik.

          “Hah, aku khawatir dia menyembunyikan sesuatu.” Kemam Minsoo kemudian, sembari berkacak pinggang dan lekas menyiapkan sajiannya.

Terkadang ia senang jika Daehyun mau terbuka soal permasalahan yang ada. Kendati usianya terpaut sepuluh tahun, Minsoo sangat menyukai kekayaan pengetahuan Daehyun. Tak hanya itu, ia juga beranggapan bahwa lelaki itu adalah reinkarnasi adiknya yang tewas empat tahun lalu. iya, katakan lah dari sikapnya yang dingin dan tak mudah bersosial, Daehyun itu nyaris mirip dengannya. harus Minsoo akui kadang pula ia yang bersikap dingin dan mengabaikan usulnya. namun semua itu tak begitu nyata, terjadinya ketika ia sedang kelelahan saja.

Tiba-tiba disudut nakas—telpon rumah terdengar nyaring, lantas Minsoo menjeda sejenak aktifitas yang hendak membawakan nampan berisi bubur tersebut ke kamar Daehyun. Kebetulan dirinya mengarah kesana, maka ia lekas-lekas mengangkat dan menyapanya laun.

          “Daehyun-a?!”

.

Setelah percakapan itu berlangsung lima menit, Minsoo sengaja mendudukan diri sejemang guna menetralkan pikirannya. Bukan perihal suara gadis yang menjadi pokok masalahnya, tapi ini—

          “Noona?” panggil Daehyun, di ambang pintu kamar setelah ia menutupnya rapat.

Sorot Minsoo lekas menjurus ke wajah Daehyun, lalu mengamatinya hingga ke mata kaki. Dia—tidak sedang bermimpi ataupun berkhayal. Minsoo tahu, dan apa lelaki itu bisa menjelaskan lebih lanjut? Tidak, mana bisa ia asal prediksi hanya dari suara perempuan itu memanggilnya dengan nama yang berbeda. Ia yakin itu bukan cuma sebatas panggilan keliru, jelas sekali di akhir panggilannya ia menekankan bahwa ia menyebut nama Taehyung juga. Ah—ini cukup membuat Minsoo terguncang.

          “Kau baik-baik saja ‘kan?”

          “Siapa kau?!”

          “Siapa aku?”

Merasa bingung, Daehyun memiringkan kepala sambil mencari-cari maksud pertanyaan Minsoo barusan. Terbukti, belum genap tiga puluh detik, Daehyun menemukannya. Tak langsung di lontar, tapi tubuhnya merespon sentakkan yang menyengat urat nadinya.

          “Kau—“

          “Katakan! Siapa kau!” seiring bentak itu menyapa, pun Minsoo bangun dari duduknya. mengepal tangan kuat-kuat seakan ia telah banyak di bohongi.

          “Okay, aku jelaskan. Tapi kumohon kau harus tenang!”

.

Perundingan itu menghabiskan waktu setengah jam, beruntung Minsoo tak begitu larut dalam kesalah-pahaman. Begitu pula Daehyun yang sangat ahli menenangkannya. malah—Minsoo nyaris menangis kala mendengar bahwa hidup Daehyun di gantungkan pada seorang Taehyung yang asli, serta durasi dirinya menetap dibumi ini. cukup ironis, tanggap Minsoo demikian.

Melihat nanar punggung Daehyun melangkah laun menyisir tirai jendela hingga menampakkan matahari redup yang hendak di gulung awan pekat pembawa hujan. baru saja, dan benar-benar baru saja terhitung beberapa minggu telah menganggapnya sebagai adik yang kini lelap dalam tidur panjang, alih-alih suatu saat nanti Minsoo pun harus sigap menerima kelenyapan Daehyun yang tak terkira kapan terjadinya. Sungguh, lebih menyakitkan di banding adik kandungnya yang tewas sebab kecelakaan.

          “Kau harus berusaha keras!” dukung Minsoo, derap menghampiri Daehyun dan menepuk bahunya beberapa sesi.

          “Kau juga, Noona!”

.

.

.

          Kala itu Daehyun tak sengaja bertandang ke rumah kosong dekat sekolahnya terdahulu. ada hal yang mesti di pastikan kendati dirinya bulan-bulan mendatang akan lebih sibuk lagi.

Dari kejauhan rumah itu tampak hidup, kadang-kadang orang disekitar sering melihat sosok yang berkeliaran didalamnya lengkap tudungan hitam juga jubah senada. Beragam anggapan, ada yang menyebut itu malaikat maut, ada pula yang menyebutnya hantu. Jelas Daehyun ia tak takut barang sedikit.

Maka ia melangkah laun selagi dua tangan bersembunyi dibalik coat hitamnya. Butuh penglihatan jernih guna menjangkau beranda rumah tersebut. pasalnya ada kabut-kabut abu yang menghambat setiap mata yang mencoba berkunjung kesana. tak heran Daehyun juga kadang harus mengempas tangan bersamaan agar kabut itu sedikit berkurang dari tempatnya.

Pun setelah berhasil, ia segera disuguhi akar-akar yang semula di tempatnya akan merahbah cepat ke arahnya, seolah-olah merayap berusaha menjatuhkan musuh atau tamu tak di undang.

Pintu rapuh tersebut lantas terbuka sendirinya, menyambut kedatangan Daehyun lengkap dentuman keras bagai penutup.

Debu-debu tebal menepi di berbagai sudut, sehingga jejak kaki Daehyun tak dapat hilang dikala ia sedikit merangkak ke arah almari besar yang menjulang ditutup kain putih rapat-rapat.

Jemarinya nyaris saja menyingkap kilat kain tersebut. namun tiba-tiba suara gaduh dari ruang sebelah membuat ia curiga dan jelas menjeda aktifitasnya. Kiranya ada suara ringisan gadis yang terdengar jelas ke kuping Daehyun.

Tanpa aba-aba, dirinya lekas berjalan gontai, perlahan-lahan guna pastikan bahwa itu bukan—

          “Jisun?”

Lantas gadis itu menoleh sekenanya, barang detik berikutnya melekat di tangkapan Daehyun. Ah—siapa yang tahu bahwa mereka akhirnya bertemu kembali ditempat macam ini.

Maka Daehyun lekas-lekas menyambar Jisun yang tergeletak duduk kesakitan. Mula-mula ia memeriksa dahulu bagian yang lainnya, hingga atensi kini beralih binar ke arah dengkul Jisun yang terluka. Lamat-lamat pun dua pasang manik itu saling tatap, mengemukakan suara hati berupa tanya soal kabar. Sayangnya tak berlangsung lama, Jisun lekas di papah menuju kursi dekat pampang pintu.

          “Apa yang kaulakukan disini, hn?” Tanya Daehyun, selagi melapisi luka tersebut dengan sapu tangannya.

          “Eum, A-aku—“

          “Merindukanku karena tidak bisa bertemu kemarin sore?” potong Daehyun lantas dilengkapi senyum miring.

          “Apa? Tidak! untuk apa? kamu juga tidak peduli karena wanita itu, huh.”

Terkekeh, tak bisa menghindar jikalau sudah mendengar gerutu Jisun macam ini. yang dapat ia lakukan hanya menggeleng kepala sembari berlutut menengadah mimik Jisun yang dibuang jauh-jauh ke tepian.

          “Marah saja, aku tidak akan sedih kok.”

          “Ya!”

 


.

.To Be Continued.

.

.

n/a : Alo penikmat seri Who I Am? Mohon maaf atas keterlambatan publish yang harusnya hari minggu kemarin sudah ditempatkan terpaksa diundur. Kenapa? Ada yg tau? iya… Saya sibuk juga sama kerjaan/aktifitas yang lain. untuk sementara, kedepannya juga kiranya akan sering ada hambatan/keterlambatan publish. Dan aku juga udah berusaha keras buat menyelesaikannya secepat mungkin, sebab aku udah putuskan buat ngambil cuti sementara/hiatus untuk fokus sama aktifitas nyata.

Sedikit catatan perihal ff, jika ada alur yang sedikit di percepat. Itu—adalah kesengajaan aku buat melongkap dialog/percakapan yang sudah berulang dikatakan. Semisal soal Minsoo yang minta penjelasan siapa Daehyun, atau yang lainnya seperti sudah diketahui kalian. iya, aku bilang tadi… hanya unsur kesengajaan. Biar aku irit kata juga.. hihi 😀

Oh iya, sedikit tambahan buat penggambaran cerita. Bahwa fiksi ini terinspirasi dari drama dan sosok Do Min Joon di drama ‘My Love From The Star’. Jadi bagi yang belum tau siapa Daehyun disitu mungkin bisa bayanginnya semacam itu. ^_^ intinya masih saudara dekat Kim Soo Hyun/ Do Min Joon. Hihi 😀

Untuk genre, maafkan kalau campuraduk begini. dan durasi kali ini juga paling pendek diantara dua part sebelumnya. Hoho -_-

Well, segitu aja kicauannya. Aku harap kalian ngga bosan-bosan buat nunggu part selanjutnya.. ^_^ Terimakasih.

Iklan