[Orifict] Umpatan Lewat

502984710

pic by : www.gettyimages.com

junlois

Siang itu aku dan kak Nay punya rencana membeli satu kaleng cat tembok di toko material dekat pasar kota. disini—cuaca agak mendung, jaga-jaga saja kami pakai jaket sekaligus pelindung lain guna antisipasi dikala hujan menyerang ditengah jalan. tak lupa kak Nay mengantongi mantel lebar dibawah jok sepeda motornya. Aku meninjau kembali langit-langit, ternyata masih mau tersenyum untuk mempersilahkan kami pergi sebelum dirinya memberi peringatan dengan guntur, senjatanya.

            “Hati-hati ya,” imbuh ibu dibalik pagar.

Kak Nay mengacung jempol seraya memundurkan kendara roda dua tersebut, alih-alih agar bisa lolos dari hambatan menuju jalan aspal di seberang kami. Sepertinya kak Nay sudah siap lepas landas, terbukti dari tangan kanan yang ia cengkeram ke bahu gas sambil beralih ke kaca spion; mengamati ibu masih tersenyum ramah seakan hatinya berdo’a dengan kesalamatan anak-anaknya. ku putar bahu sambil melambai-lambai guna menenangkan hati ibu yang bertaut kecemasan.

            “Dah bu, kak Nay itu jagonya berkendara.”

Ibu mengangguk, dan motor kami segera melaju perlahan dan menjadi seimbang diatas aspal yang merentang ke pertigaan menuju kota. Jarak yang kami tempuh sekitar 1 km, tak begitu jauh menurutku. kendati memang di desa kami belum ada yang bisa membuka toko material ataupun toko serba lainnya, pun memang jarak yang kami tempuh cukup menguntungkan. Jadi tak banyak pula yang mengeluh tentang pasar kota yang jauh dari jangkauan kami.

Kak Nay telah memutar arah kanan, adalah jalan menuju pasar. lekas-lekas atensiku tertuju pada lalu lalang kendaraan disamping kami. saling serobot dan adu membunyikan klakson beritme panjang. Terkadang mereka tak tahu caranya menggunakan lampu sein guna menyalip pengendara lain. kak Nay agak sebal melihatnya, kendati ia tak ikut-ikutan tapi sopir angkut yang mengikuti jalurnya di belakang terus membunyikan klakson, sambil berteriak; “Neng, lambat banget sih.”

Otomatis kak Nay marah, dan dia menyampingkan motornya sambil memberi celah angkutan itu bisa lewat sesukanya. disana pula puncak dimana ia terus mendesak jarak, mengumpat seperti dukun mengucap jampi-jampi maut.

            “Nggak bisa nyalip aja belagu minta orang minggir seenaknya, huh.”

Aku menyahut meski suara kak Nay agak samar karena helm yang di pakai, “Sudah kak, nggak penting juga,” lantas ia mendengus, “Mel, nanti-nanti kalau kamu bawa motor sendiri pasti ngerasain gimana posisi kakak sekarang.”

Aku bisa apa? kak Nay marah dan tersinggung, makin-makin ia mengebut sambil memepet kembali motornya dengan angkutan tadi.

            “Bang, kalau mau gaya, belajar nyupir dulu gih ke pak polisi,” ejek kak Nay lalu mendahului angkutan tersebut dengan lajunya yang super cepat diatas angin-angin tak berwujud.

Dia terus mendumal apapun, menaik turunkan bahunya, menggerutu entah sampai kapan hingga pada akhirnya aku malah ingin tertawa, geli rasanya. Baru kali ini kak Nay yang biasanya super cuek dan dingin tiba-tiba marah bergejolak hanya karena angkutan tadi.

Eh, lucu juga sih…


 

.

fin.

Note : haha… ketawa dulu ya 😀 / eum, anyway ini cerpen indo pertamaku yang dipublish dimari. aslinya aku lagi kena writer block, tapi ternyata setelah mendapat ilham kemarin siang pergi sama kakak, terciptalah beginian -_- maap ya, kata dan cerita belum sempurna. huhu~

Iklan

One thought on “[Orifict] Umpatan Lewat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s