[Orifict] Sisa

 

junlois

.

ingatan apa yang kupunya,

.

 

Tentang hari-hariku yang merasa lusuh ketika pulang sekolah kemarin sore. ketika aku merasa bahwa ada seekor makhluk kecil tengah menggelayuti tungkai lantas merajukku guna lekas berjongkok menghadapnya, dan mungkin ia menaruh ekspektasi besar agar ku timang atau bahkan memberinya sebuah makanan ringan.

Kebetulan masih ada sepotong ikan salmon sisa makan siangku disekolah. Dua manik emerald itu lantas berbinar bukan main, serta-merta hidung merah mudanya menciumi pergelanganku yang tak sengaja bersentuhan dengan salmon tadi. dia—memang sudah kelaparan, ku sodor salmon tersebut dan menaruhnya laun tepat di atas sebilah sayap kardus pinggir trotoar.

Entah mengapa keluhku perihal beban seharian tadi seakan lenyap hanya dengan melihat kucing itu menyantap makanannya teramat lahap. Aku tertawa kecil jujur, berjongkok kembali lamat-lamat mengelus pucuk kepalanya yang di tumbuhi satu warna bulu yaitu, putih.

Cepat sekali, alih-alih aktifitasnya telah usai. kembali ia berputar menghadapku, berniat menggelayuti kaki-kaki yang tertekuk. Rasa-rasanya malah ingin membawanya pulang ke rumah, tetapi mana mungkin bisa. Ibu punya asma, pun kak Nay apa lagi. ia tidak suka kucing, kalaupun mendapati mereka duduk di teras luar saja, kak Nay pasti akan buru-buru menyingkirkannya dengan setangkai sapu ijuk.

Termenung, aku malah tak tega bilamana meninggalkan ia sendirian disini; di tempat yang ramai oleh lalu lalang kendara pula kumuhnya dengan tempat sampah dimana-mana. Bahkan dua emerald itu seolah memberi tatap, memintaku agar memangku lantas membawanya ke tempat yang lebih nyaman. Terenyuh benakku, lekas-lekas meraih tubuhnya dan mengelus ubun kucing itu lembut-lembut.

“Maaf ya, sepertinya kamu tidak bisa ikut bersamaku. Tapi besok janji kok, aku pasti kembali dan membawa makanan lebih banyak lagi.”

.

Sore itu aku kembali ke tempat kemarin, sambil menjinjing sekantung makanan kucing yang sengaja ku beli di minimarket. Dari kejauhan dapat ku lihat sebagian kepala milky (kucing kemarin yang sudah kuberi nama) tergeletak lelap dari balik tembok bata-bata merah. Sepertinya ia suka sekali tidur dengan gaya semacam itu. sejenak ku terkekeh, lalu derap mulai ku percepat, tak sabar ingin memangku milky dan mencubit pipi gemuknya.

Selangkah demi langkah saat hendak ku capai tempat itu,

Jelas sekali darah-darah bercecer di sekitar, pula lalat-lalat hijau mendarat di dekat milky. Bukan karena bau sampah, tapi ini kepada milky sendiri yang telah di kelilingi serangga jorok itu.

Hatiku tercabik, seiring netra melihat ia terkapar dengan sebilah luka tepat di tenggorokannya. dengan lidah mungil yang terjulur, pula emerald yang kemarin masih indah dipandang kini sudah membelalak miris, bahkan bulu-bulu putih yang semula bersih kini telah menghitam bekas kotoran juga dipadu merah darah, pekat. God, tak ku sangka, benar-benar tak ku sangka—

Berusaha ku tolak bahwa itu bukan milky, tapi—kenyataan berkata lain. Iya, itu kucing putih kemarin yang sempat ku elus pucuknya, yang sempat ku timang bagai sosok kawan baru.

Iya, dan iya itu milky, kawan baruku.

Salah apa dia? mengapa orang bisa tega membunuh makluk kecil tersebut lantas malah meletakan tubuh tak berdayanya di tempat semacam ini. jenis hati apa yang mereka punya? kalian membunuh kucing sama saja membunuh rekan sesamamu sebagai manusia. Dia kawan baruku, baru saja ku temukan nikmat hidup di antara tumpuan beban. Dan milky hadiahnya, tapi—

“Ingatan apa yang kupunya?”

Tangisku makin jadi, bersimpuh di hadapan milky selagi erangku kian meninggi. Sampai dimana pejalan kaki yang tak sengaja lewat pun kemudian bersimpati dan baru menyeru, “Ya ampun kucingnya mati,”

Ya, hanya satu tanya yang terbesit sinis kepada mereka, “kemana saja kalian?”

 


 

.

fin.

Note : pagi-pagi udah baper T_T ini efek semalem denger kakak cerita ada kucing mati kelindes mobil. dan sebagai pecinta kucing-aku-nyesek dengernya. 😥 pussy, aku turut berduka cita. walopun aku gapernah liat wujud kamu, tapi tetap aja rasanya sakit. 😥 /duh curcol jatohnya/ :’D

Iklan

2 thoughts on “[Orifict] Sisa

    1. Iya ni 😥 kehilangan kucing sama aja kayak kehilangan orang yg di sayang 😥 mau kenal atau ga kenal kucingnya, rasa nyeseknya tetep sampe… 😥

      anyway makasi udah nimbrung huhu~ T.T :’)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s