[Vignette] Unwavering

unwav copy

Junlois present

Cast : [BTS] Jin x [OC] Rin

Support Cast : Namjoon & Yosi

Genre : romance/hurt/comfort/slice of life | Lenght : Vignette | Rating : Teen

 .

Kita saling mencintai.

Tapi dulu, sebelum akhirnya kami benar-benar saling terdiam dan sibuk dengan hal menarik lainnya.

Kamu sibuk, pun juga aku yang tidak begitu jauh bedanya. Di tahun kedua pada masa abu-abu kami, momen paling terbaik itu ialah menghabiskan waktu bersama. Namun ketika kita memasuki tahun ketiga, entah mengapa perubahan semakin kental. Di awali dari sikapmu yang tiba-tiba berubah dingin dan lebih sering mengabaikanku daripada berbicara banyak ketika awal permulaan kita bertemu.

Iya, kamu berubah.

Kamu berbeda sekarang, Rin.

Dan aku mengerti apa yang tengah kamu rasakan. Begitu pula yang kini tengah aku rasakan. Sama. tidak beda jauh, jangan abaikan aku juga.

Yang ku tangkap saat itu surai lembab berwarna hitam pekatnya berayun-ayun di hadapanku. Menawarkan diri untuk dapat terduduk bersama, menikmati minuman latte masing-masing.

Aku tahu bahwa dia tidak semanis sepertimu, dan terlebih kedua irisnya tidaklah begitu sempurna kendati di lindungi dua kotak lensa bernama kacamata. Biar kukenalkan, namanya Yosi.

Dari namanya saja sudah terlihat berbeda. Well, dia memang gadis jepang. Sejujurnya aku cukup tertegun.

Ini adalah fase awal diriku mulai tertarik karenanya.

Waktu kami nyaris habis seharian untuk mencari atau bahkan membahas novel-novel karangan terbaik penciptanya. Yosi cukup berbakat dalam urusan fiksi. gadis ini cukup menguasai genre apapun, serius. Ditambah hobinya mengoleksi film berjenis action dan sci-fi. Haruskah aku ceritakan padamu? iya, apa yang Yosi sukai pun juga kusukai sejak dulu. salah satu hobiku memang.

Lambat laun aku tersadar bahwa kami benar-benar punya kemiripan. Anggap saja Yosi itu kloningku versi perempuan.

Aku tertarik, namun sisi lainnya masih terpaku di tempatmu.

Aku mulai berpikir, mungkin, jika aku bersama Yosi kami akan menjadi pasangan yang paling serasi. Dan aku tidak akan kesepian lagi hanya karena kamu mengabaikanku cukup lama.

Tetapi aku tidak benar-benar berpikir kita bisa bersama. Aku tidak bisa mendua. Singkatnya demikian.

.

.

.

Selang kelopakku nyaris terpejam, ponsel di atas nakas tiba-tiba bergetar hebat. Kupikir itu darimu.

Hampir seminggu lebih aku tidak menghubungimu. Di sekolahpun kami hanya banyak menghabiskan waktu diam dan apatis satu sama lain. Mungkin kamu berniat marah.

Tapi pada hari itu, saat aku masih berseragam. Kamu bilang butuh bantuanku. Dan aku berlari di tengah hujan untuk memastikan kamu baik-baik saja.

Halte, kamu terjebak disana. yang kulihat dari kejauhan kamu memang tampak kesusahan. Lututmu terluka, dan bibirmu meringis menahannya. Namun ada pemandangan yang mengganggu disana. tidak, kamu tidak sendirian.

Ada seorang laki-laki yang mengenakan seragam sama persis seperti kami. Aku cukup kenal, wajahnya sungguh familiar. Ku sebut saja dia Namjoon. si ketua OSIS yang banyak di kagumi murid perempuan. Jika dibanding aku, mungkin kalah dan tersisihkan sangat jauh.

Aku memilih mundur. Ku serahkan pada Namjoon, agaknya kamu memang lebih baik dengannya.

Daya apa yang ku punya ditengah hujan begini? Yah, rasanya aku bukan siapa-siapa lagi.

“Karena kau sedang bersedih. Kurasa—lebih baik berbagi payung denganmu.” Suara itu menginterupsi di tengah-tengah gemericik hujan. Yosi datang, aku tahu.

Dan ketika ku berbalik, entah mengapa naluriku ingin mendekapnya. “Yosh, kau akan baik-baik saja.” begitu katanya, bukannya kaget tapi dirinya malah menepuk bahuku dengan tegas.

Disinilah aku merasa nyaman dengannya. Dia dapat mengerti apa yang tengah ku alami sekarang. Dia seolah-olah selalu ada dimana ketika aku mulai rapuh. aku tidak tahu siapa yang akan benar-benar mati terbunuh lantaran perasaan kami masing-masing, maksudku diantara kami bertiga. Aku mulai memikirkannya.

Yang kulihat di hadapan saat ini hanyalah kepulan asap kecil membubung di atas gelas tumblr berporselen putih. Singkatnya minuman tersebut seakan mengingatkanku ke masa saat-saat dimana kami sering menghabiskan waktu berdua. kamu kerap menyeduhnya tatkala kubilang kedinginan. Kamu bilang, “pegang tumblrnya dan hangatkan tubuhmu juga di perapian.” Aku tertawa jujur.

Disamping itu sikapmu memang berhaluan dengan Yosi. Kamu tidak kalem, kamu itu lebih condong ke polos, ceroboh dan cerewet. Kamu juga bukan pecinta novel atau penggila film bergenre action/sci-fi. Iya, bukan. sama sekali bukan tipemu.

Yang aku tahu, kamu itu lebih suka menghabiskan waktu mengobrol dan makan es krim di taman kota. atau, menonton film yang punya kadar romance menjijikan. Aku hampir muak jika mengingatnya lagi.

            “Dan aku baru tahu bahwa sedari tadi kau terus tertawa sendirian, Jin.”

            “Yah, sepertinya aku mengecewakanmu.” ku raih tumblr itu lantas memerhatikan kubangan cokelat kentalnya, sejemang. Sebelum akhirnya aku benar-benar menenggaknya habis.

Kali ini manik Yosi sedikit bergeser ke arah dapur. Dia memerhatikan api kompor yang tengah menyalak kebiruan.

            “Jangan harap aku menaruh hal yang sama sepertimu. Aku tidak tertarik padamu, asal tahu saja.” begitu ujarnya. di selingi kekeh dan beranjak ke dapur sambil lalu mematikan pemantik api yang semula tengah mendidihkan air.

Kendati terlihat kalem, Yosi memang punya sikap yang dingin juga tenang. Dilihat dari cara bicaranya seperti itu, kiranya dia tidaklah benar-benar tertarik padaku.

            “Aku akan membantumu, melupakannya.” tercengang. Tentu, bukan begitu—aku belum bisa terkoneksi dengan kata apa yang ia lontarkan barusan.

            “Rin, hanya perlu menyesuaikan hatinya. Dia—mudah jatuh cinta, dan belum bisa membedakan mana yang sejati mana yang sepintas.”

Tergugu seketika, aku menatap kembali gelas kosong itu. mencerna apa yang Yosi katakan, dia benar. Dan tanpa sepengetahuan—aku tak ubahnya sepertimu. Memakluminya, tentu. Bukankah kami memang baru sama-sama saling berhubungan? Pacaran, maksudku.

Kamu dan aku terhubung cukup satu tahun lamanya. Tapi mengapa kita tidak pernah menyadari hal seperti ini? aku bodoh, menuduhmu yang tidak-tidak dan mengutukku sendiri. padahal, permasalahannya begitu sederhana jika aku mau mengoreknya lebih dalam lagi. Iya, aku yang bodoh disini. pun aku salah satu korban juga.

Selama ini aku berpikir, bahwa tidak mungkin aku meninggalkanmu hanya karena aku dan Yosi punya hobi yang sama. kupikir itu keadaan kita pada saat satu tahun lalu, jatuh cinta. Tetapi, salah. Aku salah besar, ternyata—aku hanya sekadar mengagumi. Berbeda dengan mencintai.

Namun, situasinya ada padamu sekarang.

            “Pertanyaannya, apakah dia sepertiku? Dia apatis, mengabaikanku. Tetapi dengan lelaki lain ia bersikap hangat dan terlihat menyenangkan. Lantas, apakah sama denganku juga hah?”

Yosi,ya, aku bisa melihat seringaimu yang mencolok. Jangan permainkan aku dengan teka-teki perasaan macam ini. dan—oh, aku paham. Sepertinya aku terbodohi karena mungkin kau lebih berpengalaman. Aku kecewa,

            “Aku tidak pernah pacaran. simpan saja ekspresi menyedihkanmu itu.”

Hei, apa dia bisa membaca pikiranku?

            “Tentu,”

            “Apa?”

            “Rin bisa saja sepertimu. Kenapa tidak kau coba tanyakan padanya? Toh, sebentar lagi dia akan menelponmu.”

Belum lama Yosi mengatup mulut, ponselku lekas bergetar. Dan itu—

            “Benar kataku,” oh—god! Dia menampilkan seringainya lagi dan berlalu menuju dapur.

Sementara aku mati tergagap, entah apa yang mesti kulakukan selain membulatkan mata dan melempar beribu tanya kepada Yosi dibalik bar.

            “Angkat saja. dan janjikan pertemuan di suatu tempat.”

Saran yang cukup efektif. Aku menatap kembali layar, hampir menggeser simbol hijau di dalamnya. dan bersamaan itu juga dapat kudengar suara seduhan cokelat hangat di bilah dapur. adalah aktivitas Yosi kali ini.

Hening, aku mendengar napas yang sama-sama tercekat di seberang sana. kukira kami imbang. Canggung memenuhi benak masing-masing.

Lima…,enam…,tujuh…,

Tujuh menit kemudian.

            “Kutunggu di kafe biasa. Aku canggung bila harus berjauh-jauhan seperti ini.” demikian tutupmu dari sana. aku mulai berkecamuk dengan buah jantung. Detaknya makin tak beratur.

Aku cemas, pun Aku nyaris mati rasa.

Takut-takut tujuanmu mengajak ku bertemu hanya untuk membicarakan keputusan hubungan kita. naluri lelaki ku cukup minim hanya untuk urusan ini. kuharap tidak ada yang tahu lagi selain Yosi seorang. Ah, memalukan.

            “Apa kau akan terus menertawaiku terus hah? Aku akan pergi, dan mungkin kau akan kecewa ketika aku bisa menghabiskan waktu berdua kembali dengan Rin.”

            “Yeah, Aku akan merindukanmu. Tenang saja.”

            “Oke, aku akan mampir kesini lain kali dengannya. Semoga kalian bisa akur.”

            “Lain kali akan kuceritakan juga padanya kalau kau pernah tertarik padaku. Haha…”

            “You’re really danger, Yos.”

.

.

.

Jadi, disini kami bertemu. Mengemukakan apa yang di rasa selama ini. yang kulihat lututmu memang terluka. Tapi demi pertemuan ini, tepat pukul enam sore. Kamu rela meluangkan waktu beristirahatmu itu. hanya karena aku, hanya untuk menjelaskan…

            “Aku akan mengaku, Jin.”

Peluhku mulai bercucuran dari sela-sela akar rambutku. Jantung, jangan bertanya padanya! Mungkin aku akan mati disini. tidak, sebelum itu aku akan mengatakan bahwa aku juga menyesal karena berbuat yang hampir sama karenamu. Shit!

            “Aku, menyesal,” mendengar penuturanmu yang demikian. lantas ku tengadah rautmu kali ini.

Kuyu, yang kutemukan dua manik berbinar lara. Jemarimu saling bertautan dan menunduk lemah. Aku merasa bersalah karena bersikap berlebihan macam ini. seharusnya, ya.. semestinya aku menenangkan hatimu yang tengah rapuh itu.

            “Akhir-akhir ini kita saling berjauhan. Aku seperti telah meninggalkan hubungan. Entah mengapa, aku segera tersadar. Bahwa laki-laki yang dekat denganku selama ini hanyalah bahan kekagumanku semata. Kau tahu Namjoon bukan?”

Aku mengangguk.

            “Dia memang jenius, dia ramah dan memiliki tubuh sigap. Kupikir dia akan cocok denganku suatu saat nanti. iya, lebih tepatnya aku ini menyukainya. Tapi mengingat dirimu kembali, niatku lekas urung. Dan kupikirkan masak-masak. Lalu setelah ku konsultasikan pada Kak Yoongi, aku ini hanya sebatas mengaguminya saja, katanya. jadi, aku mulai bersalah pada saat itu.”

Yeah, aku sudah menduganya. Tentu.

            “Tapi Jin, kemarin sore. Entah mengapa perasaan semacam itupun muncul lagi. dan itu terjadi kepada guru magang kita, Taekwoon-ssaem. Aku mulai frustasi, memikirkannya kembali dan kali ini kucoba mencari jalan keluarnya sendirian. Ternyata, aku hanya mengaguminya juga. Terbukti perasaanku mudah pudar sama seperti perasaanku kepada Namjoon. berbeda denganmu. Setiap hari, entah mengapa aku malah lebih banyak memikirkanmu. Bahkan dalam fase seperti itu. aku, malah lebih merindukanmu. Tapi—“

            “Hanya karena kita tidak sedang saling bersama, kamu berpikir aku menjauhimu juga? Begitu?”

            “Eum, terlebih aku merasa kamu memang mengacuhkanku akhir-akhir ini.”

            “Yah, baiklah, aku berada dijalur yang sama denganmu belakangan kemarin.”

Alismu terjungkit, aku tahu kamu mulai penasaran.

            “Menyukai seseorang, yang kupikir akan bagus jika dia menjadi penggantimu. Tapi,”

Sengaja kugantung, kini ekspresimu mulai menarik atensiku. Kamu tampak gemas, Rin.

            “Tapi apa hah?!”

            “Sepertimu tadi. aku hanya mengaguminya. Dan dia yang segera menyadarkanku agar membuat pertemuan kita disini.”

Yang kutangkap selanjutnya, tangan rampingmu menjinakkan segera minuman latte yang sedang panas itu. pun dengan tergesa-gesa kamu menenggaknya habis, lantas mengusap sisa-sisanya dari bibir juga dagumu. Tampangmu menunjukkan bahwa kau layaknya seperti vampir kehausan darah, dan berniat memangsaku. Uuu, mengerikan. Tapi aku suka.

            “Ada apa?”

Ups, seharusnya aku tidak bertanya demikian.

            “Kau! Sama saja! siapa gadis itu hah?”

Benar bukan? amukanmu muncul setelah sekian lamanya aku tak melihatnya lagi. ah, merindukan sekali momen seperti ini.

            “Jinseok! Aku bertanya, siapa gadis itu! kau membuatku marah!”

            “Hei, tadi saat kau bercerita soal Namjoon dan Taekwoon-ssaem saja aku tidak marah. lalu, kenapa—“

            “Tutup mulutmu brengsek!”

            “Ya!

Aw, sakitnya. Kendati dia barusan beranjak menghampiri dan lekas memukulku…

Tetapi rasanya sangat menyenangkan bisa bertingkah, dan sebebas macam ini lagi. iya, hubungan lama kami yang seperti ini akhirnya kembali. Tidak ada rasa canggung lagi, tidak ada sikap apatis lagi, dan tidak ada lagi diri kita yang tertutup. untuk kedepannya, aku dan kamu akan saling menggenggam, percaya juga memerhatikan satu sama lain, serta paling utamanya adalah…

Saling terbuka.

Bukan begitu hm?

.

.


fin.

note : hai aku kembali,tapi belum sepenuhnya kembali. tugas aku masih jalan -_- hampir selsai, dan mudah2an cepet2 kelar ya. uuuh.. aku kangen nulis tauk! makanya jebol beginian. entahlah kemarin2 sempet baper juga. daripada kebuang lagi mending di kemas aja yah.. /mayan kan jun?/. 😀

oke, segitu aja kangen2anya. see u… ^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s