[Vignette] Magical Veil

kjhggh copy.jpg

This our comeback from,

Junlois

Genre: fantasy/AU/mystery/slight!romance
Rating : Teen | Lenght : 2600+
[BTS] Kim Taehyung with [OC] Atari Jung
Support cast, [Seventeen] Jeon Wonwoo, Hong Jisoo/Joshua & [OC] Yoo Yunbi.

.

Bumi yang tak dapat menggapai langit telah tenggelam dalam kabut-kabut magis.

 .

Caranya mengikat tali sepatu itu sungguh membuatku takjub. tampak seperti pangeran yang turun dari negeri dongeng hanya untuk menjemput lantas menjadikanku sebagai permaisurinya. Asal tahu saja, Aku sedikit tersipu kendati berusaha tertutup dengan sikap tak sedap.

            “Sudah selesai,” katanya lalu bangkit dengan gaya berkacak pinggang.

Entah apa yang mesti ku ucap.

Sebelumnya pernah ku sebut dia brengsek karena berani menyelinap ke dalam kamarku dengan alasan tertentu. Jadi, selama ini aku hanya menganggapnya sebagai musuh.

            “Jangan bertingkah menjijikan seperti itu lagi! pokoknya jangan!”

            “Kenapa? Apa meresahkan Atari?”

            “T—tentu!”

Mungkin sikapku terlalu naif. memaksa atau berusaha menolak atas kehendak rasa suka-ku terhadap setiap perlakuannya yang mengesankan. Tidak, tentu ini tindakan bagus.

Kim Taehyung bukan kriteriaku. Terlebih ia hanya numpang hidup di kediaman kami, lantaran tak punya tempat tinggal juga keluarga dekat. Aku pernah dengar ceritanya sekilas dari ayah, bahwa Taehyung di besarkan di panti asuhan.

Dan setelah menginjak masa remajanya Taehyung di usir karena telah dianggap beban paling berat. Lanskap pun berakhir pada Ayah yang bertemu dengannya di pertigaan dekat rumah, dengan pakaian lusuh kebasahan pun raut bak kelaparan. Malang memang, pertama kali melihatnya sungguh kasihan.

Tetapi. Asal tahu saja ya. dia itu sok polos dan mesum. Bayangkan saja baru tinggal dua hari, tetapi ia sudah berani-beraninya masuk kamar orang lain. Apalagi kamar perempuan itu punya privasi luar biasa dan sensitif jika dimasuki orang asing atau lelaki seperti dirinya. Ah, walaupun kisah lama tetap saja hingga kini aku masih menyimpan sisa letupan dendamnya. Mau berapa pun ia menyangkal dan berdalih ini itu, aku-tetap-tidak-mau-dengar.

            “Atari!”

Kira-kira apalagi? Aku berjalan lebih dulu sebab malas melihat gurat polosnya. ku tinggal ucapan terimakasih yang tidak minat ku lontar.

            “Menurutmu benda apa yang cocok untuk perempuan?”

Apa katanya?

            “Eh…? kenapa mendadak bertanya begitu?”

Ini bukan soal tertarik. Aku Cuma penasaran hal apa yang membuatnya bisa bertanya demikian. Terlihat—bukan seperti Taehyung. sejak kapan ia berminat masuk ke tahap ingin menarik hati seorang perempuan, dengan sebuah barang?

            “Eum, ya—ada sih, kamu bisa kasih tahu ‘kan?”

Dasar naif. sok polos. Berpura-pura merunduk sambil menggesek-gesek alas sepatu layaknya anak kecil malu-malu kucing. Aku tidak tergoda huh!

            “Tanyakan saja pada Ibu!”

            “Tapi!”

Sebelum itu tungkaiku sempat bergerak namun lekas terjeda kembali, begitu mendengar penekanan singkatnya. Aku berbalik, “Apa?!”

            “Tapi ibu bilang anak remaja sepertimu tahu banyak soal benda–benda unik macam itu!”

Apa-apaan dia?

            “Aku tidak tahu!” bentakku. Kembali ambil derap. Tak peduli seberapa kecewanya ia tatkala ku abaikan.

.

.

.

            Langit terlihat biru dan segar, pohon-pohon rimbun yang tumbuh di bawah kaki gedung sekolah juga tampak bergoyang sesekali kala angin dari selatan menari dengan gerak mengelilingi. Ada beberapa siswa laki-laki yang asik bermain bola sepak di tengah lapang berumput. Ah indahnya. kupikir jika mengambil gambarnya akan terkesan memuji alam bukan?

Klik! Dan hasilnya telah tercetak di galeri. Menakjubkan!

            “Atari!”

            “Ng? Yunbi ada apa?”

            “Mau ikut tidak?”

            “Kemana?”

Yunbi mengajakku, kemana maksudnya? Ia hanya mengedip mata dengan simbol yang tak ku mengerti. Dari bangku depan, dua ekor mata Taehyung mengawasi secara kuyu. Ia tampak tidak semangat sebelum aku benar-benar ditarik oleh Yunbi meninggalkan kelas.

Tiba-tiba sedikit perasaan aneh muncul. lekas ku alihkan dengan mengikuti alur Yunbi yang menyeretku entah kemana, tapi tempat ini sedikit kukenal. Iya, gudang sekolah kiranya.

            “Sebentar. Aku sms dulu.”

            “Memang Jisoo mau apa ditempat ini dengan kita berdua?”

            “Pokoknya kamu tinggal ngobrol saja sama dia.”

            “Eh, tapi, Dia siapa? Tidak mungkin Jisoo ‘kan?”

Tak berlangsung lama, pintu gudang lekas bergeser. Semula aku dan Yunbi iseng duduk di atas meja… tiba-tiba muncul sesosok yang kukenal masuk kemari dengan ditemani satu kawannya, Hong Jisoo. Adalah pacar Yunbi.

            “Jeon Wonwoo?” melirik sejemang ke arah Yunbi, namun sialnya gadis itu hanya menderetkan gigi, tersenyum penuh arti seraya melompat menghampiri kekasihnya, Jisoo.

            “Aku ada urusan di perpus dengan Josh. Kalian kutiggal tidak keberatan ‘kan?”

            “Eh…?”

            “D—dah, semoga sukses!”

Yoo Yunbi sialan!

Oke, Jung Atari. apa ini hari kematianmu? Bukan… maksudku, aku belum siap bertatap muka dengannya berduaan di tempat seperti ini. mengerikan, takut-takut kejadian aneh tiba-tiba merasuki jiwa kami masing-masing. Payah! Belum tentu juga Wonwoo demikian. Dia—ketua OSIS, tampan, populer, agak sedikit pendiam tapi manis dan juga… sedikit menjaga jarak dengan perempuan kendati anggotanya mayoritas mereka. Yah, tak perlu ada rasa berlebihan begitu sih. Mungkin saja dia kesini hanya untuk mencuri waktu ngobrol denganku. Err.. percaya diri sekali kau ini, Atari.

            “Hei. Mau cokelat tidak?”

Kami berdiri, saling bersandar pada meja rapuh yang tertata di pojokan. Memandang isi gudang ini yang dipenuhi debu tebal pula sarang spider. Sedikitnya sebelum benar-benar mengambil alih cakap, aku berdeham dan mengambil sepotong cokelat tersebut. mengunyahnya dengan suasana canggung, menyebalkan.

            “Kau pernah kemari sebelumnya?”

Aku menggeleng sejenak, “Tapi tahun lalu aku pernah masuk sini karena dapat hukuman dari guru untuk membersihkannya.”

            “Begitu,”Ah, Dia tersenyum.

Tampan sekali dilihat dari sudut manapun juga… oh shit!

Dasar bodoh!

            “Aku pernah disini sebelum tempatnya dipindah ke bagian depan.”

            “Wonwoo pernah jadi anak klub musik?”

            “Dulu sih. Tepatnya aku pernah memegang drum disana.” bidiknya pada alat musik bertabuh yang nyaris rusak itu dekat jendela, tertutup kain putih.

            “Lalu kenapa sekarang tidak kau geluti kembali?”

Wonwoo beranjak. Menghampiri benda itu lantas bergeser menghadap jendela alih-alih menyingkap gorden putihnya.

Sedikit demi sedikit berkas cahaya terang masuk dari celah-celah pentilasi. Menyorot bagian tengah lantai, bak panggung teater. Wonwoo bersandar disana tepatnya, pada jendela, pada manik yang kini telah mengarah padaku. Berharap saja kalau dia tidak sedang mempermainkan keadaan. Pada kenyataan dia tak sanggup ku tolak. Tentang kehadirannya, tentang parasnya yang begitu memukau. Tidak bisa. Sejak dulu, sejak aku memasuki sekolah ini Jeon Wonwoo adalah kakak kelas yang pertama kali dapat memikat perhatianku. Bagaimana bisa ku abaikan momen begini. Jarang-jarang tahu!

            “Aku suka Atari. aku suka tingkahmu yang kuat namun tampak manis.”

            “M-maksudmu?”

            “Pada dasarnya aku ini pemalu. Dan tidak peka terhadap perempuan seperti kalian. tapi, entah mengapa—aku begitu tertarik pada Atari yang berbeda dari yang lain,”

Jangan melamun! Kumohon bangun dari mimpimu! Jeon Wonwoo takkan mungkin mengatakan hal mustahil seperti itu.

            “Serius. Aku bukan tipe orang yang pandai berbohong dalam perasaan, Tari.” Memalingkan pandang. Dua kubu pipi tirusnya terlihat di hiasi rona merah. Aku yakin, dia malu sekali mengungkapkan itu semua!

            “Wonwoo!” tegasku. mengepal tangan, merunduk, memejam mata sebagai penghalang kegugupanku. Aku—ingin cepat-cepat mengakhiri kecanggungan ini. aku ingin bertindak biasa lagi dengannya. Jadi, ini keputusanku. “Aku juga menyukai Wonwoo!”

Dan—oh pada akhir ungkapan kami berdua; kecanggungan itu tak hilang sepenuhnya. aku dan dirinya sama-sama mengalihkan pandang, mencari atensi lain tanpa berkata-kata tambahan.

            “Aku senang. Kamu menerimaku, Atari.” perkiraanku saja kami bakal terdiam terus-menerus. Faktanya, ia telah mendahului cakap yang baru dalam hubungan kami seperti itu.

Ah, menyebalkan. Tapi, ini menyenangkan. Hihi… boleh kan kalau kita tertawa bersama?

Sejak kenangan itulah. hari ke hari, kami sering pulang dan pergi ke sekolah bersama. pada jam istirahatpun tak jauh demikian. Hingga akhirnya beberapa murid mulai mengetahui hubungan kami. Banyak yang mendukung, tetapi diantaranya juga tak sedikit yang menolak dan membicarakanku dari belakang. Tapi—ya aku tak peduli. Wonwoo selalu melindungiku, berkata dan mengakui aku di hadapan penggemarnya sambil menggenggam tanganku, erat. Beruntung bukan?

Tapi siapa sangka juga Kim Taehyung tidak demikian?

Ku lihat si polos itu berjalan ke atas atap dengan sesuatu di tangan. Tidak, aku tidak boleh penasaran. Buat apa aku memedulikannya? Toh—dirumah pun kita tak begitu saling bicara atau bertatap lama-lama.

Tapi, kalau sedikit membuntutinya tidak masalah ‘kan?

Lagipula Wonwoo bilang, hari ini ada rapat anggota. jadi, aku akan pulang sendirian pula tak ada yang menemaniku istirahat selain dengan Yunbi yang pada kenyataanya malah memilih bersama Jisoo. Yah, aku tidak punya pilihan selain mengisi waktu luangku untuk mengikutinya.

Aku melihat kotak biru-muda-berpita senada di balik punggungnya.
Dia tidak akan mengetahui pergerakanku. Begini-begini aku cukup baik dalam hal mengendap ditambah dia-laki-laki polos selebihnya tidak akan peka barang sedikit. Jadi kali ini dunia. ijinkan aku terkekeh menang ya. ugh, kejam sekali rasanya.

Shoot! dia membuka pintu atap.

Oke, ini gerak cepatku untuk mengintip dari sela-sela.

            “Ada apa mendadak ingin ketemu disini?”

            “Sedikit obrolan. Langsung saja ya.”

Tunggu, dia…, bersama siapa? Wajahnya—tertutup bahu Taehyung yang lebar.

Aku, tidak bisa melihatnya, tapi—aku mengenalnya sekarang. Dari suara itu, dia—Son Nami dari klub sastra.

            “Ini…, aku tidak punya pilihan. Untukmu Nami.”

Seketika aku mengingat obrolan kami tempo hari. Dimana Taehyung bertanya soal isi apa yang ada di dalam kotak biru itu. aku paham, ada maksud ternyata.

Taehyung sudah dewasa, tak polos lagi. pun kini ia punya seseorang yang disukai. Sikap ramahnya padaku pasti hanya untuk pembalasan budi saja karena Ayah dan ibu merawat dan menampungnya. Iya, pasti… sebab aku anak perempuan mereka.

Lagipula mengapa aku mesti mempermasalahkannya? Aku punya Jeon Wonwoo. Dan juga, ia punya Son Nami. Kami sudah remaja. Saling mengenal lawan jenis. Jadi, tidak patut aku mengumpat karena dirinya telah berlaku demikian. Sebagai penekanan aku tidak pernah berharap apapun darinya. Dan juga, masa hanya karena dia telah bersama Nami aku melupakan kebencianku padanya? Apa-apaan ini!

Aku pulang sendirian. Tanpa di temani Wonwoo seperti biasa. alih-alih merasa makin aneh aku malah ingin menganggap kejadian itu tak pernah ku lihat.

Tak di sangkanya, Taehyung telah lebih dulu masuk rumah dan kini masuk kamar dengan menutup pintu perlahan.
Terdiam, tepat di hadapan pintunya. Mengapa leherku memaksa merunduk. Mengapa jantungku mendadak tersengat getaran aneh. dan, dan, mengapa pedalaman irisku terasa panas ?

This a something weird...

Aku merasa kesepian tanpa dirinya kendati Wonwoo selalu disampingku. what the hell?

Ada ingatan berat yang pernah ku sepelekan. Dimana tentang aku dengan Taehyung. dimana aku kerap berkata kasar dan memakinya. Salahku, apa benar salahku?

            “Taehyung-a?” entah tanpa sadar aku menyelipkan nama itu. melambai tangan dengan maksud hendak mengetuk pintunya.

Aku mendengar dia terbatuk. Aku mendengar dia mengobrol dengan seseorang di dalam sana. aku tak cukup yakin bahwa suara itu berasal dari seberang ponsel. Suaranya begitu nyata, pula dihiasi kelembutan.

            “Apa kau mencatat materi sejarah kemarin? A-aku tidak mencatatnya, jadi bolehkah aku pinjam catatanmu?” aku menjatuhkan harga diriku saat itu juga. Demi memastikan sesuatu, demi melihat guratnya yang samar-samar ku curi ketika menemui Nami siang tadi.

Tanpa sadar dalam benak ku sebut dirinya, tampan.

            “Oh. Nanti ku antarkan kalau aku sudah selesai ganti baju.”

G-ganti baju? Tidak mungkin. Tadi itu dia sedang mengobrol. Delusi apa ini? dia yang berbohong atau aku yang terlalu berat dalam memikirkan kejadian tadi siang?

            “Well, ku tunggu,”

Eh…? apa? ‘tunggu katamu? Atari! apa kau sadar kata apa yang kau sebut barusan? ah, itu kata terselubung yang tak patut ku ucap padanya.

Tanpa sadar aku telah mengunci diri. Menutup mulut dengan manik membelalak. Mustahil jika aku mencoba untuk menariknya. Cobalah untuk pikirkan Jeon Wonwoo! Aku miliknya. Dan degub jantungku hanya untuknya. Taehyung tak membutuhkan hal semacam itu dariku. Sejak kapan pula aku menganggap keberadaanya?

            “Tari. Makan malamnya sudah siap.”

Tunggu, ini sudah jam berapa?

Aku tertidur dari tadi. cukup lama, tiga jam penuh yang benar saja? pantas pula ibu telah menyahut sejak tadi kendati samar-samar. Dan kendati… sempat ku lihat bayang-bayang Taehyung mengusap helai rambutku seraya meletakkan buku catatan kemarin diatas meja.

Aku meraih buku bersampul navy itu. mengamati tulisan-tulisan Taehyung yang tampak rapi dengan jemari-jemari tirusnya. Mengusap bagian ini, dan juga ini, berbagai lembar lantas mencium aroma sisa keringatnya yang menempel begitu pekat. Menyeruak masuk ke dalam relung, mengetuk kebekuanku terhadapnya. Lantas seolah melepaskan ribuan kupu-kupu cantik. Aku tersenyum di sela-selanya, mengingat senyum polosnya, tingkah anehnya dan juga perhatian penuhnya. Yah, Atari bodoh, selama ini apa yang kaulihat?

Aku tersenyum, lantas melangkah keluar dengan tujuan makan malam bersama keluarga dan juga—

            “Taehyung belum keluar?”

Begitu tanyaku terlontar, Ayah dan Ibu melempar tatap aneh dan mengabaikan tanpa tak tahu apa-apa.

            “Ada apa?”

            “Nak, siapa Taehyung? apa itu teman sekolah yang kamu undang?”

            “Tunggu. Kenapa ibu berkata seperti itu?”

            “Eh, mengapa? Justru ibu tidak tahu siapa Taehyung, Makanya ibu bertanya begitu.”

            “Tapi Yah! Dia anak laki-laki seusiaku yang di pungut ayah sebulan yang lalu. masa ayah lupa sih!”

            “Dipungut? Apanya yang dipungut?”

Ayah, tidak tahu? dan dia malah melanjutkan suapannya.

            “Kim Taehyung, Ayah! Kalian pura-pura menutupi sesuatu atau bagaimana sih!”

            “Sayang… kami rasa kamu yang aneh. Disini tidak ada anak yang namanya Kim Taehyung, dan Ayah juga tidak pernah menampung anak lelaki biarpun si Taehyung yang dikatakanmu barusan.”

            “Tapi…!”

Senyap… yang kurasa dadaku mulai terasa penuh dengan oksigen hingga timbul sesak mendalam.

            “Nak? Kamu menangis?”

            “K-kenapa kalian seolah-olah tidak tahu apapun?”

            “Dengar, sebulan yang lalu ayah memang memungut seekor kucing di pertigaan. Tapi, tidak lama kemudian, kucing itu mati karena luka di lehernya.”

            “Ayah bilang kucing? Dia bukan Ku-cing! T-tunggu, kucing… kucing putih berlonceng itu maksud ayah?” aku sadar akan sesuatu. “Dimana ayah memakamkannya?”

Ayah menggeleng. terdiam sejenak sebelum berkutat kembali dengan kedua sumpitnya.

            “Ayah tidak tahu. begitu hendak ayah makamkan, dia sudah menghilang entah kemana.”

Apa maksud dari semua ini! apa yang dia lakukan dengan kehidupanku?! Aku ingat dosa apa yang ku perbuat waktu itu. Aku memaksa melupakan dirinya yang kala itu di ambang kematian. Tapi aku tetap menggulungnya dengan sehelai selimut, sungguh! Aku tidak tahu jika ia akan menghilang dan mempermainkan skenario ini!

            “Hei mau kemana makananmu belum di sentuh, Tari!”

Aku tidak peduli. Mengunci diri di dalam kamar yang gelap akan menjadi pengadilan untuk orang sepertiku. Sial! dia meninggalkan petanyaan besar, rasa sesak teramat, pula rasa yang membuatku gila. “Apa maksudmu meninggalkan catatan itu? bukankah ini hanyalah rangkaian mimpi!”

            “Aku harap kamu berhenti menangis untukku.”

            “Dimana kau! Tunjukkan wujudmu, jangan bersembunyi dasar pengecut!” bibirku tak mampu bergetar, leherku terasa tercekat akan sesuatu. segala yang kulontar begitu berat juga sesak. Membuatku malah terisak semakin parau. Dan dirinya dengan tega enggan menunjukkan diri.

            “Tolong maafkan aku, Taehyung.”

       “Yeah, aku akan menampungnya. Setelah ini aku janji akan menghilang dari hadapanmu.”

Sejemang terhipnotis oleh prakata lembutnya. pasrah sudah ketika ia mendekapku, pun lebih-lebih nyaman lagi bersembunyi pada dada bidang yang di serembahi wewangian bunga ini malah membuatku sungguh lunglai. Tanganku justru tak mampu menggapai punggungnya. Kurasa hanya tangan besar itulah yang bergerak hendak menegakkan sebelah pipiku lantas membelainya, lembut. Kemudian praktis kami telah menyatukan kening bersamaan.

Kilatan manik Taehyung mengalirkan sebutir likuid, juga mengempas napas segar yang memabukan. Yang sanggup membuatku terpejam, pun hanyut dalam sapuan ibu jari pada bibir lembapku. Hm, pandanganku mulai gelap, singkatnya wajah tampan Taehyung mulai kabur dan aku—

Tertidur.

Meninggalkan segala kenangan malam itu.

Tepat diatas sinar rembulan… Kim Taehyung lenyap bagai serbuk bintang, terbang terbawa angin ke asal yang tak dapat ku jangkau.

Yah, Kim Taehyung khayalanku tak lagi disini.

Dan lucunya kehidupanku sebelumnya ternyata berkebalikan dari itu semua. Kenyataan tersebut mengatakan bahwa Jeon Wonwoo bukanlah kekasihku, Yoo Yunbi bukanlah teman sekelasku, lalu Hong Jisoo bukan juga kekasihnya. Yunbi memang teman akrabku tapi kami beda kelas, tetapi Jisoo juga bukan seseorang yang dapat diterima sebagai kekasih untuk Yunbi sendiri.

Karena, bagaimanapun, mereka akan tetap terlihat seperti kucing dan anjing jikalau bertemu. Hm…, aku dengan Jeon Wonwoo apa? lantas bagaimana?

Tentu. Diantara kami tak ada hubungan apapun, tidak saling akrab satu sama lain. aku dengannya bagai langit dan bumi tahu. disini aku bumi yang tak dapat menjangkaunya, dan lebih memilih menyerah, memilih untuk di selubungi kabut-kabut khayalan. Hingga pada ujungnya tak sengaja dipertemukan dengan makhluk seperti, Kim Taehyung.

Iya. Tidak akan ada yang percaya kalau kamu pernah mengisi kenangan bersamaku, kucing tampan. Well, terimakasih ya, karena kamu telah mengajariku tentang banyak hal.

Sekarang, boleh kan kalau aku tertawa lepas?

Oke ini menyedihkan sebenarnya.


.

Fin.

Note : Ai..ai? alo semwah? apa kabar yo?! rasanya melawan kemalasan itu sesuatu sekali yah. ada beberapa benih ff yang udah aku persiapin ta-pi terbengkalai, shit! belum sempat aku lanjut tauk lantaran ide sama niat tersendat-sendat muluk. kumaha ini teh? well, tenang… (sok populer) aku berjuang buat selsain yang satu ini. anyway, abis baca-baca prompt sama denger ost. clannad (anime) dan nonton per-episodenya.. aku terilhami buat bikin something like that. yg diatas sono noh… /aslinya tu ff amburadul/ hahaxx~ keii…biiiiigthankz dah Clannad. :*

Yaudah gitu aja salam kangen nya. ini aku jelang sahur malah pos begini.. aduh aduh.. XD Jaaaa~ne..

Iklan

2 thoughts on “[Vignette] Magical Veil

  1. AAAAAAAAAAAA /histeris alay mode on/ wkwk

    Jadii… itu cuma-?
    yaampunnn sumpah kirain itu bnran. Dan.. what?! Taehyung jelmaan kucing?!😰

    Btw, suka bgt sma diksinyaa hihihiii keyen keyenn👏👏 alur ceritanya jg gk ketebakk duh, dabeslah pokoknyaaa!

    Ditunggu cerita lainnya yaaa, semangattt!😉🙌

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s